Mengapa Ada Sesajen dan Ritual Buang-buang di Tradisi Robo-robo Mempawah? Ternyata Ini Tujuan dan Maknanya   

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 11:26 WIB
RITUAL BUANG-BUANG-Kepala Disporapar Kalbar Windy Prihastari menaiki kapal saat mengikuti ritual buang-buang rangkaian festival robo-robo di Kabupaten Mempawah, dua tahun lalu. (DOK PONTIANAK POST)
RITUAL BUANG-BUANG-Kepala Disporapar Kalbar Windy Prihastari menaiki kapal saat mengikuti ritual buang-buang rangkaian festival robo-robo di Kabupaten Mempawah, dua tahun lalu. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Setiap kali Ritual Robo-robo digelar di Kabupaten Mempawah, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada iring-iringan perahu dan prosesi doa bersama. Salah satu bagian yang paling menarik adalah keberadaan sesajen yang digunakan dalam Ritual Buang-buang di muara Sungai Mempawah.

Bagi sebagian orang, sesajen kerap dipahami sebagai bagian dari praktik mistis. Namun, dalam tradisi Robo-robo, setiap perlengkapan yang dibawa memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan sejarah, harapan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta alam sekitarnya.

Informasi mengenai sesajen dan makna Ritual Robo- ini dilansir dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (budaya-indonesia.org). Dari sumber tersebut terungkap di balik setiap sesajen yang disiapkan, tersimpan filosofi yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Melayu Mempawah dan masih dijaga hingga kini.

Baca Juga: Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah

Ritual Robo-robo Bukan Sekadar Upacara Adat

Robo-robo merupakan tradisi budaya yang dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir bulan Safar. Ritual ini menjadi napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon ke Mempawah pada 1737 sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat atas perjalanan sejarah yang melahirkan Kesultanan Mempawah.

Sebelum prosesi Buang-buang dimulai, rombongan Kesultanan Amantubillah terlebih dahulu menuju muara Sungai Mempawah menggunakan Perahu Lancang Kuning dan Perahu Bidar.

Baca Juga: Mengenal Opu Daeng Manambon, Bangsawan Bugis dari Kerajaan Luwu yang Berjasa Menyebarkan Islam di Kalbar

Setibanya di lokasi, Pemangku Adat mengumandangkan azan, kemudian memimpin pembacaan doa tolak bala atau doa memohon keselamatan kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Prosesi tersebut menunjukkan bahwa unsur religius menjadi bagian penting dalam Ritual Robo-robo. Doa menjadi simbol pengharapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan dijauhkan dari berbagai musibah.

Mengapa Ada Ritual Buang-buang?

Baca Juga: Opu Daeng Manambon Jadi Raja Mempawah, Ternyata Berawal dari Konflik

Salah satu rangkaian yang paling dikenal dalam Robo-robo adalah Ritual Buang-buang, yakni prosesi melepaskan perlengkapan adat ke Sungai Mempawah.

Sekilas, prosesi ini mungkin tampak sederhana. Namun, berdasarkan catatan budaya, ritual tersebut mengandung makna penghormatan terhadap sungai dan laut yang sejak dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir Mempawah.

Sungai bukan hanya jalur transportasi bagi rombongan Opu Daeng Manambon ketika pertama kali datang ke Mempawah, tetapi juga menjadi urat nadi perdagangan, perikanan, dan kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Baca Juga: Rumah Adat Turun Temurun di Mempawah Kian Lapuk dan Kosong, Cagar Budaya Ini Menanti Perhatian

Karena itu, Ritual Buang-buang dimaknai sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dengan alam yang telah memberikan kehidupan selama ratusan tahun.

Filosofi Sesajen dalam Ritual Robo-robo

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah sesajen yang digunakan dalam prosesi Buang-buang. Meski sering disebut sesajen, setiap unsur yang digunakan sesungguhnya mengandung pesan moral dan filosofi kehidupan.

Baca Juga: Pesona Tersembunyi Wisata Religi dan Budaya di Mempawah yang Jarang Diketahui

Beras Kuning, Lambang Kemakmuran

Beras kuning menjadi salah satu perlengkapan utama dalam ritual. Dalam tradisi Robo-robo, beras kuning melambangkan harapan akan kemakmuran, rezeki yang melimpah, dan kehidupan yang sejahtera. Warna kuning juga identik dengan kemuliaan serta doa agar masyarakat memperoleh keberuntungan dalam menjalani kehidupan.

Bertih, Simbol Kesejahteraan

Baca Juga: Kisah Rumah Pertama di Desa Mendalok Mempawah, Warisan Perantau Sambas yang Dihuni Hingga Generasi Ketiga

Selain beras kuning, terdapat pula bertih atau padi yang disangrai. Bertih dimaknai sebagai simbol hasil panen yang baik, kesejahteraan, serta harapan agar kehidupan masyarakat selalu diberi kecukupan pangan dan keberlimpahan rezeki.

Setanggi, Lambang Keberkahan

Perlengkapan lain yang digunakan adalah setanggi.Dalam catatan budaya, setanggi melambangkan keberkahan. Kehadirannya menjadi simbol harapan agar setiap doa yang dipanjatkan memperoleh rahmat dan perlindungan dari Allah Subhanahuwata’ala.

Baca Juga: Mempawah Dinilai Punya Modal Besar Jadi Contoh Nasional Penguatan Humanisme Religius dan Kerukunan Umat

Perpaduan Budaya dan Nilai Religius

Keberadaan sesajen dalam Ritual Robo-robo tidak dapat dilepaskan dari proses akulturasi budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Prosesi Buang-buang selalu diawali dengan azan dan doa yang dipimpin Pemangku Adat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Mempawah memaknai ritual tersebut sebagai bagian dari tradisi budaya yang dibingkai dengan nilai-nilai religius.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Istana Amantubillah Mempawah Pernah Terbakar dan Diserang Belanda

Perpaduan antara budaya lokal dan ajaran Islam inilah yang menjadi salah satu keunikan Robo-robo. Tradisi tersebut bukan sekadar mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat rasa syukur kepada Allah Subhanahuata’ala sekaligus mengenang perjalanan sejarah Mempawah.

Warisan Budaya yang Sarat Nilai Kehidupan

Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Ritual Robo-robo mengajarkan banyak nilai kehidupan. Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap sejarah, kepedulian terhadap alam, semangat kebersamaan, serta harapan agar masyarakat senantiasa hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan.

Baca Juga: Sebelum Jadi Situs Sejarah, Benteng Kota Batu Mempawah Pernah Jadi Tameng Penguasa Kerajaan

Makna-makna simbolis yang terkandung dalam setiap prosesi dan perlengkapan adat menjadikan Robo-robo tidak hanya menarik untuk disaksikan. Tetapi juga penting dipahami sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Mempawah.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ini terus dipertahankan sebagai pengingat bahwa sebuah budaya akan tetap hidup apabila nilai-nilai yang diwariskannya terus dipahami dan dijaga oleh setiap generasi.

 

Editor : Silvina
sesajen ritual adat budaya prosesi buang-buang robo robo tradisi budaya mempawah Sejarah Robo Robo