Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Zulkarnain, Buruh Harian Lepas di Mempawah, Menanti Rumah Layak Huni untuk Keluarganya

Wahyu Ismir Jartha Kusuma • Selasa, 1 Juli 2025 | 13:52 WIB
SEBELUM ROBOH: Rumah tak layak huni milik Zulkarnain sebelum dirobohkan.
SEBELUM ROBOH: Rumah tak layak huni milik Zulkarnain sebelum dirobohkan.

PONTIANAK POST - Di sebuah sudut Desa Kuala Secapah, Kecamatan Mempawah Hilir, tersisa sebidang tanah kosong. Di situlah dulu berdiri rumah sederhana milik Zulkarnain (47), seorang buruh harian lepas. Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang penuh cerita hidupnya bersama istri dan tiga anak mereka.

Rumah mungil berukuran 4x5 meter itu dulunya berdiri dengan material seadanya. Berdinding kayu simpiran, beratap daun, tiangnya dari kayu bulat, dan lantainya dari papan kelapa. Lima tahun lalu, rumah itu diberikan oleh pamannya, sebelum kemudian dijual kepadanya dengan harga yang sangat murah, hanya Rp3 juta.

“Waktu itu, saya bersyukur sekali bisa punya rumah sendiri. Meskipun sederhana, setidaknya kami punya tempat berteduh,” kenang Zulkarnain.

Namun, usia dan cuaca telah menggerus kekuatan rumah itu. Tiang-tiang penyangganya mulai rapuh, serpihan kayu lapuk sering jatuh dari langit-langit, dan setiap kali angin kencang bertiup, rasa waswas menghantui malam-malam mereka. Hingga akhirnya, seminggu yang lalu, dengan hati berat, Zulkarnain memutuskan merobohkan rumah itu.

Sejak saat itu, Zulkarnain dan keluarganya mengungsi di rumah mertuanya. Bukan tanpa kendala, anak-anaknya yang telah terbiasa dengan suasana rumah lama merasa tidak nyaman, meskipun kini tinggal di tempat yang lebih aman.

“Anak saya yang kecil sering minta pulang. Dia belum bisa menerima kalau rumah kami sudah tak ada,” kata Zulkarnain, menahan haru.

Kini, tanah bekas rumah itu masih kosong. Dengan penghasilan yang tak menentu sebagai buruh serabutan, membangun rumah baru adalah mimpi yang terasa jauh. Namun, Zulkarnain tak kehilangan harapan. Ia berharap ada bantuan dari pemerintah melalui program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

“Saya cuma ingin rumah sederhana saja, yang penting aman dan bisa jadi tempat kami berkumpul lagi,” tuturnya. (wah)

Editor : Hanif
#mempawah #rtlh #rumah mungil #desa #rumah layak huni #tanah kosong #buruh harian lepas