PONTIANAK POST-Meski menyandang status sebagai cagar budaya, kondisi Rumah Adat Turun Temurun di Kabupaten Mempawah ini terkesan memprihatinkan. Padahal, rumah panggung Melayu yang dibangun pada tahun 1895 itu merupakan salah satu peninggalan sejarah berharga yang merekam perjalanan budaya Melayu dari masa ke masa.
Dikutip dari laman mempawahtourism, Rumah Adat Turun Temurun itu merupakan peninggalan sejarah berupa bangunan rumah panggung Melayu yang berdiri sejak tahun 1895. Rumah ini dibangun oleh sesepuh bernama Umar bin Husin di wilayah Desa Mendalok, Jalan M. Yasin RT 05 RW 02, Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah.
Bangunan ini menjadi salah satu saksi perjalanan panjang budaya Melayu di Kalimantan Barat. Selain bernilai sejarah, rumah adat ini juga telah ditetapkan sebagai bagian dari cagar budaya yang mendapat perhatian pemerintah, termasuk dukungan pemeliharaan dari Balai Pelestarian Nilai Budaya pada tahun 2014.
Baca Juga: Pesona Tersembunyi Wisata Religi dan Budaya di Mempawah yang Jarang Diketahui
Pernah Difungsikan Sebagai Pusat Kegiatan Budaya
Seiring waktu, rumah adat ini tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi juga pernah difungsikan sebagai tempat pertemuan warga. Masyarakat setempat kerap menggunakan bangunan tersebut untuk musyawarah serta kegiatan kebudayaan Melayu.
Upaya menjadikan rumah adat ini sebagai pusat kegiatan budaya dan destinasi wisata sebenarnya telah lama digagas. Namun, keterbatasan perawatan membuat kondisi bangunan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Peran Masjid Jami’atus Sholihin, Pusat Dakwah Tertua di Tanjung Saleh
Perhatian Warganet: Kondisi Memprihatinkan dan Kurang Terawat
Belakangan, rumah adat ini kembali menjadi perhatian setelah sejumlah unggahan di media sosial membahas kondisinya. Salah satu akun menyebut bangunan masih berdiri kokoh, tetapi tampak sepi dan mulai terlupakan.
Komentar lain juga menilai adanya bagian bangunan yang mulai rusak dan kurang terawat. Kondisi lingkungan sekitar yang dipenuhi pepohonan kelapa semakin menambah kesan sepi dan kurang perhatian.
Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia
“Ini saksi sejarah, harusnya dirawat bukan dilupakan,” demikian salah satu unggahan di media sosial.
Harapan Pelestarian dan Perhatian Pemerintah
Warga berharap adanya perhatian lebih dari pihak terkait agar Rumah Adat Turun Temurun tidak semakin rusak dimakan waktu. Sebagai salah satu cagar budaya di Kalimantan Barat, bangunan ini dinilai memiliki nilai sejarah dan potensi besar sebagai destinasi wisata budaya.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu
Pelestarian yang berkelanjutan dinilai penting agar generasi muda tetap dapat mengenal sejarah dan warisan budaya Melayu yang ada di daerah tersebut.
Editor : Silvina