Mempawah Dinilai Punya Modal Besar Jadi Contoh Nasional Penguatan Humanisme Religius dan Kerukunan Umat

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:04 WIB
Salah satu peserta dari Kodim melontarkan pertanyaan dalam kegiatan POLICY BRIEF Tim Peneliti Mora the Air Fund 2026. (IST)
Salah satu peserta dari Kodim melontarkan pertanyaan dalam kegiatan POLICY BRIEF Tim Peneliti Mora the Air Fund 2026. (IST)

 

PONTIANAK POST – Kabupaten Mempawah kembali mendapat perhatian sebagai salah satu daerah yang dinilai berhasil merawat kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman agama. Namun, di balik kondisi yang tampak damai, para peneliti mengingatkan pentingnya memperkuat literasi publik tentang humanisme religius agar kerukunan yang telah terbangun tidak hanya bertahan, tetapi semakin mengakar sebagai budaya masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Policy Brief Tim Peneliti MORA The Air Fund 2026 bertajuk "Penguatan Literasi Publik tentang Humanisme Religius di Kabupaten Mempawah" yang digelar di Aula Gedung PGRI Mempawah, Selasa (28/7).

Tim peneliti yang dipimpin Prof. Dr. H. Zaenuddin, MA bersama empat anggotanya kembali hadir untuk kedua kalinya di Mempawah. Mereka memperdalam kajian sekaligus meminta masukan dari berbagai pemangku kepentingan.

Baca Juga: Gerindra DPRD Mempawah Desak Evaluasi Program Daerah, Fokus Tekan Kemiskinan dan Tingkatkan IPM

Kerukunan Tidak Boleh Dianggap Selesai

Dalam forum tersebut, para peneliti berdiskusi dengan tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mempawah, serta perwakilan Kodim, Polres, dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mempawah.

Prof. Dr. H. Zaenuddin menjelaskan, pengalaman Mempawah dalam membangun hubungan harmonis antarumat beragama layak menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Menurutnya, praktik-praktik baik yang telah berlangsung selama ini perlu didokumentasikan dan diperkuat melalui kebijakan maupun literasi publik.

Baca Juga: Hari Mangrove se-Dunia 2026 di Mempawah, Ribuan Bibit Ditanam untuk Jaga Ekosistem Pesisir

Ia menambahkan, kondisi masyarakat yang terlihat aman dan nyaman di permukaan belum tentu sepenuhnya bebas dari dinamika sosial. Perubahan sikap masyarakat, hubungan antarwarga, hingga tantangan terhadap nilai toleransi dapat muncul kapan saja apabila tidak diantisipasi.

"Karena itu, penguatan literasi tentang humanisme religius menjadi sangat penting agar masyarakat memiliki daya tahan sosial dalam menghadapi berbagai perubahan," ujarnya.

Harmony Award Jadi Modal Berharga

Baca Juga: Menguak Sejarah Benteng Kota Batu Mempawah, Benteng Pertahanan yang Lahir dari Perebutan Takhta

Ketua FKUB Kabupaten Mempawah, H. Askandar, menyampaikan, Mempawah memiliki rekam jejak panjang dalam menjaga kerukunan umat beragama.

Ia mengingatkan Kabupaten Mempawah pernah menerima Harmony Award 2020 dari Menteri Agama Republik Indonesia. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Mempawah mampu membangun kehidupan yang rukun dalam keseharian maupun saat perayaan hari-hari besar keagamaan.

Menurutnya, budaya saling menghormati telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehingga berbagai aktivitas keagamaan dapat berjalan dengan aman dan damai.

Baca Juga: FKUB-Kemenag Bahas Strategi Jaga Kerukunan Umat Beragama di Mempawah

Dari Kerukunan Menuju Budaya Humanisme Religius

Meski demikian, para peneliti menilai keberhasilan tersebut tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri. Seperti daerah majemuk lainnya, Mempawah tetap membutuhkan upaya berkelanjutan untuk menjaga kualitas hubungan sosial di tengah perubahan zaman.

Penguatan praktik humanisme religius dinilai perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan. Mulai dari penyusunan kebijakan yang inklusif, pendidikan yang menanamkan nilai toleransi sejak dini, hingga gerakan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Baca Juga: MABM Mempawah Perkuat Adat Melayu, Dorong Budaya Jadi Fondasi Pembangunan Daerah Berkarakter

Dengan langkah tersebut, kerukunan tidak hanya menjadi kondisi yang dipertahankan, tetapi berkembang menjadi budaya publik yang semakin kuat. Pengalaman Kabupaten Mempawah diharapkan dapat menjadi referensi sekaligus model penguatan toleransi dan kehidupan lintas agama bagi berbagai daerah di Indonesia.

 

Editor : Silvina
fkub mempawah humanisme religius peneliti mora prof zaenudin ma Forum Diskusi