PONTIANAK POST - Sebanyak 30 petani dampingan Gemawan yang tergabung dalam Jaringan Petani Berbasis Komoditas (JARINGPEDAS) Kabupaten Mempawah mengikuti pelatihan model bisnis dan pengelolaan keuangan usaha, belum lama ini. Peserta merupakan perwakilan petani dari 15 desa.
Dewan Pengurus Gemawan, Hermawansyah, mengatakan pelatihan tersebut merupakan upaya memperkuat kemandirian ekonomi petani. Menurutnya, penguatan sektor pertanian tidak cukup hanya meningkatkan produksi, tetapi juga harus mampu memperbaiki kesejahteraan rumah tangga petani.
“Persoalan paling mendasar yang dihadapi petani hari ini adalah rapuhnya ekonomi rumah tangga mereka. Berbagai program pembangunan tidak akan berdampak apabila tidak mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara langsung,” ujarnya, belum lama ini.
Baca Juga: 3 Pejabat JPT Pratama Mempawah Resmi Dilantik, Erlina Soroti Layanan Dukcapil hingga Stabilitas
Menurut Wawan, sektor pertanian menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menyusutnya lahan akibat alih fungsi hingga rendahnya minat generasi muda menjadi petani. Karena itu, petani perlu diperkuat sebagai pelaku utama yang mampu mengelola usaha dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Melalui pelatihan tersebut, peserta mendapat materi perencanaan produksi, perhitungan hasil panen, proyeksi pendapatan, hingga pengelolaan keuangan. Petani juga didorong memisahkan keuangan rumah tangga dan usaha agar perkembangan usaha tani dapat dipantau dengan jelas.
Community Organizer Gemawan Wilayah Mempawah, Lani Ardiansyah, mengatakan peserta juga dikenalkan dengan Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan potensi usaha, rantai pasok, segmen pasar, dan strategi pengembangan produk.
“Pelatihan ini juga mendorong lahirnya rencana aksi yang terstruktur untuk pengembangan unit usaha kelompok tani, sehingga mampu memperkuat kemandirian dan daya saing ekonomi komunitas berbasis potensi lokal,” katanya.
Baca Juga: Setelah 7 Kali Juara Umum, Mempawah Tumbang di MTQ Kalbar 2026, Kubu Raya Rebut Gelar
Selain BMC, peserta mendapat materi tata kelola keuangan berupa pembukuan kas sederhana, penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), serta pengelolaan arus kas.
Lani berharap pelatihan menghasilkan BMC untuk komoditas prioritas, kemampuan mengelola keuangan usaha, serta rencana aksi konkret pengembangan unit bisnis kelompok tani setelah pelatihan. (wah)
Editor : Miftakhair