Pengolahan sampah biodigester kapasitas tiga ton per hari yang terletak di Jalan Purnama Dua, Kecamatan Pontianak Selatan mampu menghasilkan gas, listrik dan kompos. Jika pengoperasiannya berjalan baik, energi gas, listrik dan kompos ini akan disalurkan kepada masyarakat.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
“HARI ini (kemarin) pengolahan sampah biodigester kapasitas tiga ton perhari telah diresmikan. Pontianak merupakan kota pertama yang dibangunkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tujuannya dalam upaya pengurangan sampah,” ungkap Edi Rusdi Kamtono usai peresmian pengolahan sampah biodigester kapasitas tiga ton, di Jalan Purnama Dua, Senin sore.
Ia menjelaskan, kelebihan pengolahan sampah biodigester ini bisa mengubah sampah organik menjadi gas, listrik dan pupuk kompos. Saat peresmian pengolahan sampah biodigester ia langsung melihat cara kerjanya.
Mudah-mudahan berjalannya pengoperasian biodigester ini paling tidak dapat mengurangi sampah di Tempat Pembuangan Akhir. Bonusnya pengelolaan sampah ini bisa menjadi gas, listrik dan pupuk kompos yang bisa disalurkan ke masyarakat sekitar.
Edi melanjutkan, produksi sampah perhari di Kota Pontianak mencapai 400 ton dengan 60 persennya sampah jenis organik. Artinya ada 240 ton perhari sampah jenis organik. Sampah itu dibuang ke TPA, sebagian ke TPS 3 R dan ke depan akan dijadikan sampah produktif biodigester.
“Saya optimis dengan pengembangan pengelolaan sampah biodigester ini. Bimbingan dari KLHK sangat perlu, karena untuk pengoperasiannya di sini, menggunakan tenaga kita. Saya juga akan melibatkan perguruan tinggi di Pontianak utamanya dalam penanganan sampah,” katanya.
Selain di sini (Biodigister Purnama Dua), Edi juag berencana membuatkan pengelolaan sampah biodigester di Kecamatan Pontianak Utara dan Timur. “Untuk lahan kalua di Utara banyak. Di Timur saya rasa juga masih ada,” ungkapnya.
Direktur Jenderal Pengolahan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar melihat komitmen Pemkot Pontianak dalam mengurangi sampah di TPA sangat tinggi. Melihat ini, Kementerian KLHK pun memberikan dukungan terhadap pengelolaan sampah di sini. Salah satunya pengelolaan sampah dengan teknologi biodigester. “Memang teknologi biodigester kini belum bisa menyelesaikan semua masalah sampah yang perharinya menghasilkan 400 ton. Paling tidak sebagai stimulan dan motivasi untuk pemkot agar lebih bergerak dalam penanganan persoalan sampah,” ujarnya.
Menanggapi komitmen Wali Kota Pontianak dalam penanganan smapah di kotanya, ia akan melakukan tindak lanjut ke pusat. Karena apa yang telah dicapai ini menjadi ukuran untuk terus memberikan dukungannya utamanya Kota Pontianak.(iza) Editor : Administrator