Jurnalis Dian Sastra Dianugerahi Gelar Datok Petinggi Warta, Ini Amanah yang Diembannya di Mempawah

Wahyu Ismir Jartha Kusuma • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:16 WIB
Ketua Perkumpulan Jurnalis Galaherang (Pejuang) Mempawah, Dian Sastra, dianugerahi gelar kekerabatan Datok Petinggi Warta oleh Raja Mempawah XIV, Pangeran Ratu Wirabuana Mohammad Hafizh Adinugraha.///
Ketua Perkumpulan Jurnalis Galaherang (Pejuang) Mempawah, Dian Sastra, dianugerahi gelar kekerabatan Datok Petinggi Warta oleh Raja Mempawah XIV, Pangeran Ratu Wirabuana Mohammad Hafizh Adinugraha.///

PONTIANAK POST - Kiprah Ketua Perkumpulan Jurnalis Galaherang (Pejuang) Mempawah, Dian Sastra, dalam dunia jurnalistik sekaligus kepeduliannya terhadap pelestarian adat dan budaya daerah mendapat penghormatan dari Istana Amantubillah Mempawah. Dian dianugerahi gelar kekerabatan Datok Petinggi Warta dalam ritual adat Toana, rangkaian Robo’-Robo’ dan Pagelaran Warisan Budaya Takbenda di Kabupaten Mempawah.

Penganugerahan berlangsung di Istana Amantubillah Mempawah dan diserahkan langsung Raja Mempawah XIV, Pangeran Ratu Wirabuana Mohammad Hafizh Adinugraha. Selain gelar Datok Petinggi Warta, Dian juga menerima anugerah Yang Mulia Bakti Amantubillah.

Dian mengatakan gelar tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah untuk terus berkontribusi kepada masyarakat melalui profesinya sebagai jurnalis, termasuk mengangkat sejarah, adat dan budaya Mempawah.

Baca Juga: HUT RI ke-81 di Mempawah Hulu Meriah dengan Karnaval, Pelajar hingga Warga Ramaikan Jalan Santai

“Bagi saya, gelar Datok Petinggi Warta ini bukan sekadar penghargaan, tetapi sebuah amanah. Sebagai jurnalis, saya ingin terus mengambil bagian dalam menyampaikan informasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk mengangkat sejarah, adat dan budaya yang menjadi identitas Mempawah,” ujar Dian.

Menurutnya, penghormatan tersebut menjadi tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, serta ikut melestarikan nilai-nilai budaya di Bumi Galaherang.

“Insyaallah amanah ini akan saya jaga dengan sebaik-baiknya. Saya menyadari bahwa sebuah gelar memiliki tanggung jawab moral,” tuturnya.

Dian yang juga Ketua Bidang Komunikasi, Informatika dan Media Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Mempawah menilai Robo’-Robo’ bukan sekadar kegiatan tahunan. Rangkaian tradisi tersebut menjadi momentum menghadirkan kembali sejarah dan budaya daerah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Baca Juga: Festival Robo-Robo Mempawah 2026: Menjaga Tradisi dan Memperkuat Kebersamaan

Ia berharap peran insan pers dalam pelestarian budaya semakin kuat. Menurutnya, jurnalistik memiliki ruang strategis untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan mengedukasi masyarakat mengenai kekayaan adat dan budaya Mempawah.

“Warta tidak hanya tentang apa yang terjadi hari ini. Warta juga tentang bagaimana kita menyampaikan kembali sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” ujarnya. (wah)

Editor : Miftakhair
sastra datok jurnalis gelar budaya