PONTIANAK POST – Warga Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah mengeluhkan dampak pencemaran lingkungan yang diduga akibat limbah dari aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Warga mendesak agar dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan limbah dapur MBG yang dikelola Yayasan Lentera Pangan Borneo itu.
Menindaklanjuti keluhan warga terkait limbah dapur MBG, Pemerintah Desa Sungai Batang memfasilitasi rapat koordinasi (rakor), Rabu (15/4) di Balai Desa Sungai Batang. Pertemuan itu dihadiri Kepala Desa, Mahyus, BPBD, Pengelola Dapur MBG, serta masyarakat terdampak limbah.
Ketua BPD Sungai Batang, Karmiji mengungkapkan keluhan masyarakat terkait limbah dapur MBG di Desa Sungai Batang sudah berlangsung lama. Hanya saja, persoalan itu baru dibahas hingga melibatkan pemerintah desa setempat.
Baca Juga: IKAMI Mempawah Soroti Dapur MBG, Minta Pengawasan Ketat dan Pemenuhan Standar Kesehatan
“Saya termasuk warga yang terdampak limbah dapur MBG yang dikelola oleh Yayasan Lentera Pangan Borneo. Persoalan ini sudah cukup lama dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Karmiji, pencemaran akibat limbah dapur MBG itu terlihat dari perubahan warna hingga bau menyengat pada air parit dilingkungan masyarkaat.
“Air parit menjadi bau busuk menyengat. Bahkan, bau busuk limbah itu masuk ke dalam rumah,” bebernya.
Baca Juga: Empat Dapur MBG di Kapuas Hulu Sempat Ditutup, Kantongi SLHS Tapi Masih Belum Beroperasi
Masih disampaikan Karmiji, pencemaran lingkungan itu dipastikan mengganggu aktivitas warga Desa Sungai Batang. Terlebih, air parit yang tercemar merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Warga sangat ketergantungan dengan air parit. Mulai dari mencuci, mandi hingga wudhu menggunakan air parit,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sungai Batang, Mahyus mendesak agar pengelola dapur MBG menghentikan aktivitas membuang limbah ke parit. Mahyus berpandangan, sistem pengelolaan limpah dapur MBG yang ada masih belum optimal dan sesuai standar yang berlaku.
“Saya minta agar limbah dapur MBG jangan dibuang ke parit lagi. Karena, air limbah yang dialirkan ke parit masih dalam kondisi kotor. Dampaknya dirasakan warga hingga radius sekitar 200 meter,” sebutnya.
Untuk itu, Kades mendesak agar pengelola dapur MBG segera melakukan pembenahan, khususnya pada sistem pengolahan limbah, agar tidak lagi terjadi mencemari lingkungan masyarakat.
“Kita tidak mempersoalkan operasional pengelolaan dapur MBG. Dengan catatan, pihak pengelola dapat memproses limbah tersebut dengan baik hingga tidak menimbulkan dampak pencemaran terhadap lingkungan masyarakat Desa Sungai Batang,” tegasnya.
Perwakilan Yayasan Lentera Pangan Borneo, Ferdian, menyampaikan permohonan maaf kepada warga Desa Sungai Batang yang terdampak limbah dapur MBG. Dia memastikan kesiapan pihaknya untuk menindaklanjuti permasalahan pencemaran limbah tersebut.
Sementara itu, mitra MBG Desa Sungai Batang, Syahrul, mengakui adanya kelemahan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), termasuk adanya kebocoran pada sistem yang ada.
“Kami pastikan akan segera dilakukan evaluasi dan perbaikan pada sistem IPAL. Agar pencemaran yang terjadi di parit-parit di lingkungan masyarakat bisa teratasi dengan baik,” sebutnya. (wah)
Editor : Miftahul Khair