PONTIANAK POST - Di balik panjangnya perjalanan tradisi Robo-robo Mempawah selama hampir 300 tahun, ada harapan besar agar generasi muda ikut menjaga warisan budaya tersebut.
Fredy Pratama (29 tahun), seorang nelayan asal Kuala Secapah yang selalu menyaksikan ritual Robo-robo, menyampaikan pentingnya generasi muda memahami sejarah dan melestarikan nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.
Menurut Fredy, Robo-robo bukan hanya kegiatan tahunan, tetapi memiliki nilai persaudaraan, spiritualitas, dan budaya yang menjadi identitas masyarakat Mempawah.
Baca Juga: Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah
Menjaga Nilai dari Generasi ke Generasi
Fredy berharap anak muda tidak hanya mengenal Robo-robo sebagai sebuah acara budaya, tetapi juga memahami makna di balik pelaksanaannya.
“Buat saya pribadi sebagai warga lokal sekaligus generasi penerus di sini, penting sekali bagi generasi muda menjaga warisan sejarah ini. Supaya nilai persaudaraan, spiritualitas, dan budaya Melayu tetap hidup dari generasi ke generasi, jangan sampai putus di tengah jalan,” ujarnya.
Ia mengatakan, keberadaan Robo-robo yang telah bertahan hampir tiga abad menjadi bukti kuatnya nilai budaya yang diwariskan masyarakat terdahulu.
Apalagi, lanjutnya, Robo-robo kini telah menjadi bagian dari warisan budaya nasional yang menjadi identitas daerah dan perlu dijaga bersama.
“Tradisi ini sudah jadi warisan budaya nasional, jadi identitas daerah kita yang harus dijaga bersama-sama,” kata Fredy.
Baca Juga: Bukan Meja Mewah, Saprahan Robo-robo Mempawah Punya Pesan Leluhur: Semua Duduk Bersama
Kolaborasi Adat dan Pemerintah Perlu Dijaga
Selain peran masyarakat, Fredy juga berharap kerja sama antara pemangku adat dan pemerintah daerah terus berjalan baik dalam menjaga keberlangsungan Robo-robo.
Menurutnya, dukungan bersama sangat penting agar tradisi tersebut tetap dapat dilaksanakan dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Baca Juga: Hampir 300 Tahun Bertahan, Apa Rahasia Tradisi Robo-robo Mempawah Tetap Hidup hingga Kini?
“Harapan kami, keterlibatan dan kerja sama antara pemangku adat dan pemerintah daerah dalam acara tahunan ini bisa terus dijaga. Ini penting sebagai upaya bersama untuk memastikan tradisi ini tetap ada di masa depan,” tuturnya.
Ketika Rabu terakhir bulan Safar kembali tiba tahun ini, warga Kuala Secapah akan kembali berkumpul di tepi muara yang sama.
Mereka akan melanjutkan sebuah kebiasaan yang telah dijaga hampir 300 tahun, sekaligus memastikan nilai budaya Robo-robo tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Editor : Silvina