PONTIANAK POST - Rencana pengembangan industri aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mulai diikuti persiapan infrastruktur energi. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyiapkan proyek pembangkit listrik yang akan memasok kebutuhan energi bagi smelter aluminium yang tengah dikembangkan di wilayah tersebut.
Proyek pembangkit ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi industri mineral nasional sekaligus mendukung pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, mengatakan proyek tersebut merupakan penugasan dari MIND ID kepada perseroan. Pembangkit listrik itu nantinya akan menopang kebutuhan energi smelter aluminium yang dikembangkan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
“Proyek ini disiapkan untuk mendukung pengembangan hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah,” ujar Arsal di Jakarta, Senin (6/4). Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menambahkan hingga saat ini proyek pembangkit listrik di Mempawah masih berada pada tahap penjajakan dan pencarian mitra strategis.
Menurut dia, minat investor terhadap proyek tersebut cukup besar. Sejumlah calon mitra berasal dari berbagai negara, seperti China, Korea Selatan, dan Jepang, serta dari kalangan pengusaha nasional. “Kami masih dalam proses penjajakan dengan beberapa calon mitra, baik dari luar negeri maupun domestik,” kata Turino.
Baca Juga: Selat Hormuz Jadi Penentu Gencatan Senjata Iran dan AS, Dua Kapal RI Masih Tertahan
PTBA menargetkan pembangunan fisik pembangkit listrik tersebut dapat dimulai pada awal 2027. Pembangunan itu direncanakan berjalan paralel dengan proyek smelter aluminium agar kebutuhan energi dapat terpenuhi saat fasilitas pengolahan mulai beroperasi. “Target kita awal 2027 sudah mulai pembangunan fisik,” ujarnya.
Selain proyek di Mempawah, PTBA juga menyiapkan pengembangan tambang batu bara Ombilin di Sumatera Barat sebagai bagian dari strategi ekspansi perseroan. Arsal menyebut tambang Ombilin masih memiliki cadangan sekitar 102 juta ton batu bara yang berpotensi dioptimalkan seiring perbaikan harga komoditas tersebut. Dari total cadangan itu, sekitar 2 juta ton berada di tambang terbuka (open pit), sedangkan sekitar 100 juta ton merupakan tambang bawah tanah.
Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebelumnya juga mendorong percepatan reaktivasi tambang Ombilin. Jika kembali beroperasi, tambang tersebut diperkirakan dapat menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja.
Direktur Operasi dan Produksi PTBA, Ilham Yacob, menjelaskan saat ini tahapan yang tengah berjalan adalah penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Ia berharap proses penyusunan amdal dapat diselesaikan dalam waktu sekitar enam bulan sehingga aktivitas penambangan di area open pit dapat dimulai pada akhir 2026.
“Harapannya di akhir 2026 kita sudah mulai bisa menambang di open pit Ombilin,” kata Ilham. Selain penyusunan amdal, PTBA juga menyiapkan studi kelayakan serta berbagai proses operasional lainnya, termasuk penunjukan kontraktor yang berpengalaman untuk tambang bawah tanah. (ant)
Editor : Hanif