Saat ini dunia sedang menghadapi tantangan bagaimana menyediakan pangan bagi seluruh penduduk dunia. Di samping dilakukan dengan upaya peningkatan produksi dan kelancaran distribusi maka salah satu isu yang mengemuka adalah masalah sampah makanan (food wastage) yang harus ditekan jumlahnya.
IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
KEPALA Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPPKH) Kalimantan Barat (Kalbar) Muhammad Munsif mengungkapkan, pihaknya terus\e mengkampanyekan gerakan Stop Food Loss and Waste. Seperti diketahui sampah makanan sendiri digambarkan dengan dua istilah yaitu food loss dan food waste.
Munsif menjelaskan, menurut FAO dalam The State of Food Agriculture 2019 yang dimaksud dengan food loss adalah penurunan kuantitas atau kualitas makanan akibat keputusan dan perilaku pemasok makanan di luar retail, penyedia jasa makanan dan konsumen. Sedangkan food waste adalah penurunan kuantitas atau kualitas makanan akibat keputusan dan perilaku retail, penyedia jasa makanan dan konsumen.
Penurunan kuantitas pada food loss dan food waste menggambarkan kehilangan makanan secara fisik (berat). Sementara penurunan kualitas pada food loss dan food waste menggambarkan penurunan atribut makanan yang mengurangi nilai makanan tersebut saat digunakan. Seperti kandungan nutrisi dalam makanan yang berkurang atau berkurangnya nilai ekonomi makanan karena tidak sesuai dengan standar kualitas.
Saat menggelar kampanye gerakan Stop Food Loss and Waste di Waroeng Mayasi, Kota Pontianak, Mingu (13/9), pihaknya dikatakan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat luas dan sekaligus kepada penyedia jasa makanan tentang apa itu food loss dan food waste serta mengapa masalah ini menjadi sangat penting untuk dihentikan.
Termasuk juga sejauh mana prilaku individu bisa memberikan kontribusi yang buruk terhadap tingkat food loss dan food waste. Kemudian perubahan perilaku seperti apa yang diharapkan bisa berkontribusi untuk menekan seminimal mungkin food loss dan food waste.
"Dari penjajakan saat kampanye diketahui bahwa sangat sedikit sekali masyarakat yang mengetahui istilah food loss dan food waste ini," katanya, Senin (14/9).
Masyarakat luas menurutnya juga belum banyak yang memahami dampak negatif dari perilaku konsumsi yang terbiasa menyisakan makanan sehingga terbuang terhadap lingkungan. Dan juga pemborosan makanan yang secara tidak langsung bisa merugikan orang lain.
"Oleh sebab itu kampanye gerakan Stop Food Loss and Waste ini diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam konsumsi sehingga menjadi lebih bijak dan lebih peduli," tambahnya.
Kepedulian yang perlu ditumbuhkan antara lain, membiasakan untuk membeli, memasak dan mengkonsumsi pangan dalam jumlah secukupnya dan tidak berlebihan yang bisa berakibat terbuang menjadi sampah. Kedua membiasakan berbagi pangan dengan yang membutuhkan terutama pangan yang berpotensi berlebih atau tidak dimakan dan terbuang menjadi sampah.
Ketiga membiasakan menerapkan prinsip FIFO (Fist In Fist Out) atau FEFO (Fist Expire Fist Out) artinya makanan yang lebih dulu disimpan atau lebih mendekati masa expired-nya yang lebih dahulu dimanfaatkan atau dikonsumsi. Keempat menghindari menyisakan makanan yang akhirnya akan terbuang. Kelima menanamkan prinsip makan sesuai kebutuhan bukan keinginan atau tidak mengikuti hawa nafsu yang menyebabkan makanan berlebih dan akhirnya terbuang.
Lalu yang terakhir membiasakan memanfaatkan sisa makanan yang terpaksa harus ada menjadi lebih bermanfaat seperi untuk kompos atau pakan ternak. Mengapa gerakan ini penting, karena fakta menunjukkan bahwa jutaan orang di Indonesia masih mengalami kelaparan dan kekurangan makanan," terangnya.
Di lain sisi, sebagaimana dikutip dari foodsustainability.eiu.com yang menjadi ironi adalah data dari Economist Intellegence Unit (EIU) pada 2016 menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil sampah makanan terbanyak nomor dua di dunia. "Dimana disebutkan rata-rata sebanyak 300 kilogram per orang per tahun," tutupnya.(*) Editor : Administrator