Penantian siapa yang bakal menduduki jabatan Pimpinan Tinggi Madya Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat (Kalbar) akhirnya terjawab. Hari ini Gubernur Kalbar Sutarmidji resmi melantik mantan Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson sebagai Sekda yang baru.
Ini merupakan hasil akhir dari rangkain proses seleksi terbuka jabatan Pimpinan Tinggi Madya Sekda Kalbar sejak September 2021. Nama Harisson memang menduduki peringkat pertama dari hasil akhir seleksi dengan total nilai 87,97. Sementara yang menduduki peringkat kedua adalah Syarif Kamaruzaman dengan nilai 87,63 dan di peringkat ketiga ada Ignasius IK dengan nilai 86,21.
Sebelum dilantik, Pontianak Post berkesempatan mewawancarai Harisson tentang perjalanan karirnya sebagai birokrat. Menurutnya apa yang diraih sampai hari ini sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya. Harisson hanya memiliki prinsip, selalu bekerja dengan ikhlas dan tuntas. Ternyata prinsip itulah yang kemudian bisa mengantarkannya sampai pada jabatan yang sekarang.
“Bekerja itu harus ikhlas dan tuntas, jika diberikan atasan tugas, walaupun misalnya kita ragu atau kayaknya tugas itu susah untuk dikerjakan, jangan langsung menyerah. Kerjakan dulu, sebab sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin jika ada niat dan dikerjakan,” katanya membuka percakapan, Kamis (13/1).
Pria kelahiran Palembang 8 Agustus1966 itu mulai berkarir di Kalbar tahun 1994 atau sekitar 28 tahun yang lalu. Sejak awal, Harisson memang bercita-cita menjadi dokter. Lulus dari SMA Xaverius 1 Palembang tahun 1985, ia lalu melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya.
Tujuh tahun kemudian, ia lulus kuliah dan langsung bekerja di salah satu klinik di Rumah Sakit (RS), daerah Tangerang pada 1992. Sampai akhirnya anak sulung dari lima bersaudara itu bertemu dengan seorang teman yang merupakan pengusaha perkebunan kelapa sawit di daerah Meliau, Kabupaten Sanggau. Oleh temannya tersebut ia diajak menjadi dokter di perkebunan. Ia pun setuju.
“Karena pada waktu itu, tidak ada dokter di perusahaan tersebut. Saya ke Kalbar menggunakan kapal karena tidak memiliki uang yang cukup. Saya datang (ke Kalbar) tahun 1994,” ceritanya.
Tak begitu lama bekerja sebagai dokter di perkebunan, Harisson kemudian memilih melamar sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT). Ia diterima pada 1995 dan langsung ditempatkan di Puskesmas Teluk Batang. Saat itu masih Kabupaten Ketapang. “Waktu itu karena dokter masih sedikit, jadi wilayah kerja Puskesmas tersebut (luas) yakni sampai ke Kecamatan Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir dan Kecamatan Seponti,” ujarnya.
Sesuai dengan prinsipnya yang selalu bekerja dengan ikhlas dan tuntas, tiga tahun mengabdi sebagai dokter PTT justru mengantarkannya menjadi dokter teladan. Kala itu Harisson menduduki peringkat kedua dokter teladan se-Kalbar. Nilainya di bawah dr. Sidig Handanu yang saat ini menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak. “Saya menjadi dokter teladan dua se-Kalbar. Teladan satunya Pak Handanu. Pak Handanu saat itu sudah pegawai negeri, saya masih PTT,” terangnya.
Prestasi itu yang lantas membuat ayah berusia 55 tahun itu diangkat menjadi dokter pegawai negeri. Ketika berstatus PNS pada 1998, ia langsung ditempatkan di Kabupaten Kapuas Hulu. Awal berkarir di sana, ia masih ditempatkan di ibu kota kabupaten, yakni di RSUD dr. A. Diponegoro, Putussibau.
Tapi itu tak lama, hanya berselang dua tahun tepatnya di tahun 2000, Harisson ditugsakan sebagai dokter di Puskesmas Bunut Hilir. Setahun di sana, ia kembali pindah ke Puskesmas Semitau. “Dari 2001 hingga 2003 saya dipindahkan ke Puskemas Semitau. Dari Puskemas Semitau tahun 2003 hingga 2006 saya di Puskesmas Kedamin,” terangnya.
Saat bertugas sebagai dokter di Puskesmas Kedamin itulah yang menurutnya banyak pengalaman menarik. Salah satu yang tak pernah ia lupakan adalah ketika harus memberikan pelayanan kesehatan hingga ke wilayah pedalaman. “Puskesmas Kedamin, Kapuas Hulu itu wilayah kerjanya mencapai Tanjung Rokan yang merupakan daerah perhuluan dan harus melewati arung jeram,” katanya.
Untuk bisa sampai ke Tanjung Rokan perlu waktu seharian. Transportasinya menggunakan perahu kayu panjang dan melalui sungai yang deras juga berbatu. Ketika berangkat pun, di sepanjang perjalanan ia dan rombongan harus singgah di kampung-kampung untuk memberikan pelayanan.
Harisson masih ingat, ketika sampai di Desa Beringin, pemberhentian terakhir sebelum sampai ke Tanjung Rokan, waktu sudah cukup sore. Tapi dari perhitungan rombongannya saat itu, perjalanan masih bisa dilanjutkan. Perkiraan sampai di Tanjung Rokan pas ketika magrib.
Namun ternyata, prediksi mereka meleset. Akibat hujan yang cukup deras di perjalanan, mesin perahu sempat mati. Sepanjang sungai pun kondisinya sudah gelap gulita, sehingga perjalanan tak mungkin dilanjutkan. “Itu di tengah sungai (karena mesin mati) walaupun dangkal akan tetapi arusnya deras karena daerah perhuluan. Terpaksa kami turun dari perahu, dorong pelan-pelan dan ke tepi,” ujarnya.
Sampai akhirnya Harisson beserta tim berjumlah enam orang harus menginap di hutan di pinggir sungai. Mereka baru melanjutkan perjalanan keesokan harinya. “Kami mencari tempat langkau (pondok), lalu kami menginap di langkau tersebut. Banyak nyamuk dan yang kami takutkan ada binatang liar, syukurnya tidak ada,” kisahnya.
Tak hanya itu, kejadian unik lainnya dialami ketika ia membantu seorang ibu melahirkan. Saat itu selain menjadi dokter umum di Puskesmas Kedamin, Harisson juga bertugas di RSUD dr. A. Diponegoro. Karena kondisi ketika itu tak banyak dokter spesialis kandungan, tak jarang ia harus membantu persalinan di RS milik pemerintah Kapuas Hulu tersebut.
Pernah ada satu kasus, kata Harisson seorang ibu yang awalnya melahirkan di kampung, tetapi tidak berhasil atau mengalami partus macet. Maka, ibu tersebut dibawa ke RS tempat ia bertugas. Dan kebetulan kondisinya sudah dalam keadaan benar-benar mau melahirkan, tetapi macet. Si ibu sudah tidak mungkin dirujuk lagi ke Sintang yang memiliki dokter spesialis.
Maka Harisson lah yang harus melakukan tindakan. “Bayinya sudah gawat janin, maka tidak ada cara lain, maka kami harus melakukan pertolongan di situ. Jadi dokter umum melakukan tindakan operasi (sesar) persalinan,” ungkapnya.
Bersyukur dari pengalaman dan keahlian yang dimiliki, Harisson berhasil melaksanakan operasi itu dengan baik. Kejadian itu pun sudah sempat ia lupakan. Hingga beberapa tahun kemudian, setelah menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kapuas Hulu, ia didatangi seorang ibu.
Kejadiannya ketika Harisson melakukan kunjungan kerja ke salah satu kecamatan di sana. Ibu tersebut membawa seorang anak yang sudah bersekolah kelas satu Sekolah Dasar (SD). “Dia bilang, Pak Harisson masih ingat dengan saya atau tidak, jadi saya kan sudah tidak kenal,” ucapnya.
Ternyata ibu dan anak tersebut adalah warga yang pernah ia operasi dulu, ketika melahirkan. Dan yang membuatnya cukup terharu adalah si ibu memberikan nama Harisson kepada anak laki-lakinya. Nama Harisson sengaja dipilih sebagai bentuk terima kasih dan pengingat kepada dokter yang menyelamatkan nyawanya dan anaknya.
“Jadi ibu itu bilang, sebagai bentuk untuk mengenang bapak anak ini saya beri nama Harisson. Saya senang, melihat ibunya sehat dan anaknya sudah sekolah,” kenang pria yang masa mudanya aktif sebagai pengurus HMI di kampus itu.
Itulah sekelumit kisah yang ia alami selama bertugas di awal-awal karirnya sebagai dokter. Dalam kondisi yang serba terbatas, mulai dari alat transportasi hingga komunikasi yang sulit ketika itu, menurutnya dokter harus tetap berusaha maksimal, memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Sampai akhirnya Harisson diangkat sebagai Direktur RSUD dr. A. Diponegoro mulai 2006 hingga 2010. Kemudian berlanjut pada 2010 hingga 2019, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kapuas Hulu. “Lalu 2019 hingga sekarang (kemarin) saya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar,” tutup Sekda Kalbar itu. (bar) Editor : Misbahul Munir S