SITI SULBIYAH, Pontianak
PENGETATAN aktivitas pada awal pandemi Covid-19 yang melanda Kalimantan Barat (Kalbar) membuat usaha hijab milik Yulistia, tutup sekitar dua minggu lamanya. Omzetnya anjlok, membuat arus keuangan menjadi tersendat. Sementara kewajiban untuk membayar karyawan dan biaya operasional lain harus disetorkan. Pemilik usaha Barakallahshop ini sempat dibikin pusing.
“Kondisinya benar-benar syok, kenapa bisa seturun ini? Waktu itu orang takut, sehingga tidak ada yang belanja, pendapatan kami merosot jauh,” tutur Yulistia, mengisahkan pengalamannya kala menghadapi kesulitan saat pandemi Covid-19.
Kondisi sedikit membaik, saat adaptasi baru diterapkan oleh masyarakat. Aktivitas mulai berjalan normal dengan penerapan protokol kesehatan. Berbagai jenis hijab yang ia produksi, mulai dari pashmina, khimar, hijab segi empat, kembali dicari oleh konsumen. Meski begitu, penjualannya hingga kini tak sementereng penjualan sebelum pandemi.
“Walaupun ada new normal, omzet kita belum balik seperti sebelum korona, masih 50 persen dari sebelumya. Namun, bisa bertahan saja sudah syukur,” tutur dia.
Tantangan rupanya tak hanya datang dari kondisi pandemi, namun produsen jilbab lain di luar Kalbar yang menjual hijab dengan harga yang sedikit lebih murah dari hijab yang ia tawarkan. Barakallahshop yang didirikannya pada akhir 2015 itu, merasakan persaingan yang sangat ketat dengan produsen jilbab dari Pulau Jawa, terutama sejak 2019. Namun kekhawatiran akan persaingan itu mampu diatasinya. Ia yakin, masyarakat pintar memilih hijab yang berkualitas.
“Tapi itu gak terlalu jadi masalah, apalagi yang tahu kualitas. Tantangannya saat ini adalah menjelaskan ke konsumen bahwa jilbab di sini itu berbeda, dijahit sendiri, sehingga quality kontrolnya terjamin,” ucap dia.
Karena kualitas yang baik itulah, hingga kini usaha yang dijalankannya itu mampu bertahan. Terlebih dengan dukungan promosi yang masif lewat media sosial dan memanfaatkan jasa akun media sosial, dengan pengikut yang banyak, membuat hijabnya semakin dikenal. Penjualan via marketplace juga dilakukannya untuk memperluas akses pasar. Alhasil, jilbabnya diorder dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan datang dari negeri Jiran.
“Kita minta promosikan ke teman-teman, memanfaatkan jasa selebgram lokal, dan iklan di mana-mana. Dan itu sangat memberi pengaruh, yang beli selalu ada. Semoga segera kembali normal dan profit kami kembali normal,” tutur dia.
Pengalaman sejenis juga dirasakan oleh Septiana Wulandari. Bersama dengan seorang temannya, pemilik merek WooCou Hijab ini memulai usaha hijab sejak 2016 lalu. Namun, tahun 2020 menjadi tahun terberat baginya menjalani bisnis fesyen tersebut. Sebab, pandemi Covid-19 membuat pendapatan dan daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini berakibat pada rendahnya permintaan berbagai produk, termasuk produk-produk pakaian seperti hijab.
“Sangat berpengaruh di masa pandemi ini, permintaan customer berkurang,” ungkap Wulan, sapaan akrabnya, kepada Pontianak Post.
Namun kini, perlahan dia mencoba bangkit dari kondisi tersebut. Dengan meningkatkan layanan berbelanja secara daring untuk memperluas akses pasar, dia memperbanyak promosi agar konsumen tertarik. Pandemi Covid-19 baginya telah menuntut loncatan besar dalam bisnis fesyen, terutama dalam penggunaan teknologi informasi yang meminimalisir kontak fisik dengan orang lain.
“Untuk saat pandemi, strategi pemasaran yang kami lakukan yaitu membuat produk kita mudah diakses dan dibeli serta memberikan harga yang affordable untuk pelanggan setia WooCou, memberikan diskon untuk pelanggan di waktu tertentu karena kita tahu hampir semua pendapatan masyarakat menurun di masa pandemi ini,” tutur dia.
Jika dulu strategi pemasaran yang dilakukan banyak ditempuh dengan cara mengikuti pameran di mall, dan mengikuti pelatihan/seminar/workshop wirausaha yang dimungkinkan untuk memperkenalkan produknya, namun kini pemanfaatan teknologi akan lebih dikedepankan. Selain itu, dirinya terus menjaga kualitas produk, menyesuaikan dengan perkembangan tren terkini, serta menjadi hijab yang nyaman digunakan. Tak hanya menjaga kualitas, langkah kolaborasi juga ditempuhnya.
“Kami memberikan inovasi terbaru yaitu produk baru yang trendi namun tetap nyaman digunakan oleh pelanggan, paket hijab unik yang selalu ditunggu oleh customer WooCou, dan memberikan hot promo di hari tertentu, serta meluaskan pemasaran dibantu oleh reseller dari luar kota Pontianak. Kami juga akan berkolaborasi dengan brand yang menjual masker untuk membuat paket hijab new normal,” pungkas dia. (*) Editor : Super_Admin