Hampir 300 Tahun Bertahan, Apa Rahasia Tradisi Robo-robo Mempawah Tetap Hidup hingga Kini?

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:15 WIB
Napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah yang diperankan Raja Mempawah Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim. (DOK PONTIANAK POST)
Napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah yang diperankan Raja Mempawah Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Tidak banyak tradisi di Indonesia yang mampu bertahan selama hampir tiga abad dan tetap diperingati setiap tahun oleh masyarakat. Namun, hal itulah yang terjadi pada Ritual Robo-robo di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Tradisi yang berawal dari peristiwa bersejarah pada 1737 itu masih terus hidup hingga kini, bahkan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Melayu di Kalimantan Barat.

Lalu, apa yang membuat Robo-robo tidak lekang oleh waktu? Jawabannya bukan hanya karena faktor sejarah, tetapi karena tradisi ini mampu menyatukan nilai sejarah, agama, budaya, dan kebersamaan dalam satu rangkaian peringatan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Informasi mengenai sejarah dan nilai budaya dalam tradisi Robo-robo yang telah bertahan hingga tiga abad ini dilansir dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (budaya-indonesia.org).

Baca Juga: Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah

Berawal dari Perjalanan Bersejarah Opu Daeng Manambon

Salah satu alasan utama Robo-robo tetap diperingati hingga sekarang adalah karena tradisi ini menjadi pengingat lahirnya babak baru dalam sejarah Mempawah.

Ritual ini berawal dari kedatangan Opu Daeng Manambon bersama istrinya, Putri Kesumba, ke Mempawah pada tahun 1737. Kedatangannya untuk memenuhi amanah memimpin Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah kemudian dikenang sebagai peristiwa penting yang mengubah perjalanan daerah tersebut.

Baca Juga: Mengapa Ada Sesajen dan Ritual Buang-buang di Tradisi Robo-robo Mempawah? Ternyata Ini Tujuan dan Maknanya   

Peristiwa itulah yang kemudian diperingati melalui Robo-robo yang dilaksanakan setiap Rabu terakhir bulan Safar. Bagi masyarakat Mempawah, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan napak tilas perjalanan seorang pemimpin yang menjadi bagian penting dari sejarah daerah.

Menjadi Penanda Berkembangnya Islam di Mempawah

Robo-robo juga bertahan karena memiliki nilai religius yang kuat.

Baca Juga: Bukan Meja Mewah, Saprahan Robo-robo Mempawah Punya Pesan Leluhur: Semua Duduk Bersama

Dalam berbagai catatan sejarah, masa pemerintahan Opu Daeng Manambon menjadi salah satu periode penting berkembangnya Islam di Mempawah. Kerajaan yang sebelumnya bercorak Hindu secara bertahap berkembang menjadi kerajaan bercorak Islam.

Nilai tersebut masih terlihat hingga sekarang. Setiap pelaksanaan Robo-robo selalu diawali dengan pengumandangan azan dan pembacaan doa tolak bala sebagai bentuk permohonan kepada Allah Subhanahuwata’ala agar masyarakat diberikan keselamatan dan keberkahan.

Perpaduan antara sejarah dan nilai-nilai keagamaan inilah yang membuat Robo-robo tetap relevan bagi masyarakat hingga sekarang.

Baca Juga: Mengenal Opu Daeng Manambon, Bangsawan Bugis dari Kerajaan Luwu yang Berjasa Menyebarkan Islam di Kalbar

Tradisi yang Terus Menyesuaikan Zaman

Meski telah berusia hampir 300 tahun, Robo-robo tidak berhenti sebagai tradisi keluarga Kesultanan Mempawah.

Perayaan ini berkembang menjadi agenda budaya yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, pelajar, komunitas budaya, hingga wisatawan.

Baca Juga: Opu Daeng Manambon Jadi Raja Mempawah, Ternyata Berawal dari Konflik

Berbagai kegiatan seperti pelayaran simbolis, doa bersama, Ritual Buang-buang, Makan Saprahan, pertunjukan seni tradisional, hingga perlombaan perahu bidar menjadi daya tarik yang membuat Robo-robo terus dikenal oleh generasi muda.

Kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai aslinya menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ini tetap lestari.

Warisan Budaya yang Mengajarkan Kebersamaan

Baca Juga: Makam Keramat Songkok di Mempawah Selalu Ramai Diziarahi, tetapi Tak Seorang Pun Tahu Siapa yang Terkubur

Tidak hanya sarat nilai sejarah, Robo-robo juga mengajarkan pentingnya kebersamaan.

Hal tersebut tampak dalam tradisi Makan Saprahan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk duduk bersama menikmati hidangan dalam satu talam.

Dalam tradisi itu, tidak ada perbedaan kedudukan, status sosial, ataupun asal-usul. Semua berkumpul dalam suasana kekeluargaan sebagai simbol persatuan dan silaturahmi.

Baca Juga: Menguak Sejarah Benteng Kota Batu Mempawah, Benteng Pertahanan yang Lahir dari Perebutan Takhta

Nilai-nilai seperti gotong royong, saling menghormati, dan berbagi inilah yang membuat Robo-robo tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi media memperkuat hubungan sosial masyarakat.

Identitas Budaya Masyarakat Mempawah

Bagi masyarakat Mempawah, Robo-robo telah berkembang menjadi bagian dari identitas daerah.

Baca Juga: Pesona Tersembunyi Wisata Religi dan Budaya di Mempawah yang Jarang Diketahui

Tradisi ini menjadi pengingat akan perjalanan sejarah, berkembangnya Kesultanan Mempawah, serta nilai-nilai budaya Melayu yang diwariskan oleh para pendahulu.

Melalui berbagai prosesi yang dilaksanakan setiap tahun, masyarakat tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga memperkenalkan sejarah daerah kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Warisan yang Terus Hidup

Baca Juga: MABM Mempawah Perkuat Adat Melayu, Dorong Budaya Jadi Fondasi Pembangunan Daerah Berkarakter

Kebertahanan Robo-robo selama hampir tiga abad menunjukkan bahwa sebuah tradisi akan tetap hidup apabila memiliki makna yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Robo-robo bukan sekadar mengenang kedatangan Opu Daeng Manambon atau mengulang prosesi adat dari masa lampau. Tradisi ini telah berkembang menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkuat nilai religius, melestarikan budaya Melayu, sekaligus menjaga ingatan kolektif tentang sejarah Mempawah.

Itulah sebabnya, meski zaman terus berubah, Robo-robo tetap diperingati setiap tahun dan menjadi salah satu warisan budaya yang paling berharga di Kalimantan Barat. Tradisi ini membuktikan bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam catatan, tetapi juga dalam kebiasaan masyarakat yang terus merawatnya dengan penuh kebanggaan.

 

Editor : Silvina
rahasia tradisi bertahan lama robo robo mempawah 300 tahun budaya budaya mempawah tradisi leluhur