Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Blue Impact Collective 2025: Kolaborasi Anak Muda, Masyarakat, dan Komunitas Tuli Jaga Pesisir Mempawah

Salman Busrah • Rabu, 17 Desember 2025 | 14:18 WIB
Photo
Photo

MEMPAWAH - Isu lingkungan tak lagi cukup dijawab dengan simbolik. Melalui Blue Impact Collective 2025, kolaborasi, inklusi, dan kreativitas dirajut menjadi aksi nyata menjaga pesisir. Kegiatan ini berlangsung di Pantai Tanjung Burung, Kabupaten Mempawah, Sabtu, 13 Desember 2025, dengan melibatkan anak muda, masyarakat lokal, hingga komunitas tuli.

Mengusung tema Kolaborasi, Konservasi, dan Inklusi, Blue Impact Collective 2025 menghadirkan rangkaian edukasi dan praktik lapangan. Bersama Maktab Tuli As-Sami, peserta dikenalkan pada bahasa isyarat dasar sebagai langkah membuka ruang komunikasi yang setara dan ramah bagi semua.

Keterlibatan masyarakat lokal menjadi kekuatan kegiatan ini. Ibu-ibu PKK dan pemuda Karang Taruna Kelurahan Tanjung mengolah limbah sabut kelapa menjadi pot tanam ramah lingkungan, mengubah sisa produksi menjadi nilai guna sekaligus peluang ekonomi berbasis komunitas.

Aksi dilanjutkan dengan pembibitan mangrove menggunakan cup bekas dari coffee shop. Pendekatan reuse ini menegaskan bahwa upaya menjaga pesisir dapat dimulai dari praktik sederhana yang mudah direplikasi, namun berdampak jangka panjang bagi ekosistem.

Koordinator kegiatan Blue Impact Collective 2025, Aisyah Maulidia, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk sinergi lintas pihak dalam merespons tantangan pesisir.

Photo
Photo

“Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian pesisir bisa dilakukan bersama, melibatkan banyak peran, dan tetap berpihak pada keberlanjutan lingkungan serta masyarakat,” ujar Aisyah Maulidia, seraya mengapresiasi dukungan Jurusan Ilmu Kelautan, LPM Kelurahan Tanjung, Babinkamtibmas, Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan, Karang Taruna, Maktab Tuli As-Sami, Siklus Bijak dan Suara Naraya.

Sementara itu, Usep Gunawan, Ketua Yayasan Konservasi Laut Khatulistiwa, menegaskan bahwa setiap agenda dirancang untuk saling terhubung dan berdampak nyata.

“Kami ingin isu pesisir dipahami secara utuh - inklusif secara sosial, kreatif dalam pendekatan, dan berkelanjutan secara ekologis. Dari edukasi iklim, pengolahan limbah, hingga mangrove, semuanya bagian dari satu gerakan,” jelasnya.

Blue Impact Collective 2025 menjadi pengingat bahwa menjaga laut dan pesisir bukan kerja satu kelompok, melainkan gerakan bersama yang tumbuh dari kolaborasi, kepedulian, dan keberanian untuk bergerak.(r)

Editor : Salman Busrah
#konservasi #lingungan