PONTIANAK POST – Kabupaten Mempawah dengan kekayaan adat tradisi dan budaya masyarakatnya memiliki beragam sejarah yang menarik untuk dikupas. Salah satunya sejarah Makam Keramat Kepiting yang terletak di Kelurahan Pasir Wan Salim, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah.
Makam Keramat Kepiting memang kurang familiar bagi sebagian besar orang. Namun bagi warga setempat, Makam Keramat Kepiting telah turun-temurun dirawat dan dijaga karena memiliki nilai sejarah yang penting.
Budayawan Mempawah, Iwan mengatakan belum ada referensi yang akurat mengenai fakta sejarah yang menguak asal usul Makam Keramat Kepiting.
“Informasi atau cerita tentang Makam Keramat Kepiting ini baru sebatas cerita yang belum dapat dibuktikan secara historiografi. Cerita-cerita sudah mengakar di kalangan masyarakat setempat,” ujarnya.
Sebagian mengatakan Makam Keramat Kepiting dulunya merupakan seorang panglima perang Mempawah yang gugur dalam sebuah pertempuran heroik kala itu.
“Ada yang mengatakan Tan Karting yang merupakan bagian dari tiga Tan yakni Tan Kahfi dan Tan Baiduri,” sebutnya.
Sementara julukan Makam Keramat Kepiting yang disematkan pada pemakaman tersebut lantaran di lokasi itu banyak terdapat hewan kepiting. Menurut kepercayaan warga setempat, ada seekor kepiting berukuran besar yang pernah ditemukan oleh masayakat.
“Untuk nama yang tertulis pada batu nisan Makam Keramat Kepiting adalah Sayyed Hasyim dan Sayyed Ibrahim. Keduanya merupakan Panglima Kerajaan Mempawah yang gugur pada pertempuran antara Kerajaan Mempawah dengan Kerajaan Sambas yang berlangsung di wilayah Kuala,” paparnya.
Terlepas dari minimnya referensi sejarah Makam Keramat Kepiting, keberadaannya masuk dalam salah satu situs sejarah dan wisata religi Pemerintah Kabupaten Mempawah.
Sekitar tahun 2020 lalu, Pemerintah Kelurahan Pasir Wan Salim bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat berencana menata lokasi Makam Keramat Kepiting menjadi lokasi wisata religi yang dipadukan dengan wisata pantai dan hutan mangrove.
Upaya tersebut dimulai dengan penanaman 200 batang pohon mangrove di tepi pantai Muara Kuala Mempawah.
Bahkan saat itu, pihak pengelolaan Pokdarwis telah membangun sarana jembatan, gerbang masuk hingga jalan-jalan kayu yang mengitari wilayah tepi pantai hingga menuju ke Makam Keramat Kepiting.
Bahkan, ketika itu Pantai Makam Keramat Kepiting sempat dibuka untuk umum yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Daya tarik pengunjung baik lokal maupun luar daerah cukup besar.
Terlebih, pantai Muara Kuala Mempawah berhadapan langsung dengan laut lepas sehingga menjadi pemandangan yang indah ketika mengabadikan matahari terbenam di sore hari.
Namun, seiring perkembangan waktu, pengelolaan lokasi wisata Makam Keramat Kepiting kurang mendapatkan perhatian serius. Hingga kini, lokasi tersebut telah ditutup dan tak terurus dengan baik.(*)
Editor : A'an