PONTIANAK POST - Kontingen Kabupaten Mempawah hanya mampu meraih delapan medali pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kalimantan Barat tahun 2025 di Kota Pontianak. Hasil tersebut menempatkan Mempawah di peringkat lima klasemen akhir Popda Kalbar 2025. Cabang balap sepeda menyelamatkan wajah Mempawah dengan meraih satu-satunya medali emas.
Delapan medali yang diraih kontingen Popda Mempawah diperoleh dari cabang balap sepeda, atletik, karate, wushu dan taekwondo. Satu-satunya medali emas disumbangkan oleh atlet pelajar Athaya Aufa Rafiqi pada cabang lomba balap sepeda. Sementara 3 medali perak dari cabang wushu, atletik 2 perunggu, karate 1 perunggu dan taekwondo 1 perunggu.
Pada klasemen akhir Popda Kalbar 2025, juara umum menjadi milik tuan rumah Kota Pontianak (18 emas, 9 perak, 4 perunggu), posisi kedua Kayong Utara (4 emas, 1 perak, 3 perunggu), posisi tiga Sambas (3 emas, 0 perak, 7 perunggu).
Pada ajang Popda Kalbar 2025 yang berlangsung pada 23-26 Juni, kontingen Kabupaten Mempawah berjumlah 36 orang terdiri dari 20 atlet pelajar dan 16 pelatih serta official. Para atlet pelajar Mempawah turun pada cabang olahraga atletik, balap sepeda, panahan, taekwondo, karate dan wushu.
Menurut insan olahraga di Kabupaten Mempawah, pencapaian tersebut patut dievaluasi. Mengingat, Mempawah harus berada di bawah dua kabupaten baru seperti Kayong Utara (peringkat ke-2) dan Landak (peringkat ke-4). Mempawah yang dulunya menjadi salah satu daerah pencetak atlet-atlet berprestasi, kini semakin pudar dan tertinggal dibandingkan daerah lainnya.
Mantan Atlet Senior Mempawah, Marsupandi menilai dunia olahraga Kabupaten Mempawah sudah semakin terpuruk dan tertinggal dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Barat.
“Mempawah sudah tertinggal dibandingkan Sambas, Kayong Utara. Ini fakta dan menjadi keresahan bagi kita selaku insan olahraga di Mempawah,” pendapat Marsupandi menanggapi hasil POPDA, Jumat (27/6) di Mempawah.
Menurut Marsupandi yang juga pelatih atletik itu, proses pembinaan menjadi kunci utama dalam prestasi olahraga. Persoalan pembinaan, tentu menjadi tanggungjawab dan kewenangan KONI daerah untuk melaksanakan program strategis yang dapat memajukan dunia olahraga.
“KONI Kabupaten Mempawah sejauh ini tak maksimal. KONI tak memiliki terobosan dan program strategis untuk menghasilkan prestasi bagi dunia olahraga di Kabupaten Mempawah,” tuturnya.
Paling tidak, lanjut Marsupandi, KONI dapat melakukan koordinasi dan menjalin komunikasi yang baik dengan para pengurus Cabang Olahraga (Cabor) untuk melaksanakan program strategis. Jangan sampai KONI terkesan acuh hingga mengabadikan tupoksinya.
“Sekarang kalau kita lihat cabor-cabor di Mempawah seperti mati suri dalam hal pembinaan atlet. Saat ini, cabor-cabor kurang mendapatkan perhatian dan pembinaan sehingga tidak ada semangat untuk meningkatkan prestasi atlet,” cecarnya.
Lebih jauh, Marsupandi mengenang prestasi dunia olahraga Kabupaten Mempawah pada tahun 1980-an dan 1990-an. Saat itu, olahraga Kabupaten Mempawah sangat disegani dengan berbagai prestasi gemilangnya.
“Maka, kita mendesak agar KONI dan pemerintah daerah lebih fokus dan serius dalam melaksanakan pembinaan olahraga. Kalau dibiarkan seperti ini terus, maka dunia olahraga Kabupaten Mempawah akan semakin tertinggal,” pungkasnya.(wah)
Editor : Hanif