Pandemi Covid 19 meluluhlantakkan bisnis pembudidayaan kepiting bakau di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya. Meski demikian ke 45 anggota kelompok budi daya di sana tak mati akal. Alternatif lain buat menumbuhkan perekonomian mereka lakukan dengan budi daya ikan tirus
Mirza Ahmad Muin, Pontianak
Akhir 2019 lalu, ke 45 Anggota Kelompok Keramba Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pernah merasakan panen raya kepiting bakau. Sebanyak 2,5 ton kepiting buat mengisi permintaan dari Jakarta, Bali dan Pontianak mampu mereka penuhi. Namun semenjak pandemi covid-19 menghantui, ikut berpengaruh pada usaha budidaya kepitingnya. Suheri salah satu pembudidaya kepiting mangrove, ikut merasakannya.
"Awalnya kami tergantung dari hasil kepiting bakau dan arang mangrove. Sekarang penebang mangrove dan pembudidaya kepiting punya alternatif pekerjaan lain, yaitu budidaya ikan tirus," ujar Suheri belum lama ini. Ia menuturkan, sebenarnya budidaya kepiting sempat berhasil dan sudah panen raya. Sekarangpun sebagian dari kelompoknya yang awalnya penebang mangrove punya tambak kepiting.
Budidaya kepiting tuturnya sempat berjalan. Teman-teman pembudidaya bahkan sudah menikmati hasil. Namun karena covid mengakibatkan permintaan kosong. Setelah itu, panen-panen berikutnya hingga saat ini sirna. Para pembeli dalam jumlah besar berhenti memesan selama masih terjadi Covid-19. Selama masa-masa itu, secara otomatis budidaya kepiting terhenti karena tidak ada permintaan. Penambah ekonomi dari penjualan kepiting pun tersendat.
Namun tim pendampingan dari Sampan Kalimantan dan petugas Pendampingan Perhutanan Sosial Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup (BPSKL) Wilayah Kalimantan dengan dukungan dari Yayasan Dagang Hijau Indonesia (IDH) kembali masuk dan memberikan pendampingan, dengan melirik sektor alternatif lain yang bisa membangkitkan perekonomian masyarakat. "Salah satunya budidaya ikan tirus ini," ungkap Suheri.
Pembudidayaan ikan tirus lanjut dia, menggunakan tambak kepiting. Budidayanya juga mudah. Setelah ini berjalan, iapun bisa memenuhi kebutuhan ikan pada 9 ribu penduduk di Kecamatan Batu Ampar. Sebagian lagi didistribusikan ke Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak. "Sebagian dari tambak kepiting itu off, jadi diganti untuk tambak ikan tirus. Panennya tidak lama, berat 2-3 kg sudah bisa panen. Penghasilan kami lumayan, antara Rp 6 juta sampai Rp10 juta. Ada solusi lagi untuk tidak tebang mangrove," timpal Heri.
Ia melanjutkan, nilai ekonomis ikan tirus terdapat pada gelembung renangnya yang memiliki harga sangat mahal. Per 10 gram untuk harga lokal bisa mencapai Rp 660 ribu. Konsumsi pakan dan masa panen yang cepat, menurutnya, membuat produksi ikan tirus tidak sesulit budidaya kepiting. Kantong pemasukan mereka kini terisi kembali selama Covid-19 masih berlangsung dan bisa menambah biaya produksi untuk industri hilir dari komoditas lainnya. Lanskap Manajer Yayasan IDH Kalbar Lorens mengatakan YIDH mendukung inisiatif tersebut melalui pendekatan landskap dan penerapan prinsip proteksi, produksi dan inklusi compact. "YDIH mendukung model bisnis dan transformasi pasar, serta mendukung akses pendanaan bisnis dalam skala besar," ujar dia.
Sehingga, lanjut Lorens, keberhasilan para pembudidaya kepiting bakau memunculkan alternatif ekonomi dari komoditas ikan tirus sebagai bukti mendukung perhutanan sosial yang sudah tepat. Ketika satu potensi putus, papar dia, ada alternatif lain.
Petugas pendampingan perhutanan sosial BPSKL Dede Purwansyah mengatakan bukan berarti produksi dari komoditas kepiting berhenti total karena pembudidaya beralih ke ikan tirus. Fasilitator bagi anggota kelompok budidaya Batu Ampar ini mengutarakan mereka sudah bisa memenuhi biaya produksi untuk industri hilir lain seperti kerupuk kepiting, sosis dan abon dari bahan baku kepiting.
"Sekarang yang mulai banyak permintaan itu kerupuk kepiting. Dalam 1 dan 2 bulan kemarin laris, bisa menghasilkan gabungan satu kelompok Rp 6 juta per bulan. Ada nilai tambah dari kepiting bakau walau sekarang tidak bisa kirim ke luar daerah dulu karena Covid," ujar Dede.
Dia kini bisa bernafas lega karena kepiting bakau masyarakat Batu Ampar yang sempat digadang-gadang menjadi pemasukan andalan mereka rontok karena Covid-19 tergantikan dengan permintaan ikan tirus.
"Kami tidak putus semangat karena memang masih ada tantangan lain seperti stok benih dan listrik. Tetapi, setidaknya kehadiran kepiting bakau dan ikan tirus sudah mendorong warga untuk tidak menebang sementara waktu pohon mangrove untuk arang. Semangat kami tumbuh bersama kelompok untuk tetap membangun kemandirian," kata pendiri Pesona Kalbar Hijau ini. (**) Editor : Super_Admin