PONTIANAK - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengingatkan pentingnya menjaga kewaspadaan terhadap penyebaran virus corona (Covid-19) di provinsi ini. Prosedur engawasan ketat di pintu-pintu masuk diharapkan terus dilakukan tanpa ada toleransi. Meski selalu waspada, ia meminta masyarakat jangan panik dan tetap membiasakan upaya-upaya pencegahan.
Di akun fanspage miliknya, Bang Midji, ia sempat mengunggah informasi soal Kemenkes RI yang menyiagakan 19 daerah waspada corona, Sabtu (29/2) siang. Ia bahkan tak hanya menuliskan 19 kota, tapi 21 kota yang empat di antaranya masuk di wilayah Kalbar yakni Pontianak, Bengkayang, Singkawang dan Sintang.
Dikonfirmasi terkait unggahannya itu, Midji mengakui bahwa info Kemenkes RI menyiagakan 19 daerah waspada virus corona itu merupakan berita bohong (hoaks). Akan tetapi, berita tersebut dianggap penting agar semua tetap waspada. "Bukan, itu berita sudah lama dan katanya hoaks, tapi penting untuk nyuruh orang waspada," katanya kepada Pontianak Post, Sabtu (29/2) sore.
Orang nomor satu di Kalbar itu lantas membeberkan beberapa alasan mengapa provinsi ini harus terus menjaga kewaspadaan terhadap penyebaran Covid-19. Pertama, Kalbar dikatakan mempunyai tiga border atau Pos Lintas Batas Negara (PLBN) resmi yakni di Entikong, Kabupaten Sanggau, Badau, Kabupaten Kapuas Hulu dan Aruk, Kabupaten Sambas.
Selain itu, ada dua PLBN yang juga tengah dibangun yakni Jasa atau Sei Kelik di Kabupaten Sintang serta Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang. Belum lagi secara keseluruhan Kalbar memiliki perbatasan darat dengan Sarawak, Malaysia sepanjang 972 kilometer. Ada sekian banyak jalan tikus yang tak terpantau di sepanjang garis perbatasan tersebut.
Terlebih Kalbar juga punya bandara internasional dan ada penerbangan dari dan ke Batam, Kepulauan Riau , termasuk Kuching dan Kuala Lumpur, Malaysia. "Narkoba saja bisa masuk lewat bandara dari Kuala Lumpur apalagi lalu lintas orang. Saya selalu mengingatkan agar terus waspada tapi jangan panik," katanya.
Dalam hal ini, ia sudah meminta aparat dari Imigrasi, Karantina dan Bea Cukai melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan ketat. Jangan ada toleransi. Dinas Kesehatan juga diharapkan terus melakukan kewaspadaan.
Selain itu, Midji menegaskan bahwa larangan tenaga kerja asing untuk tidak keluar masuk Kalbar masih berlaku. Masyarakat diminta membiasakan hidup sehat. Bagi yang mengalami demam/flu sebaiknya segera ke dokter dan selalu menggunakan masker.
"Guru dan tenaga kesehatan saya minta juga ikut sosialisasikan kepada murid. Jika ada murid yang flu atau demam, sarankan istirahat di rumah dan kalau pun belajar harus pakai masker," pungkasnya.
Midji juga mengimbau warga Kalbar menahan diri agar sementara waktu tidak berkunjung ke negara-negara yang sudah terpapar virus corona. Ia sendiri bahkan sudah membatalkan undangan ke Thailand dan Jepang.
"Saya saja tidak memenuhi undangan untuk ke Jepang dan Thailand padahal semua biaya mereka (pihak yang mengundang) tanggung. Jadi, jangan keluar negeri jika tak penting dan pastikan tunda ke negara yang sudah terjangkit," pesannya.
Orang nomor satu di Kalbar itu berharap tidak ada orang Pontianak atau Kalbar yang berkunjung atau wisata ke Korea Selatan. “Jika masih saja bandel, kalau perlu karantina yang bersangkutan selama 14 hari," katanya.
Dari data yang ia dapat, sampai saat ini diperkirakan ada 20-an orang Pontianak yang berwisata ke Korsel. "Lucunya lagi, mereka suka dengan suasana sepi di Korea. Orang korea saja tidak keluar, eee kita kelayapan," tutupnya.(bar)
Editor : Ari Aprianz