PONTIANAK POST – Pencemaran lingkungan masyarakat Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah akibat aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah sangat meresahkan. Selain menyebabkan perubahan warna air, aroma bau busuk menyengat hingga radius seratus meter di pemukiman masyarakat.
“Bau busuk menyengat ini terjadi sepanjang hari. Sejak pagi hingga malam hari bau busuk sangat mengganggu. Terutama pada malam hari, bau busuk sangat pekat,” lirih warga Desa Sungai Batang, Saleh kepada wartawan, Kamis (16/4) siang.
Menurut Saleh yang juga berprofesi sebagai Guru Ngaji itu, pencemaran air itu menyebabkan dirinya tak dapat menggunakan air parit untuk keperluan sehari-hari. Muali dari keperluan mandi, mencuci hingga wudhu.
“Sejak terjadi pencemaran, air parit sudah tak bisa digunakan secara total. Biasanya anak-anak murid wudhu di parit ini, sekarang sudah tidak bisa lagi untuk wudhu. Kami terpaksa menggunakan air hujan, bahkan saya harus membeli air bersih untuk keperluan sehari-hari,” sesalnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sungai Batang, Mahyus memastikan pihaknya telah menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait pencemaran limbah dari dapur MBG tersebut. Pemerintah desa setempat telah melakukan rapat koordinasi dengan memanggil semua pihak terkait.
“Dari hasil pertemuan dengan pihak pengelola dapur MBG, mereka mengakui adanya kelalaian hingga menyebabkan limbah dari dapur MBG mencemari lingkuingan masyarakat Desa Sungai Batang,” ungkapnya.
Kemudian, lanjut Mahyus, pihaknya juga telah mendapatkan solusi dan kesepakatan dengan pengelola dapur MBG. Yakni, pihak dapur MBG berjanji tidak akan membuang limbah ke parit-parit warga, serta akan dilakukan penyedotan limbah yang mencemari lingkungan masyarakat dengan menggunakan mobil tangki.
“Namun, sampai pagi ini (kamis) kami mendapatkan laporan masyarakat bahwa pihak dapur MBG masih membuang limbah di parit. Dan kami cek dilapangan, tidak ada mobil tangki untuk menyedot limbah yang mencemari parit-parit warga. Jadi, kami menilai pihak dapur MBG belum sepenuhnya menjalankan komitmen,” cecarnya.
Perwakilan Yayasan Lentera Pangan Borneo, Feriyandi mengaku telah berkoordinasi dengan mitra MBG dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mempawah. Pihaknya pun memastikan telah menjalankan rekomendasi yang disampaikan Dinas LH.
“Rekomendasi dari tim LH yakni, perlu dilakukan penambahan filter agar limbah yang keluar lebih bersih, jernih dan steril. Kemudian, membuat sumur resapan untuk menampung air hasil pembuangan agar tidak mengalir ke pemukiman masyarakat. Rekomendasi ini sudah kami laksanakan,” ungkapnya.
Menurut Feriyandi, pihaknya telah melakukan penambahan filter dan menghadirkan tim teknis yang akan mengatasi kendala pada IPAL. Dengan begitu, dia berharap pencemaran lingkungan masyarakat Desa Sungai Batang tidak terulang lagi.
“Kami juga telah membangun tiga titik sumur resapan. Jadi, nanti semua air yang dihasilkan dari dapur akan ditampung dalam sumur resapan. Dan kalaupun sumur resapan sudah penuh akan dilakukan penyedotan,” bebernya.
Lebih lanjut, dia memastikan akan bertanggung jawab penuh atas pencemaran lingkungan di Desa Sungai Batang. Sebagai bentuk tanggungjawab sosialnya, pihak pengelola dapur akan memberikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak pencemaran lingkungan.
“Kami akan siapkan air bersih dari pegunungan untuk masyarakat terdampak. Mudah-mudahan air bersih tersebut dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Kalau nanti masih ada yang kekurangan, akan kami tambahkan lagi air bersihnya,” janji dia.(wah)
Editor : Miftahul Khair