PONTIANAK POST - Kini Benteng Kota Batu dikenal sebagai salah satu situs bersejarah di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Namun jauh sebelum menjadi destinasi yang menyimpan jejak masa lalu, benteng ini memiliki fungsi yang sangat strategis. Ia pernah menjadi tameng untuk melindungi pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah di tengah situasi politik yang sedang bergejolak.
Tak banyak yang tahu bahwa benteng tersebut bukan dibangun untuk menghadapi serangan bangsa asing. Sebaliknya, keberadaannya berkaitan erat dengan upaya menjaga keamanan istana setelah terjadi perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan.
Baca Juga: Menguak Sejarah Benteng Kota Batu Mempawah, Benteng Pertahanan yang Lahir dari Perebutan Takhta
Informasi mengenai sejarah Benteng Kota Batu ini dipublikasikan dalam laman resmi Mempawah Tourism, yang menjelaskan latar belakang berdirinya salah satu peninggalan penting Kerajaan Mempawah tersebut.
Benteng Berdiri di Tengah Gejolak Politik Kerajaan
Benteng Kota Batu dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Adijaya Kusuma Jaya.
Pada masa itu terjadi perselisihan antara Panembahan Adijaya Kusuma Jaya dengan keponakannya, Syarif Kasim Al-Qadri dari Kerajaan Pontianak. Konflik tersebut berkembang menjadi perebutan kekuasaan yang kemudian melibatkan pemerintah kolonial Belanda.
Dengan dukungan Belanda, Syarif Kasim Al-Qadri berhasil menguasai Istana Kerajaan Mempawah dan mengambil alih pusat pemerintahan.
Baca Juga: Ziarah Batu Layang: Tradisi Tahunan yang Tumbuhkan Rasa Cinta dan Bangga Terhadap Kota Pontianak
Namun keberhasilan menguasai istana tidak serta-merta membuat keadaan kembali stabil.
Benteng Menjadi Pelindung Kawasan Istana
Lebih lanjut, setelah pengambilalihan kekuasaan, masih ada kekhawatiran akan serangan balasan dari Panembahan Adijaya Kusuma Jaya bersama para putranya yang berusaha merebut kembali pemerintahan.
Kondisi itulah yang kemudian melatarbelakangi pembangunan Benteng Kota Batu.
Benteng dibangun mengelilingi kawasan istana sebagai sistem pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan. Dengan kata lain, fungsi utamanya saat itu adalah menjaga keamanan pusat pemerintahan yang baru dikuasai.
Keberadaan benteng menunjukkan bahwa kawasan istana pada masa itu bukan hanya menjadi pusat administrasi kerajaan, tetapi juga kawasan yang harus mendapat perlindungan khusus ketika situasi politik memanas.
Baca Juga: Mengungkap Asal Nama Sambas, Dari Legenda Kerajaan hingga Menjadi Pusat Penyebaran Islam di Kalbar
Dari Benteng Pertahanan Menjadi Warisan Sejarah
Seiring berjalannya waktu, fungsi Benteng Kota Batu mengalami perubahan.
Ketika konflik telah berlalu dan sistem pemerintahan kerajaan berubah, benteng tidak lagi digunakan sebagai bagian dari pertahanan istana. Kini, yang tersisa adalah nilai sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.
Meski sebagian struktur benteng telah mengalami perubahan akibat perkembangan zaman, kisah di balik pembangunannya masih menjadi bagian penting dari sejarah Kabupaten Mempawah.
Benteng Kota Batu menjadi pengingat bahwa sebuah bangunan bersejarah tidak hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga merekam dinamika politik yang pernah terjadi di masa lampau.
Baca Juga: Misteri Suku Paloh di Sambas, Benarkah Ada Kerajaan Gaib dan Kisah Pesawat Hilang?
Melengkapi Jejak Sejarah Kerajaan Mempawah
Benteng Kota Batu merupakan salah satu dari sejumlah peninggalan Kerajaan Mempawah yang masih dikenal hingga sekarang.
Di kawasan yang sama juga terdapat berbagai situs bersejarah lainnya, seperti Istana Amantubillah, kompleks makam raja-raja Mempawah, serta Masjid Jamiatul Khair yang menjadi bagian dari perjalanan panjang kerajaan Melayu di wilayah tersebut.
Keberadaan situs-situs tersebut menjadikan Mempawah sebagai salah satu daerah di Kalimantan Barat yang masih menyimpan jejak perkembangan kerajaan Melayu dari berbagai periode.
Melalui Benteng Kota Batu, masyarakat tidak hanya melihat sisa sebuah bangunan pertahanan.
Lebih dari itu, masyarakat dapat memahami bagaimana sebuah benteng pernah memiliki peran penting sebagai pelindung pusat pemerintahan kerajaan sebelum akhirnya menjadi warisan sejarah yang terus dikenang hingga kini.
Editor : Miftahul Khair