Dari Makan Safar hingga Festival Budaya, Robo-robo Mempawah Terus Berkembang Selama Tiga Abad

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:43 WIB
Pembukaan Festival Budaya Robo-robo Kuala Mempawah tahun 2025 ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional tar.(DOK PONTIANAK POST)
Pembukaan Festival Budaya Robo-robo Kuala Mempawah tahun 2025 ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional tar.(DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST - Tradisi Robo-robo di Mempawah memiliki perjalanan panjang yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Hampir 300 tahun bertahan, ritual yang awalnya sederhana kini berkembang menjadi perayaan budaya yang melibatkan masyarakat luas.

Fredy Pratama (29 tahun), seorang nelayan asal Kuala Secapah, mengatakan berdasarkan cerita  para sesepuh yang diperolehnyna terjadi perubahan besar dalam pelaksanaan tradisi tersebut dari masa ke masa .   

Menurut Fredy, dahulu Robo-robo hanya dilaksanakan secara sederhana oleh masyarakat Melayu Muslim di Kuala Mempawah. Warga berkumpul untuk makan safar dengan konsep saprahan, yakni duduk lesehan bersama di halaman rumah.

Baca Juga: Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah

“Dulu hanya warga Melayu Muslim yang menjalankan tradisi ini. Makan safar dilakukan secara saprahan, duduk di halaman rumah dan biasanya satu kelompok berjumlah enam orang,” kata Fredy.

Dari Tradisi Kampung Menjadi Perayaan Budaya

Seiring perjalanan waktu, Robo-robo mengalami perkembangan. Tradisi yang sebelumnya berpusat pada kegiatan makan bersama kini menjadi rangkaian acara budaya yang berlangsung lebih panjang.

Baca Juga: Mengapa Ada Sesajen dan Ritual Buang-buang di Tradisi Robo-robo Mempawah? Ternyata Ini Tujuan dan Maknanya   

Fredy menyebut, saat ini pelaksanaan Robo-robo diisi berbagai kegiatan mulai dari kirab budaya, napak tilas sejarah, ritual buang-buang di laut oleh keluarga Kerajaan Mempawah, tepung tawar kapal nelayan, ziarah makam raja-raja, tahlilan, hingga haul akbar Opu Daeng Menambon.

Selain itu, kemeriahan Robo-robo juga semakin terasa dengan hadirnya pertunjukan seni budaya seperti jepin, pantun berdendang, lomba perahu bidar, hingga pasar malam.

“Sekarang acaranya jauh lebih besar dan berlangsung lebih lama. Banyak kegiatan budaya yang ikut meramaikan,” ujar Fredy.

Baca Juga: Bukan Meja Mewah, Saprahan Robo-robo Mempawah Punya Pesan Leluhur: Semua Duduk Bersama

Tradisi yang Semakin Terbuka

Menurut Fredy, perubahan paling terlihat dari Robo-robo saat ini adalah keterlibatan masyarakat yang semakin luas. Tradisi tersebut tidak hanya diikuti oleh kelompok masyarakat tertentu, tetapi juga menjadi ruang bersama bagi warga dari berbagai latar belakang.

Ia menilai keterbukaan tersebut tidak menghilangkan nilai utama Robo-robo. Sebaliknya, hal itu justru membuat tradisi tersebut semakin kaya karena semakin banyak masyarakat yang mengenal dan ikut menjaga warisan budaya tersebut.

Baca Juga: Hampir 300 Tahun Bertahan, Apa Rahasia Tradisi Robo-robo Mempawah Tetap Hidup hingga Kini?

“Tradisi ini menjadi semakin kaya karena semakin banyak masyarakat yang terlibat,” ungkapnya.

Bagi Fredy, kemampuan Robo-robo beradaptasi menjadi salah satu alasan tradisi tersebut tetap bertahan hingga sekarang.

Dari saprahan sederhana di halaman rumah hingga menjadi agenda budaya besar, Robo-robo terus menjadi bagian dari identitas masyarakat Mempawah yang diwariskan lintas generasi.

 

Editor : Silvina
robo robo mempawah budaya mempawah makan safar perayaan robo robo mempawah festival budaya