PONTIANAK POST – Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, memiliki salah satu bangunan bersejarah yang menjadi simbol kejayaan Kerajaan Mempawah, yakni Istana Amantubillah. Bangunan bercat biru muda yang masih berdiri hingga kini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga menyimpan perjalanan panjang kerajaan Melayu di pesisir Kalimantan Barat.
Berdasarkan informasi dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, nama Amantubillah berasal dari bahasa Arab yang berarti "Aku beriman kepada Allah." Nama tersebut mencerminkan kuatnya nilai-nilai Islam yang berkembang di lingkungan Kerajaan Mempawah pada masa itu.
Dibangun pada Masa Pemerintahan Gusti Jamiril
Baca Juga: Cagar Budaya Ratusan Tahun di Mempawah Ini Masih Berdiri, Tapi Kondisinya Memprihatinkan
Istana Amantubillah berlokasi di Jalan Adiwijaya, Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Menurut catatan sejarah, istana ini mulai dibangun pada 1761, bertepatan dengan masa pemerintahan Gusti Jamiril setelah menggantikan ayahnya, Upu Alinu Malinu Daeng Menambon, yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara.
Saat dinobatkan sebagai Raja Mempawah, Gusti Jamiril memperoleh gelar Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya dan memimpin Kerajaan Mempawah yang saat itu menjadi salah satu kerajaan penting di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Mengungkap Asal Nama Sambas, Dari Legenda Kerajaan hingga Menjadi Pusat Penyebaran Islam di Kalbar
Pusat Pemerintahan Dipindahkan Atas Nasihat Mufti Kerajaan
Tidak lama setelah naik takhta, Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya memindahkan pusat pemerintahan kerajaan dari Sebukit Rama ke kawasan dekat Kampung Galahirang.
Keputusan tersebut dilakukan atas nasihat Mufti Kerajaan Mempawah, Tuan Besar Habib Husain Alkadri, yang ketika itu menetap di kawasan tersebut. Di lokasi baru itulah kemudian berdiri Istana Amantubillah sebagai pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi raja beserta keluarga kerajaan.
Baca Juga: Misteri Suku Paloh di Sambas, Benarkah Ada Kerajaan Gaib dan Kisah Pesawat Hilang?
Pernah Diserang Belanda karena Menolak Tunduk
Perjalanan Kerajaan Mempawah tidak selalu berlangsung damai.Karena menolak berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, Kerajaan Mempawah menjadi sasaran serangan militer pada 1787.
Dalam catatan sejarah, serangan tersebut dipimpin oleh Mayor Amral dan Kapten Silviser atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia dengan dalih memulihkan keamanan di wilayah Mempawah.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Kerajaan Mempawah pernah melakukan perlawanan terhadap upaya penguasaan Belanda di Kalimantan Barat.
Sempat Terbakar dan Dibangun Kembali
Istana Amantubillah juga pernah mengalami musibah besar. Pada 1880, bangunan istana terbakar ketika Kerajaan Mempawah dipimpin oleh Panembahan Ibrahim Mohammad Syafiuddin, yang memerintah pada periode 1864–1892.
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1): Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak
Setelah kebakaran tersebut, istana beberapa kali menjalani proses rehabilitasi hingga akhirnya kembali berdiri pada 22 November 1922, tepat pada masa pemerintahan Panembahan Mohammad Taufik Akkamadin.
Bangunan yang berdiri saat ini merupakan hasil pembangunan kembali dengan tetap mempertahankan karakter arsitektur istana kerajaan.
Memiliki Tiga Bangunan Utama
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-2) : 60 Keluarga Kesultanan Dibawa Pergi, Banyak Tak Kembali
Kompleks Istana Amantubillah terbagi menjadi tiga bagian utama yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.
Bangunan utama dahulu digunakan sebagai tempat singgasana raja, kediaman permaisuri, dan keluarga kerajaan. Sementara itu, bangunan sayap kanan difungsikan sebagai dapur kerajaan sekaligus tempat mempersiapkan jamuan makan keluarga istana.
Adapun bangunan sayap kiri digunakan sebagai aula serta pusat administrasi pemerintahan Kerajaan Mempawah. Pembagian ruang tersebut memperlihatkan sistem pemerintahan kerajaan yang telah tertata pada masanya.
Baca Juga: Kompleks Candi Terbesar di Asia Tenggara Ternyata Ada di Jambi, Benarkah Jejak Kerajaan Sriwijaya?
Masih Menyimpan Jejak Kehidupan Kerajaan
Selain bangunan utama, kompleks istana juga menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah lainnya.
Di bagian belakang istana terdapat kolam pemandian raja dan keluarga kerajaan. Meski kini tidak lagi berfungsi akibat pendangkalan serta tertutupnya saluran air yang dahulu terhubung dengan anak Sungai Mempawah, keberadaannya masih menjadi saksi kehidupan keluarga kerajaan pada masa lalu.
Baca Juga: Bukit Vandering Bengkayang, Jejak Pos Pengintaian Belanda yang Diselimuti Beragam Cerita Misteri
Tak jauh dari kolam tersebut juga masih terdapat bekas gazebo atau tempat peristirahatan raja beserta keluarganya yang dahulu digunakan untuk bersantai.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Kini, Istana Amantubillah menjadi salah satu cagar budaya dan destinasi wisata sejarah yang penting di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Menyusuri Jejak Perantau Hadramaut Yaman yang Membangun Kerajaan Kubu di Kalbar
Bangunan ini tidak hanya menjadi pengingat kejayaan Kerajaan Mempawah, tetapi juga menjadi bukti perjalanan panjang sejarah Melayu, perkembangan Islam, serta perjuangan kerajaan-kerajaan lokal dalam menghadapi kolonialisme.
Dengan berbagai peninggalan yang masih dapat disaksikan hingga sekarang, Istana Amantubillah menjadi warisan berharga yang terus dijaga agar sejarah Mempawah tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Editor : Silvina