Tingginya permintaan masker, Apotek Jaya Jalan Gajah Mada memilih menuliskan keterangan masker habis. Neti, salah satu penjaga Apotek mengatakan permintaan masker yang tinggi, membuat petugas apotek kewalahan menjawab pertanyaan pembeli.
“Jadi kami tulis saja, biar memudahkan,” ungkapnya Senin (2/3).
Menurut dia, harga masker mulai mengalami lonjakan harga. Satu kotak yang berisi 50 lembar masker dijual dengan harga Rp 200 ribu, atau Empat Ribu rupiah per lembar. Senin (2/3) pukul 13.00 masker sudah habis terjual. “Kalau tidak langka sih dulu, cuma Rp 40 ribu saja,” katanya.
Warga yang membeli masker eceran juga dibatasi. Satu orang hanya empat sampai lima helai saja. Meski sudah dibatasi, kata dia masker cepat habis. Sedangkan untuk cairan pencuci tangan juga mulai dicari. Saat ini harga masih normal dan terjangkau. Berkisar puluhan ribu rupiah.
“Masih terjangkau. Ada yang Rp 20 ribu,” jelasnya.
Sukamto, Ketua Gabungan Perusahan Farmasi Indonesia Kalbar mengatakan, sejak diumumkan adanya deteksi virus yang mulai mewabah di sejumlah negara ini membuat masyarakat bertambah panik.
Apotek-apotek juga mulai kehabisan stok masker. Menurut Sukamto, suplay masker memang sudah putus sejak sebulan lalu. Ini menyebabkan kelangkaan masker di Kalimantan Barat. “Tidak ada yang bisa kami lakukan. Karena suplay masker memang sudah putus sejak sebulan lalu. Eceran yang kami batasi 10 pcs juga hampir habis,” katanya.
Terkait soal harga, dia juga mengatkan sudah tidak jelas. Hal ini karena ketersediaan masker di sejumlah apotek mulai kosong. “Harga pasti sudah jauh dari normal,” katanya.
Kini, masyarakat mulai mencari cairan pencuci tangan. Stok cairan ini di beberapa apotek juga mulai habis. Dia berharap masyarakat jangan panik. Tetaplah tenang, dan hindari keramaian bila tidak ada urusan yang mendesak.
“Tetap jaga kebersihan karena makin panik, akan memperburuk keadaan,” ulasnya.
Sementara untuk pendistribusian obat lainnya, hingga saat ini masih aman. Tidak ada yang mesti dikhawatirkan. “Obat masih aman sampai sekarang,” pungkasnya. (mrd) Editor : Shando Safela