Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Literasi Digital 20 Jurnalis Perempuan, Langsung dari Google News Initiative

Ari Aprianz • Sabtu, 23 November 2019 | 17:47 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.
PONTIANAK – Sebanyak 20 jurnalis perempuan di Pontianak mendapatkan pelatihan literasi digital yang digelar oleh Google News Initiative (GNI) bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Internews. Kegiatan yang digelar selama dua hari, 23 – 24 November, akan menempa pengetahuan para jurnalis dalam memanfaatkan perangkat Google untuk menangkal hoaks di internet.

"Selama dua hari ini, trainer dari Google akan melatih cara menganalisis sumber konten digital dengan menggunakan berbagai tool yang ada di internet," ungkap Caroline, jurnalis Pontianak yang menjadi trainer pendamping pelatihan itu.

Selain melatih kemampuan menganalisis dan verifikasi konten di internet, para peserta, menurutnya, juga akan belajar beberapa materi yang bersifat teknis mengenai kebersihan data digital (digital hygiene), analisa dasar atas informasi, pencarian dan penelusuran data, dan beragam tools yang bisa digunakan untuk melakukan investigasi secara daring.

Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa, Aseanty Pahlevi, menambahkan, pelatihan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas profesi jurnalis di Pontianak. Jurnalis sebagai penyedia informasi, menurut dia, harus dapat menyuguhkan berita dengan data pendukung yang kuat. “Hal ini sangat penting karena dalam melakukan tugas profesinya sebagai jurnalis, kepentingan publik adalah hal utama,” ujar dia.

Dia menilai, perempuan dapat menjadi agen perubahan untuk memerangi berita hoaks yang beredar di masyarakat. Terlebih dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2017, diungkapkan dia bahwa jumlah perempuan pengguna internet cukup besar. Menurut data APJII, diketahui pengguna internet di Indonesia sendiri mencapai lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang dari total penduduk Indonesia 267 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48,57 persen di antaranya adalah perempuan. “Dari data tersebut, perempuan pengguna internet sangat tinggi. Era ini ternyata tidak membuat perempuan minder saat harus berhadapan dengan kerumitan tombol aplikasi berbagai rupa,” tutur dia.

Sementara itu, Ketua Umum AJI, Abdul Manan, mengatakan, kegiatan yang serentak dilakukan di 23 kota di tanah air ini, dilatarbelakangi oleh fenomena banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan dari informasi itu, menurutnya, beragam, mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik, hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong.

Tujuan penyebaran informasi palsu itu, kata dia, juga beragam. Ada yang, menurut dia, sekadar untuk lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi. "Yang merisaukan, hoaks ini menyebar sangat mudah cepat di sosial media. Tidak sedikit publik yang serta merta mempercayainya," kata Manan.

Dia menilai, bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut, tetapi terkadang media turut serta mendistribusikannya. Hal ini, tak dipungkiri dia, terjadi karena berbagai faktor, antara lain karena ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan informasi secara cepat, atau sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu.

Materi yang diberikan dalam pelatihan ini, dipaparkan dia, meliputi teknik mendeteksi informasi palsu, selain bagaimana berselancar di dunia digital yang sehat dan aman. "Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar media dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial," pungkas dia. (sti) Editor : Ari Aprianz
#literasi