Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Menyambut Tahun Tikus Logam, Dari Pohon Mei Hua hingga Masak Ikan

Ari Aprianz • Jumat, 24 Januari 2020 | 10:37 WIB
SAMBUT: Pengurus Klenteng Thian Sie Kiung sedang memasang lampion untuk menyambut tahun baru Imlek 2571. RAMSES/PONTIANAKPOST
SAMBUT: Pengurus Klenteng Thian Sie Kiung sedang memasang lampion untuk menyambut tahun baru Imlek 2571. RAMSES/PONTIANAKPOST
Sehari lagi seluruh masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat menyambut Imlek 2571. Pergantian shio babi tanah di tahun 2019 ke tikus logam tahun 2020. Beragam persiapan dilakukan, dari memasang ornamen, ziarah kubur hingga menghidangkan panganan khas Imlek.

RAMSES L TOBING, Pontianak

TAHUN baru China atau biasa disebut Imlek adalah momen yang ditunggu-tunggu masyarakat tionghoa. Seperti yang terlihat di Klenteng Thian Sie Kiung, Jalan Kebangkitan Nasional, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara.

Terlihat aktivitas pengurus klenteng memasang ornamen imlek. Warna merah mendominasi di seluruh fisik bangunan klenteng yang berdiri di samping Gang Bentasan Tiga itu. Ada dua warna lagi yang menghiasi bangunan itu, hijau dan kuning.

Selain warna, ornamen imlek yang tak pernah absen untuk memperindah klenteng ialah pohon Mei Hua. Tumpukan ranting sudah siap disusun untuk dirangkai menjadi pohon Mei Hua dan dipajang di depan klenteng.

Pengurus Klenteng Thian Sie Kiung Dji Sen menuturkan persiapan untuk mempersiapkan sudah berjalan sepekan sebelum Imlek. Mulai dari memasang lampion, bersih-bersih klenteng hingga menyiapkan replika pohon Mei Hua setinggi tiga meter.

“Pohon Mei Hua itu kami pasang di depan klenteng,” kata Dji Sen di Pontianak, kemarin.

Menurutnya, klenteng akan ramai dikunjungi masyarakat saat malam Imlek. Masyarakat tionghoa berkumpul di klenteng untuk ritual sembahyang malam penyambutan Imlek 2571. Untuk ritual  ini mayarakat mulai mendatang klenteng pukul sebelas malam. Ritual sembahyangnya baru dilakukan pukul dua belas malam.

Bagi masyarakat Tionghoa dikatakan Dji Sen, tahun baru cina atau imlek memberikan harapan agar kehidupan lebih makmur, pekerjaan yang dilakoni semakin baik, selalu diberikan kesehatan dan lebih sejahtera.

Warga lainnya, Chun Huat menjelaskan sembahyang penyambutan tahun baru itu sebagai momentum untuk berdoa kepada tuhan sekaligus memanjatkan harapan agar selalu diberikan kebaikan hingga satu tahun ke depan. Selain di klenteng ritual itu juga dilakukannya di rumah.

Menurut warga Jalan GM Situt Mahmud, Gang Swasembada 3, Kecamatan Pontianak Utara ini ada kebiasan lainnya yang dilakukan selain ritual sembahyang penyambutan tahun baru cina. Satu di antaranya menyiapkan panganan khas imlek untuk disantap bersama keluarga.

Menurutnya panganan ini harus ada dan wajib ada ketika tahun baru tiba, yakni kue keranjang. Bagi bapak dua anak ini, kue keranjang adalah panganan wajib yang dihidangkan saat hari pertama di tahun baru.

“Ini sudah ada sejak zaman leluhur terdahulu,” kata dia.

Panganan lainnya, lanjut dia adalah Jeruk Sunkist. Buah ini tak pernah ketinggalan untuk disajikan. Masyarakat yang merayakan Imlek percaya menyajikan buah ini bisa mendatangkan rezeiki. Selanjutnya adalah memasak  ikan.

Menurut Chun Huat, sajian masakan ikan wajib ada saat tahun baru Imlek. Tidak ada ikan khusus, yang terpenting adalah ikan. Meski demikian ia tak menampik jika yang lebih baik adalah memasak ikan emas.

Penganan lainya adalah mie panjang umur. Panganan ini sangat lekat dengan masyarakat Tionghoa. Ini panganan wajib yang disantap bersama keluarga saat menyambut tahun baru cina. Tekstur Mie yang panjang diyakini sebagai harapan dan simbol bagi siapapun yang menyantap pada malam imlek akan panjang umur.

Namun itu semua hal yang paling utama dilakukan di hari pertama pada tahun baru cina adalah mengunjungi keluarga. Utamanya dari yang muda mengunjungi yang tua. “Biasanya hingga malam hari dan kami harus mengunjungi mereka yang dituakan,” tutup pria berusia 37 tahun itu. (*) Editor : Ari Aprianz
#imlek