Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Pencinta Cupang, Tertarik Karena Cantik

Siti • Minggu, 14 November 2021 | 10:16 WIB
Seorang pencinta cupang, Eman, saat menjelaskan hal menasik soal ikan ini. SITI/PONTIANAKPOST
Seorang pencinta cupang, Eman, saat menjelaskan hal menasik soal ikan ini. SITI/PONTIANAKPOST
Peminat ikan cupang di Kalimantan Barat (Kalbar) tak pernah kehabisan. Para pencintanya punya kesukaannya masing-masing. Ada yang suka cupang alam karena keasliannya. Ada pula yang senang cupang hias karena warnanya yang menarik.

Oleh : Siti Sulbiyah

Pecen Timothy rela menerobos hutan demi menemukan ikan cupang. Bukan sembarang ikan cupang yang ia cari. Ikan cupang yang ia cari adalah ikan cupang alam yama secara liar di habitat aslinya.

“Cari cupping di hutan, di rawa atau genangan. Atau di aliran gunung,” ucap kolektor ikan cupang alam ini.

Mencari cupang di hutan dan rawa, baginya tak terlalu rumit. Hanya yang menjadi kekhawatirannya adalah munculnya hewan reptil berbisa yang akan membahayakan dirinya. Hutan dan rawa memang menjadi habitat bagi hewan reptil seperti ular.

Pecen mulai mengoleksi ikan cupang alam ini sesak tahun 2020. Ia tertarik karena ikan cupang alam adalah endemik dari Kalimantan. Jika dibandingkan dengan cupang hias, perbedaannya cukup jelas, terutama dari segi ukuran. 

“Ukurannya (cupang alam, red) lumayan besar. untuk dewasa bisa 9-10 cm. Sementara cupang biasa, ukurannya lebih kecil, sekitar 5-6 cm,” jelasnya.

Pecen sendiri lebih sering mencari ikan cupang di Anjungan, Kabupaten Mempawah. Namun ia juga menampung dari para pencari ikan cupang dari berbagai daerah di Kalbar, seperti dari Sanggau dan Kapuas Hulu. 

Tak sekedar mengoleksi, ia juga turut mengembangbiakkan ikan berukuran kecil ini. Dari hasilnya melakukan perkembangbiakan, ia jual ke berbagai daerah. Andalannya adalah memanfaatkan penjualan secara daring. Pelanggan terbesarnya adalah dari Jakarta.

“Kita kirim ke reseller yang ada di Jakarta untuk dikirim ke luar negeri,” ujarnya.

Photo
Photo
Ikan cupang yang dopamerkan dalam kegiatan Borneo Betta Show, di Gaia Bumi Raya City Mall, 10-14 November 2021. SITI/PONTIANAKPOST

Berbeda dengan Pecen yang memelihara cupang alam, Albert lebih senang mengembangkan cupang hias yang kebanyakan diternakkan. Sejak kecil ia tertarik dengan ikan yang juga kerap dibilang ikan laga ini. Sekitar tahun 2019, ia memutuskan untuk fokus mengembangbiakkan ikan tersebut.

“Kalau saya tertarik karena warnanya yang cantik. Jenisnya juga beragam,” katanya.

Salah satu jenis disenanginya adalah cupang ekor jarum lantaran bagian ekornya yang mengembang dan membentuk susunan jarum. Saat berenang, bagian ekor yang mengepak semakin membuat hewan satu ini menarik untuk dilihat.

Albert juga menjual cupang yang ia kembangbiakkan. Tak hanya pasar dalam negeri, permintaan dari negara lain juga pernah ia dapatkan. “Untuk harganya ada yang puluhan ribu, ratusan, bahkan jutaan rupiah. Tergantung kualitasnya seperti apa,” katanya.

Penjualan juga dilakukan dengan lelang secara daring. Boleh dikatakan, setiap hari pelelangan dilakukan. Namun, kala pandemi Covid-19, penjualan mengalami penurunan.

Untuk perawatan, menurutnya tidak begitu sulit. Agar ikan tetap sebat, air harus diganti minimal 3-4 hari sekali guna menjaga PH air sekitar 6,5. Begitu pula dengan pakan yang juga mudah didapat. Pelet untuk ikan cupang saat ini sudah banyak yang menyediakan.

“Pakannya adalah pelet. Nah palet ini ada yang berbeda peruntukannya, ada yang untuk pembesaran, pelet untuk mempercantik warna cupang, dan lain-lain,” imbuhnya.

Tetapi menurutnya pakan terbaik cupang adalah kutu air dan jentik. Kedua pakan ini mengandung protein yang diperlukan oleh cupang, sehingga kesehatannya terjaga. Ketika dulu ikan cupang naik daun, dirinya pernah mengalami kesulitan mendapatkan kutu air.

Pencinta cupang lainnya adalah Eman. Warga Sintang ini tertarik dengan cupang sejak kecil. Waktu masih bocah, ia kerap menangkap ikan cupang di sawah dengan berbekal serokan. Ketertarikannya pada cupang ini jugalah yang membuatnya mengundurkan diri dari pekerjaannya. 

“Mulai serius dengan (usaha) cupang tahun 2017. Putuskan resign waktu itu setelah usaha dirasa siap,” ujarnya.

Sebelum benar-benar meninggalkan pekerjaannya, ia telah belajar cara berbisnis serta pembiakan cupang. Tidak hanya memahami cupang sebagai ikan, namun sebagai komoditas yang bernilai ekonomi. Keyakinannya berbisnis, juga karena potensi pengembangan cupang dari Kalbar juga terbuka levar.

“Kalbar itu punya ikan cupang yang bagus-bagus. Kalau ada kontes di luar, ikan cupang Kalbar pasti ada yang memboyong piala,” katanya.

Cupang yang ia Jual persah terjual oleh pembeli dari Malaysia. Bersama rekannya, ia juga pernah mengikuti kontes cupang di Kinabalu, Malaysia. Kedatangannya bukan sekedar ikut kontes, namun lebih kepada pengenalan cupang Kalbar, sekaligus belajar penyelenggara kontes ikan cupang berskala internasional.

Bikin Kontes

Pandemi Covid-19 membuat berbagai aktivitas serba terbatas. Termasuk untuk penyelenggaraan event lomba dan bazar. Kontes ikan cupang yang kerap digelar di berbagai daerah pun harus vakum. Omzet para peternak ikan cupang juga mengalami penurunan. Berangkat dari Hal Ini, Eman bersama seorang rekannya berinisiatif untuk menggelar kontes cupang secara daring.

“Kita cari ide biar kontes cupang ini tetap ada, agar pemain cupang tidak hilang,” tutur Eman, pencinta ikan cupang.

Setelah kasus covid-19 melandai, dan aktivitas dilonggarkan, ia bersama rekannya sesama pencinta ikan cupang berinisiatif menggelar kontes ikan secara langsung. Borneo Betta Show, nama yang dipilih untuk kontes ikan yang direncanakan tersebut. Kegiatan ini berlangsung di Gaia Bumi Raya City Mall, 10-14 November 2021.

Setelah puasa kontes cupang secara tatap muka, Borneo Betta Show pun ramai peminat. Kontes ikan cupang level nasional ini, mendatang peserta dari dalam dan luar Kalbar. Pihaknya menargetkan 1100 ikan cupang yang diikutkan dalam kontes ini.

“Yang daftar secara online ada sekitar 380, nanti ada juga secara on the spot. target kami 1100,” ujarnya.

Dia mengatakan, standar penilaian kontes cupang yang digelar tersebut berdasarkan International Betta Congress (IBC). Untuk kelas yang dipertandingkan, antara lain, Halfmoon, Doubletail Halfmoon, Crowntail, Shortfin, Giant Show Plakat, Female, Junior Longfin, Junior Shortfin, Color Variation, serta Trial Class. 

“Yang menjadi penilaian itu seperti warna, ada yang warna solid, pattern, dan multi color. Selain warna juga performa dan kesehatan ikan,” pungkas dia. 

Menang Kontes Makin Mahal

Harga ikan cupang memang sangat beragam tergantung warna, performa, kesehatan, hingga jenisnya. Albert, pencinta ikan cupang di Kalbar, menilai, ikan dengan warna yang indah cenderung disukai oleh masyarakat awam. 

“Kalau masyarakat biasa, yang tidak mengerti soal cupang, pasti lebih banyak memilih ikan cupang dari segi warna,” katanya.

Untuk harga cupang, menurutnya sangat variatif, mulai dari puluhan ribu rupiah sampai ratusan rupiah per ekor. Semakin tinggi nilai warna, performa, dan kesehatannya, semakin mahal pula harganya. Bahkan ikan cupang juga sering terjual hingga jutaan rupiah.

“Rentang harganya ada yang 2-5 jutaan rupiah per ekor,” sebutnya.

Ikan cupang yang sering menang kontes biasanya akan dijual dengan harga jutaan rupiah. Inilah salah satu alasan kontes ikan cupang digelar, yakni untuk meningkatkan nilai ekonomisnya.

“Ketika ikan itu juara, harga jualnya lebih tinggi. Bisnisnya di situ semakin sering juara, maka harganya semakin mahal,” tutupnya.** Editor : Siti
#cupang