PONTIANAK POST – Ratusan ribu ekor ikan budidaya milik petani keramba di Sungai Mempawah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mati mendadak setelah warna air sungai berubah secara drastis dari cokelat keruh menjadi jernih kebiru-biruan, Rabu (10/6/2026). Peristiwa yang terjadi hanya dalam hitungan jam itu menyebabkan kerugian besar bagi pembudidaya ikan dan memicu kekhawatiran warga terhadap kualitas lingkungan sungai.
Fenomena tersebut mulai terdeteksi menjelang siang hari. Para petani yang sejak pagi beraktivitas seperti biasa mendapati warna air sungai berubah tidak seperti biasanya. Tak lama kemudian, ikan-ikan di dalam keramba mulai muncul ke permukaan dan tampak kesulitan bernapas sebelum akhirnya mati secara massal.
Ikan Mati dalam Hitungan Jam
Salah seorang pembudidaya ikan di Desa Pasir, Adi, mengaku perubahan warna air terjadi sangat cepat. Air Sungai Mempawah yang selama ini dikenal berwarna cokelat keruh tiba-tiba berubah menjadi lebih jernih dengan semburat kebiru-biruan.
"Biasanya air sungai keruh kecokelatan. Tiba-tiba menjadi jernih. Kami langsung merasa ada yang tidak biasa," katanya.
Kecurigaan para petani terbukti ketika ribuan ikan mulai mengapung di permukaan air. Dalam waktu singkat, kematian ikan terjadi hampir di seluruh keramba yang berada di sepanjang aliran Sungai Mempawah.
Adi mengaku mengalami kerugian besar akibat kejadian tersebut. Dari sekitar 60 ribu ekor ikan yang dibudidayakannya, hanya sekitar 500 ekor yang berhasil bertahan hidup.
"Jumlah bibit yang saya masukkan sekitar 60 ribu ekor. Sekarang yang tersisa hanya sekitar 500 ekor," ujarnya.
Untuk mengurangi kerugian, sebagian petani terpaksa memanen ikan lebih awal. Namun sebagian besar ikan yang mati tidak dapat dimanfaatkan dan harus dibuang.
Mata Pencaharian Petani Terancam
Bagi para petani keramba, kematian massal ikan bukan sekadar kehilangan hasil panen. Banyak di antara mereka yang baru beberapa bulan menebar benih dan berharap hasil panen menjadi sumber penghasilan keluarga.
Kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Selain kehilangan ikan siap panen, para petani juga kehilangan modal usaha yang selama ini dikumpulkan secara bertahap.
Sebagian pembudidaya kini menghadapi ketidakpastian untuk memulai kembali usaha mereka karena keterbatasan modal dan belum diketahui secara pasti penyebab kematian ikan tersebut.
Pemerintah Bentuk Tim Investigasi
Merespons kejadian itu, Pemerintah Kabupaten Mempawah membentuk tim investigasi gabungan yang melibatkan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Mempawah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat, serta Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Kalimantan Barat.
Tim telah turun ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan, berdialog dengan petani, serta mengambil sampel air dan bangkai ikan guna dilakukan pengujian laboratorium.
Kepala DPKPP Kabupaten Mempawah Arifin meminta masyarakat tidak berspekulasi sebelum hasil laboratorium keluar.
"Sampel air dan ikan sudah diambil untuk dilakukan uji laboratorium. Hasilnya nanti menjadi dasar untuk mengungkap penyebab kematian massal ikan dan faktor yang paling dominan," katanya.
Menurut Arifin, kematian ikan dalam jumlah besar secara tiba-tiba merupakan indikasi adanya perubahan kualitas air yang perlu ditelusuri secara ilmiah.
Warga Khawatir Kualitas Air Menurun
Di tengah proses investigasi, persoalan baru muncul akibat banyaknya bangkai ikan yang mencemari aliran Sungai Mempawah. Warga yang tinggal di bantaran sungai mulai mengeluhkan munculnya bau busuk yang menyengat.
Ilyas, warga Jalan Bawal, mengatakan aroma tidak sedap mulai tercium sejak siang hingga sore hari setelah ribuan ikan mati mengapung di sungai.
"Air sungai menimbulkan aroma busuk. Kami khawatir kalau kondisi ini berlangsung lama bisa mengganggu kebutuhan air bersih masyarakat," ujarnya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan pembersihan sungai untuk mencegah dampak pencemaran yang lebih luas.
Pemkab Siapkan Bantuan bagi Petani
Bupati Mempawah Erlina mengatakan pemerintah daerah memahami beban yang sedang dihadapi para petani keramba.
"Kami memahami kondisi yang dirasakan para pembudidaya. Ini bukan kerugian kecil dan pemerintah hadir untuk mencari solusi bersama agar masyarakat bisa bangkit kembali," katanya.
Berdasarkan laporan awal, ikan mas menjadi komoditas yang paling banyak mengalami kematian karena lebih sensitif terhadap perubahan kualitas air dibandingkan jenis ikan lainnya.
Pemerintah Kabupaten Mempawah juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk mengupayakan bantuan bibit ikan bagi para petani yang terdampak.
Selain itu, pemerintah menyiapkan langkah jangka panjang berupa pemantauan kualitas air secara berkala, penataan zonasi keramba, serta program pemulihan daerah aliran Sungai Mempawah dari hulu hingga hilir.
Menunggu Jawaban di Balik Misteri Sungai Mempawah
Hingga kini, penyebab pasti perubahan warna air Sungai Mempawah yang diikuti kematian massal ikan masih menjadi misteri. Pemerintah dan masyarakat menunggu hasil uji laboratorium yang diharapkan dapat menjawab penyebab fenomena tersebut.
Bagi para petani keramba, hasil investigasi bukan sekadar penjelasan ilmiah. Jawaban atas peristiwa itu menjadi harapan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi dan merenggut mata pencaharian yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga mereka. (wah)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro