Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 10:56 WIB
Ilustrasi kedatangan 40 perahu ke Mempawah yang dipimpin oleh Opu Daeng  Manambon
Ilustrasi kedatangan 40 perahu ke Mempawah yang dipimpin oleh Opu Daeng Manambon

 

PONTIANAK POST – Tradisi Robo-robo telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Setiap tahun, ribuan warga berkumpul mengikuti rangkaian ritual, doa bersama, hingga makan saprahan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang berdirinya Kesultanan Mempawah.

Di balik kemeriahannya, Robo-robo ternyata bukan sekadar pesta budaya. Tradisi ini menyimpan kisah bersejarah tentang kedatangan seorang tokoh besar dari Sulawesi Selatan yang kemudian mengubah perjalanan sejarah Mempawah sekaligus memperkuat perkembangan Islam di wilayah tersebut.

Dilansir dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (budaya-indonesia.org), tradisi Robo-robo memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan Opu Daeng Manambon menuju Mempawah.

Baca Juga: Mengenal Opu Daeng Manambon, Bangsawan Bugis dari Kerajaan Luwu yang Berjasa Menyebarkan Islam di Kalbar

Bermula dari Kedatangan Opu Daeng Manambon

Sejarah Robo-robo berawal pada tahun 1737 Masehi atau 1148 Hijriah, ketika Opu Daeng Manambon bersama istrinya, Putri Kesumba, berlayar menuju Mempawah.

Putri Kesumba merupakan cucu Panembahan Senggaok, penguasa Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah. Kedatangan pasangan tersebut bukan tanpa alasan. Mereka datang untuk menerima estafet kepemimpinan kerajaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba yang kemudian bergelar Ratu Agung Sinuhun.

Baca Juga: Opu Daeng Manambon Jadi Raja Mempawah, Ternyata Berawal dari Konflik

Sementara itu, Opu Daeng Manambon memperoleh gelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja yang memimpin Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah.

Perjalanan menuju Mempawah dilakukan dari Kerajaan Matan, yang kini berada di wilayah Kabupaten Ketapang, menggunakan sekitar 40 perahu yang mengiringi rombongan kerajaan.

Sambutan Meriah di Muara Sungai Mempawah

Baca Juga: Menguak Sejarah Benteng Kota Batu Mempawah, Benteng Pertahanan yang Lahir dari Perebutan Takhta

Saat rombongan memasuki Muara Kuala Mempawah, masyarakat menyambut mereka dengan penuh sukacita.

Rumah-rumah penduduk di sepanjang tepian sungai dihiasi kain dan kertas berwarna-warni. Sebagian warga bahkan menyambut langsung menggunakan sampan untuk mengiringi perjalanan rombongan menuju pusat kerajaan.

Melihat sambutan hangat tersebut, Opu Daeng Manambon terharu. Ia kemudian membagikan bekal makanan yang dibawanya kepada masyarakat yang telah menunggu di sepanjang sungai.

Baca Juga: Benteng Kota Batu di Mempawah Infonya Terbuat dari Pasir Pantai, Ini Keunikannya

Momen sederhana berupa berbagi makanan inilah yang kemudian menjadi salah satu simbol kebersamaan dalam tradisi Robo-robo hingga sekarang.

Doa Memohon Keselamatan

Kedatangan Opu Daeng Manambon bertepatan dengan hari Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Baca Juga: Ketua DPD RI  Pernah Tinjau Benteng Kota Batu Mempawah, Bukti Pentingnya Warisan Sejarah Kerajaan

Di Kuala Mempawah, beliau bersama masyarakat menggelar doa bersama memohon keselamatan kepada Allah Subhanahuwata’ala agar dijauhkan dari berbagai musibah dan marabahaya.

Setelah doa selesai, seluruh rombongan menikmati makanan secara bersama-sama.Peristiwa bersejarah tersebut kemudian dikenang masyarakat sebagai awal mula lahirnya tradisi Robo-robo yang hingga kini masih diperingati setiap tahun.

Tradisi yang Terus Dilestarikan

Baca Juga: Makam Keramat Songkok di Mempawah Selalu Ramai Diziarahi, tetapi Tak Seorang Pun Tahu Siapa yang Terkubur

Hingga sekarang, masyarakat Mempawah masih mempertahankan berbagai rangkaian prosesi Robo-robo.

Ritual dimulai dengan doa bersama, ziarah, hingga pelayaran simbolis menuju muara Sungai Mempawah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan bersejarah Opu Daeng Manambon.

Tradisi ini tidak hanya diikuti keluarga Kesultanan Amantubillah, tetapi juga pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Baca Juga: Kisah Rumah Pertama di Desa Mendalok Mempawah, Warisan Perantau Sambas yang Dihuni Hingga Generasi Ketiga

Pelaksanaan Robo-robo menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya dikenang melalui buku, tetapi juga diwariskan melalui tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Editor : Silvina
opu daeng manambon ritual robo robo mempawah sejarah mempawah tradisi bersejarah Sejarah Robo Robo