PONTIANAK POST – Di antara rangkaian prosesi Ritual Robo-robo di Kabupaten Mempawah, ada satu tradisi yang selalu dinanti masyarakat, yakni Makan Saprahan. Sepintas, kegiatan ini terlihat seperti makan bersama pada umumnya. Namun di balik hidangan yang tersaji di atas talam, tersimpan filosofi tentang persaudaraan, kesetaraan, dan kebersamaan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Tradisi inilah yang membuat Robo-robo tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmasyarakat lintas usia, latar belakang, bahkan agama.
Saprahan, Simbol Kebersamaan dalam Budaya Melayu
Baca Juga: Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah
Berdasarkan informasi dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, usai rangkaian doa dan Ritual Buang-buang selesai dilaksanakan di muara Sungai Mempawah, dilanjutkan dengan makan bersama. Acara ini merupakan kegiatan masyarakat berkumpul untuk mengikuti makan bersama secara saprahan di halaman Istana Amantubillah.
Saprahan merupakan tradisi makan bersama khas masyarakat Melayu yang menggunakan baki atau talam besar sebagai tempat menyajikan makanan. Dalam satu talam biasanya terdapat nasi beserta aneka lauk yang disantap oleh empat hingga lima orang secara bersama-sama.
Cara makan seperti ini bukan sekadar mempertahankan adat istiadat, tetapi menjadi simbol bahwa rezeki yang dimiliki hendaknya dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan.
Duduk Sejajar Tanpa Memandang Status
Salah satu nilai yang paling menonjol dalam Makan Saprahan adalah kesetaraan.
Saat duduk mengelilingi talam, tidak ada perbedaan tempat bagi raja, pejabat, tokoh masyarakat, maupun warga biasa. Semua menikmati hidangan yang sama dan duduk berdampingan tanpa memandang jabatan, status sosial, suku, ataupun latar belakang ekonomi.
Baca Juga: Menguak Sejarah Benteng Kota Batu Mempawah, Benteng Pertahanan yang Lahir dari Perebutan Takhta
Suasana inilah yang membuat Saprahan menjadi lebih dari sekadar tradisi kuliner. Ia menjadi ruang untuk membangun keakraban, mempererat silaturahmi, serta menghapus sekat-sekat yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Filosofi tersebut mencerminkan nilai budaya Melayu yang menjunjung tinggi kebersamaan, saling menghormati, dan rasa kekeluargaan.
Hidangan yang Menyimpan Cerita
Baca Juga: Benteng Kota Batu di Mempawah Infonya Terbuat dari Pasir Pantai, Ini Keunikannya
Makan Saprahan dalam Ritual Robo-robo juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali aneka masakan khas istana dan kuliner tradisional Mempawah yang mulai jarang ditemui.
Beberapa hidangan yang lazim disajikan antara lain opor ayam putih, ikan masak asam pedas, sambal serai udang, selada timun, hingga sop ayam putih.
Sebagai pencuci mulut, masyarakat menikmati berbagai kue tradisional seperti bingke ubi, kue sangon, kue jorong, putuh buloh, serta pisang raja. Sementara minuman yang disediakan adalah air serbat yang dipercaya dapat membantu memulihkan stamina.
Baca Juga: Ketua DPD RI Pernah Tinjau Benteng Kota Batu Mempawah, Bukti Pentingnya Warisan Sejarah Kerajaan
Kehadiran makanan-makanan tersebut bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi cara melestarikan kekayaan kuliner warisan Kesultanan Mempawah agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Lebih dari Tradisi Kuliner
Dalam budaya Melayu, makan bersama selalu memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar menikmati hidangan.
Saprahan menjadi media untuk memperkuat komunikasi dan mempererat hubungan keluarga. Selain itu juga untuk menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, hingga menumbuhkan rasa saling memiliki di tengah masyarakat.
Nilai-nilai inilah yang masih terasa kuat setiap kali Ritual Robo-robo digelar. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah berkumpul, duduk bersama, berbagi makanan, dan menikmati suasana penuh keakraban.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan merupakan kekuatan utama dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Mengapa Saprahan Tetap Bertahan?
Baca Juga: Pesona Tersembunyi Wisata Religi dan Budaya di Mempawah yang Jarang Diketahui
Meski zaman terus berubah, Makan Saprahan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Ritual Robo-robo. Salah satu alasannya adalah karena tradisi ini tidak hanya diwariskan sebagai kebiasaan, tetapi juga sebagai nilai hidup.
Melalui Saprahan, generasi muda belajar tentang pentingnya berbagi, menghormati orang lain, menjaga silaturahmi, dan mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Nilai-nilai tersebut tetap relevan, bahkan di tengah masyarakat modern.
Selain itu, Saprahan juga menjadi identitas budaya Melayu Mempawah yang membedakan Robo-robo dari tradisi lain di Indonesia. Perpaduan antara sejarah, budaya, kuliner, dan kebersamaan menjadikan tradisi ini memiliki daya tarik yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Sedekah Bumi di Mempawah, Warga Jawa Lestarikan Tradisi dan Gotong Royong
Warisan yang Menyatukan Masyarakat
Lebih dari dua abad sejak pertama kali diperingati, Robo-robo tetap menjadi simbol persatuan masyarakat Mempawah. Di dalamnya, Makan Saprahan menjadi momen yang paling menggambarkan semangat kebersamaan tanpa memandang perbedaan.
Tradisi ini membuktikan sebuah warisan budaya tidak hanya bertahan karena terus dipentaskan, tetapi karena nilai-nilai yang dikandungnya masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Baca Juga: Opu Daeng Manambon Jadi Raja Mempawah, Ternyata Berawal dari Konflik
Itulah sebabnya, hingga kini Saprahan tetap menjadi jantung dari perayaan Robo-robo—sebuah tradisi yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menguatkan persaudaraan dan menjaga identitas budaya Melayu di Kalimantan Barat.
Editor : Silvina