PONTIANAK POST — Upaya memperkuat kapasitas perempuan muda dalam menghadapi krisis iklim terus digencarkan. Salah satunya melalui workshop yang digelar Gemawan bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas terhadap Krisis Iklim” pada 27–28 Maret 2026 di Aula Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah.
Kegiatan ini melibatkan puluhan peserta perempuan muda dari tiga desa, yakni Desa Sekabuk, Desa Bumbun, dan Desa Suak Barangan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Pemerintah Kecamatan Sadaniang, kepala desa, serta perangkat desa dari ketiga wilayah.
Pegiat Gemawan, Rahma, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan bagian akhir dari rangkaian Program REDA yang telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun di tiga kabupaten, yakni Mempawah, Kapuas Hulu, dan Kubu Raya.
“Melalui workshop ini, kami menyampaikan hasil riset yang telah dilakukan selama program berjalan. Kami ingin memastikan bahwa hasilnya tidak berhenti sebagai penelitian, tetapi bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak,” ujarnya.
Rahma menambahkan, selain memaparkan hasil penelitian, pihaknya juga memperkenalkan modul pelatihan yang dirancang khusus untuk meningkatkan kepemimpinan perempuan muda, terutama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat komunitas.
Menurutnya, riset yang dilakukan mencakup kajian tentang peran perempuan muda dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk analisis perubahan tutupan lahan di wilayah desa. Hasilnya menunjukkan adanya dinamika lingkungan yang signifikan di ketiga desa tersebut.
“Perempuan muda memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Karena itu, penting untuk mendorong mereka agar lebih aktif terlibat dalam upaya menghadapi krisis iklim,” jelasnya.
Rahma juga berharap, hasil workshop dan modul pelatihan yang telah disusun dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa dan kecamatan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan berbasis data dan kebutuhan lokal.
“Kami berharap ini bisa ditindaklanjuti dalam bentuk program nyata di desa. Selain itu, kelompok perempuan muda yang telah terbentuk juga diharapkan terus berkembang,” katanya.
Ia turut menyoroti sejumlah tantangan lingkungan yang dihadapi masyarakat, seperti musim kemarau berkepanjangan, keterbatasan air bersih, hingga dampak kabut asap yang dirasakan warga. Kondisi ini dinilai semakin menegaskan pentingnya penguatan kapasitas komunitas dalam menghadapi perubahan iklim.
Sebagai penutup, Rahma berharap modul yang telah disusun dapat menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan bagi generasi muda.
“Modul ini diharapkan bisa digunakan untuk mengedukasi dan melatih generasi berikutnya agar lebih sadar dan terlibat dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” pungkasnya. (wah)
Editor : Hanif