19 Persen Kelelawar di Kalbar Terpapar Virus Nipah, Kemenkes Minta Dinkes Cek Penderita Influenza hingga ISPA

Hanif PP • Dipublikasikan Senin, 2 Februari 2026 | 11:31 WIB
Ilustrasi Peta Virus Nipah Kelelawar di Kalbar
Ilustrasi Peta Virus Nipah Kelelawar di Kalbar

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat masuk wilayah merah kewaspadaan virus Nipah setelah peneliti menemukan antibodi virus mematikan itu pada satwa liar di daerah ini. Studi serologis menunjukkan sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus di Kalbar terpapar virus Nipah, meskipun belum ditemukan pada hewan ternak seperti babi.

Temuan tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti. Ia menegaskan, meski hingga kini belum ada warga Indonesia yang terinfeksi, keberadaan virus di alam tidak bisa dianggap sepele.

“Virus Nipah sudah terbukti bersirkulasi pada satwa liar di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. Ini menjadi peringatan serius karena potensi penularan ke manusia selalu ada,” kata Indi, kemarin (1/2).

Virus Nipah pertama kali diidentifikasi di Malaysia pada 1998 dan sejak itu menyebabkan wabah berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penyakit ini termasuk genus Henipavirus dengan tingkat kematian tinggi dan berdampak luas terhadap kesehatan, sosial, serta ekonomi.

Kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus, menjadi reservoir alami virus ini. Yang mengkhawatirkan, kelelawar dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, sehingga sulit dideteksi secara kasat mata.

Kalbar Rawan Spillover

Indi menjelaskan, kondisi ekologis Indonesia, termasuk Kalimantan Barat, sangat memungkinkan terjadinya spillover atau lonjakan penularan dari hewan ke manusia. Faktor pendorongnya antara lain keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman penduduk, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa.

“Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” ujarnya.

Selain Kalbar, deteksi molekuler melalui metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara juga mengonfirmasi keberadaan genom virus Nipah. Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di Jawa dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.

 

Kemenkes Waspada

Merespons potensi ancaman ini, Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran kepada dinas kesehatan, fasilitas layanan kesehatan, dan UPT Kekarantinaan Kesehatan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus influenza-like illness (ILI), ISPA, pneumonia, hingga meningitis.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut skrining telah diperketat di pintu masuk negara, termasuk bandara. Pemerintah juga menyiapkan reagen untuk mendeteksi virus Nipah di laboratorium Kemenkes seluruh Indonesia.

“Kalau ada pasien dengan batuk yang tidak sembuh-sembuh, akan diskrining apakah karena influenza, Covid-19, atau Nipah,” ujarnya, Minggu (1/2).

Menkes juga mengingatkan masyarakat, khususnya di daerah dengan populasi kelelawar tinggi seperti Kalbar, agar berhati-hati mengonsumsi buah yang terbuka atau bekas gigitan kelelawar.

“Penularannya bisa lewat buah yang sudah digigit kelelawar karena ludahnya mengandung virus,” katanya.

Karantina Kalbar Perketat Perbatasan

Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Barat juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya penyakit hewan menular strategis, khususnya virus Nipah. Langkah ini dilakukan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan usaha peternakan di Kalbar.

Virus Nipah menjadi perhatian serius karena bersifat zoonosis atau dapat menular dari hewan ke manusia. Virus ini dibawa oleh kelelawar pemakan buah dan dapat menular ke hewan seperti babi, lalu ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau produk yang tercemar. Gejalanya mulai dari demam dan nyeri otot hingga gangguan pernapasan, bahkan dapat berkembang menjadi radang otak dengan tingkat kematian tinggi.

Kepala BKHIT Kalbar, Ferdi, mengatakan peningkatan kewaspadaan merupakan bagian dari tugas karantina untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit berbahaya di wilayah Kalimantan Barat. “Kami menginstruksikan seluruh satuan pelayanan memperketat pengawasan lalu lintas hewan, produk hewan, barang, dan orang, serta memperkuat koordinasi lintas instansi,” ujarnya, Sabtu (31/1).

Tanpa Vaksin, Pencegahan Jadi Kunci

Indi menegaskan hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk virus Nipah. Penanganan hanya bersifat suportif, sehingga pencegahan menjadi langkah paling penting. BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di daerah-daerah rawan, termasuk Kalimantan Barat.

Pendekatan One Health, kolaborasi lintas sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, dinilai menjadi strategi utama menghadapi ancaman Nipah.

“Tantangan terbesar adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi,” pungkasnya. (wan/lyn/aph)

Editor : Hanif
virus nipah dinkes kelelawar kemenkes