PONTIANAK POST – Matahari sudah tinggi ketika tim Baznas Kecamatan Sungai Pinyuh tiba di Dusun Pak Nungkat, RT 005 RW 002, Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, Selasa (13/5). Dua jam perjalanan dari Sungai Pinyuh seakan terbayar lunas saat mereka menyaksikan langsung kondisi rumah yang akan mereka bantu.
Bangunan itu berdiri ringkih, dikelilingi tiang-tiang kayu yang sebagian telah jatuh, miring, atau lapuk termakan usia. Inilah rumah milik Yanto, seorang buruh serabutan yang tinggal bersama keluarganya di rumah yang telah ia huni selama 18 tahun.
“Dulunya rumah warga, kami beli. Sejak itu kami tinggal di sini. Tahun demi tahun rumah mulai rusak, tapi kami tidak punya biaya untuk memperbaikinya,” kata Yanto lirih, menatap ke arah rumah kayu berukuran kecil yang jadi saksi hidupnya membangun keluarga.
Yanto bukanlah warga asli Desa Sekabuk. Ia berasal dari Desa Nusapati. Ia pindah setelah menikah dengan istrinya yang berasal dari Sekabuk, dan sejak saat itu rumah ini menjadi satu-satunya tempat berteduh mereka.
“Saya kerja serabutan. Kadang dipanggil bersihkan kebun sawit, kadang lahan warga. Tapi tidak menentu, hanya kalau ada yang butuh tenaga. Untuk makan sehari-hari saja kadang sulit, apalagi perbaiki rumah,” tuturnya dengan nada pasrah.
Bagi Yanto dan keluarganya, bantuan ini lebih dari sekadar material. Ini adalah bentuk harapan. Di tengah keterbatasan, rumah baru yang kokoh akan menjadi simbol bahwa mereka tidak sendiri.
“Terima kasih kepada Baznas Kabupaten Mempawah. Kami sangat bersyukur. Bantuan ini seperti cahaya di tengah kesulitan kami,” ucap Yanto, menahan haru.
Kondisi rumah Yanto yang nyaris roboh itulah yang kemudian menjadi perhatian Baznas Kecamatan Sungai Pinyuh. Ketua Baznas Sungai Pinyuh, Ustad Marzuki Kadri, menyatakan bahwa rumah Yanto termasuk salah satu penerima bantuan bedah rumah tahun anggaran 2024.
“Rumah ini sangat tidak layak huni. Banyak bagian sudah rusak parah dan bisa membahayakan penghuninya. Karena itu, kami akan berikan dua opsi: rehabilitasi dengan memanfaatkan bahan lama yang masih bisa digunakan, atau merobohkan total dan membangun ulang,” jelas Ustad Marzuki.
Sesuai kebijakan sebelumnya, Baznas akan memberikan bantuan sebesar Rp15 juta. Namun, menurutnya, tidak menutup kemungkinan akan ada penyesuaian anggaran jika harga bahan bangunan di lapangan mengalami kenaikan.
“Untuk sekarang, kita tetap pakai pagu lama, sambil melihat kondisi di lapangan. Biaya ini hanya untuk bahan bangunan, karena proses pengerjaan akan dilakukan secara swadaya, dibantu masyarakat sekitar,” tambahnya.
Bukan hanya bantuan dana, semangat gotong royong juga menjadi kekuatan utama dalam program ini. Baznas menargetkan proses pembangunan selesai dalam dua bulan, tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya, rumah ukuran 4x6 meter bisa rampung dalam waktu satu bulan jika dikerjakan bersama-sama.
Rumah Yanto menjadi titik terakhir dari tiga lokasi bedah rumah tahun ini, setelah sebelumnya dilaksanakan di Desa Panjang (Kecamatan Mempawah Timur) dan Desa Peniraman (Kecamatan Sungai Pinyuh).
"Untuk anggaran tahun 2025, Baznas belum bisa memastikan karena belum masuk pembahasan," tuntas Marzuki.(wah)
Editor : Hanif