PONTIANAK POST - BPBD Kabupaten Mempawah melalui aplikasi Lancang Kuning mendeteksi 14 titik panas (hot spot) di sejumlah kecamatan, Selasa (11/8). Kecamatan Jongkat menjadi wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak, yakni sembilan titik.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana BPBD Mempawah, Mulyadi, mengatakan 14 titik panas tersebut tersebar di Kecamatan Jongkat sembilan titik, Sungai Pinyuh dua titik, Sungai Kunyit dua titik, dan Sadaniang satu titik.
“Sebaran 14 titik panas ini berada di Kecamatan Jongkat sembilan hot spot, Sungai Pinyuh dua hot spot, Sadaniang satu hot spot dan Sungai Kunyit dua hot spot,” paparnya.
Baca Juga: Robo-Robo 2026 Mempawah Kian Semarak, 1000 Ketupat Disaprahkan di Waterfront
Mulyadi merinci, sembilan titik panas di Jongkat berada di Desa Sungai Nipah sebanyak enam titik dan Wajok Hulu tiga titik. Dua titik di Sungai Pinyuh berada di Desa Nusapati. Sementara titik panas di Sungai Kunyit masing-masing berada di Desa Bukit Batu dan Semparong Parit Raden, serta satu titik di Desa Pentek, Kecamatan Sadaniang.
Menurut Mulyadi, petugas gabungan BPBD, TNI/Polri, kecamatan, desa, dan pihak terkait terus melakukan pemadaman dan penanggulangan dengan mengerahkan sumber daya yang tersedia.
“Hingga sore ini (Selasa), masih terdapat empat hot spot yang masih terbakar, yakni dua hot spot di Desa Wajok, satu hot spot di Desa Nusapati dan satu hot spot di Desa Sengkubang,” tuturnya.
Mulyadi mengatakan luas lahan yang terbakar belum dapat diperkirakan karena petugas masih fokus melakukan pemadaman. Selain itu, sejumlah lokasi titik panas sulit dijangkau melalui jalur darat.
Baca Juga: Karhutla Kalbar Meningkat, OMC Diperkuat Cegah Asap Lintas Batas ke Sarawak
“Kita belum bisa memperkirakan berapa total lahan yang terbakar. Mengingat, banyak hot spot yang lokasinya tidak bisa dijangkau dengan akses jalan darat,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih luas.
“Kita ingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan untuk kepentingan apa pun. Karena, pembakaran lahan sangat berpotensi menyebabkan karhutla,” pungkasnya. (wah)
Editor : Miftakhair