Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kain Tenun Motif Corak Insang Khas Pontianak

Administrator • Kamis, 26 November 2020 | 11:07 WIB
BERKUNJUNG: Kunjungan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ke rumah produksi kain tenun.
BERKUNJUNG: Kunjungan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ke rumah produksi kain tenun.
LIVELIHOOD KOTAKU

PONTIANAK—Tenun merupakan salah satu seni budaya kain tradisional lndonesia yang diproduksi di berbagai wilayah nusantara. Kain tenun mengandung makna, nilai sejarah, dan teknik yang memiliki motif, warna, bahan dan benang sesuai dengan ciri khas masing-masing daerah.

Tenun sebagai salah satu warisan budaya tinggi (heritage) merupakan kebanggaan budaya Bangsa Indonesia sebagai salah satu jati diri dari produk bangsa. Sehingga sudah seharusnya harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya seperti kain tenun songket motif corak insang khas Kota Pontianak.

Kain tenun motif corak insang khas Pontianak biasanya digunakan untuk melengkapi pakaian tradisional. Untuk kaum wanita biasanya digunakan bersama baju kurung dan untuk laki-laki digunakan bersama baju telok belanga.

Salah satu tempat pembuatan kain tenun ini terdapat di Jalan Khatulistiwa, Gang Sambas Jaya dan Gang Sambas Mandiri, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, terdapat lima kelompok swadaya masyarakat (KSM) dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang.

Berdiri sejak tahun 2008, pembuatan kain tenun ini merupakan salah satu usaha penghasilan oleh kaum wanita di sekitar wilayah tersebut. Kain Tenun Motif Corak Insang maupun Motif Sambas dihasilkan dari menenun benang-benang pakan dan benang emas yang sudah diliring dan dimasukan ke dalam pintalan setelah itu dipantak dengan mengunakan suri agar rapat untuk kemudian ditenun menjadi kain corak insang dan kain songket sambas.

Dalam sebulan, pengrajin yang berjumlah 30 orang ini bisa menghasilkan 30 sampai 40 helai kain tenun. Proses pembuatan kain tenun memakan waktu satu sampai dua minggu karena perlu keterampilan khusus dan ketelitian dalam membuat corak atau pola sesuai pesanan dari konsumen.

Rata-rata perbulan satu orang pengrajin tenun mampu menghasilkan minimal lima lembar kain tenun songket perbulan dengan harga perlembar bervariasi antara Rp400.000 sampai dengan Rp5 juta lengkap dengan selendang dan aksesoris lainnya.

Keberadaan kain tenun motif corak insang sudah sangat dikenal oleh masyarakat secara luas maupun wisata mancanegara. Ini dapat dilihat dari kunjungan pejabat kementerian, dinas instansi, rombongan dan wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Korea dan Brunai Darusalam yang cukup intens berkunjung. Hal ini menunjukan bahwa prospek pengembangan usaha kain tenun songket yang dihasilkan oleh pengrajin di Kelurahan Batu Layang.

Selain itu kain tenun songket produksi Kelurahan Batu Layang dipasarkan juga di kota lain seperti  di Pulau Jawa melalui suplier, Malaysia, Brunai dan Singapura lewat penampung kain tenun yang berasal dari Kabupaten Sambas.

Dengan makin banyaknya kunjungan ke pengrajin tenun baik dari instansi, masyarakat Kota Pontianak dan kota lain serta wisatawan mancanegara untuk membeli hasil tenun atau ingin melihat proses pembuatan produksi kain tenun songket yang ada di kelurahan Batu Layang khusus di Gang Sambas Jaya dan Gang Sambas Mandiri, membuat pengrajin tenun mulai mengembangkan inovasi bukan hanya kain tapi baju, tanjak, tas dan sepatu dari bahan tenun.

Namun kondisi tersebut, tidak sebanding dengan infrastruktur yang tersedia. Ketika ada kunjungan banyak orang dan kendaraan, memiliki keterbatasan tempat seperti jalan sempit yang sulit dilalui kendaraan besar seperti bus, lokasi parkir yang juga belum memadai, rumah produksi yang menjadi sentral untuk dikunjungi tidak memadai/ representafif, karena ruang produksi dan hasil produksi kain tenun menjadi satu dengan kondisi yang panas dan sempit, sehingga membuat pengunjung berlama-lama untuk melhat proses produksi.

Melihat kondisi tersebut, Melalui program Kotaku berusaha menjawab permasalahan yang terdapat di lokasi tersebut. Kotaku memperbaiki yang cukup luas untuk memudahkan penenun dalam menjalankan proses menenun dan tempat memamerkan hasil produksi yang dibuat pengrajin dengan tata letak yang dibuat sedemikian rupa sehingga menarik wisatawan domestik dan mancanegara. (ser) Editor : Administrator
#kain tenun