Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rujukan Informasi Terpercaya, Media Cetak Tetap Eksis di Era Digital

Syahriani Siregar • Rabu, 2 Februari 2022 | 16:22 WIB
Warga sedang bersantai di warung kopi ditemani koran Pontianak Post. (Meidy Khadafi/Pontianak Post)
Warga sedang bersantai di warung kopi ditemani koran Pontianak Post. (Meidy Khadafi/Pontianak Post)
PONTIANAK - Media cetak hingga kini masih eksis di tengah tumbuhnya media-media daring. Media cetak seperti koran masih menjadi rujukan informasi yang terpercaya dan berkualitas bagi masyarakat, khususnya di Kalimantan Barat. Selain itu, media cetak kini juga menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, yakni dengan bertransformasi menjadi koran digital (e-paper).

Firmansyah, warga Pontianak, mengakui hal tersebut. Firman merupakan salah satu pembaca setia Pontianak Post. Dia sudah berlangganan Pontianak Post sejak lama.

“Awalnya ayah saya yang berlangganan. Setelah beliau wafat, saya tetap meneruskan langganan Pontianak Post,” ungkap warga Pontianak Selatan itu.

Menurut Firman, membaca koran adalah kebiasaan baik yang dapat memberikan nilai pendidikan yang tinggi.

“Menurut saya, sajian koran masih sangat sarat nilai pendidikan. Berita yang ditampilkan lebih mendalam ketimbang berita online,” ujarnya.

Satu terbitan surat kabar bisa mencakup tentang politik, ekonomi, hiburan, olahraga, bisnis, industri, hingga perdagangan.

“Dengan kebiasaan ini, tidak hanya akan meningkatkan pengetahuan pembaca tentang informasi umum tetapi juga akan meningkatkan kemampuan bahasa dan kosa kata,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar FMIPA Universitas Tanjungpura, Prof Dr Thamrin Usman DEA menyebut koran Akcaya (Pontianak Post) telah dikenalnya sejak masih anak-anak. Menurut Thamrin, Koran Akcaya mudah ditemui di warung kopi, sekolah, hingga perkantoran. Ketika menjadi dosen dia pun mulai berlangganan Pontianak Post hingga sekarang.

Menurutnya koran adalah sumber informasi penting. Terutama untuk mengetahui peristiwa terkini dari luar negeri, nasional, maupun Kalimantan Barat. Surat kabar juga digunakannya untuk memperkaya wawasan. Bahkan sekadar menyegarkan pikiran atau sebagai saluran hobi membacanya.

"Sebelum berangkat kerja saya selalu membaca Pontianak Post. Bila tidak selesai saya melanjutkannya di kampus. Karena di setiap Fakultas Untan juga langganan koran," sebut mantan Rektor Untan ini.

Kini di era digital, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalbar ini tetap berlangganan Pontianak Post. Kendati tsunami informasi terus berlangsung di internet, dia merasa lebih nyaman membaca surat kabar.

"Saya juga membaca media online yang lebih cepat sampainya. Tetapi saya juga membaca koran karena tampilannya, dan sudah biasa dan lebih fokus membaca lewat koran. Selain itu fisik koran juga bisa disimpan atau dikoleksi," ungkapnya.

Di usia Pontianak Post yang ke-49 tahun, dia berharap koran ini tetap menyajikan berita yang berkualitas, informatif, edukatif, dan berimbang.

"Selamat ulang tahun Pontianak Post. Semoga selalu hadir menyajikan berita yang adil, berimbang, akurat mengedukasi masyarakat," kata dia.

Hal senada disampaikan Dr Erdi Abidin. Dosen Fisip Untan itu mengatakan, setiap pagi dia selalu rutin membaca Pontianak Post.

“Menurut saya, terasa tidak lengkap tanpa membaca koran Pontianak Post setiap pagi,” ungkapnya.

Membaca koran, kata Erdi, menjadi kebiasaan yang baik dan sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Kebiasaan ini akan memperluas pandangan serta pengetahuan pembaca.

“Melalui surat kabar, pembaca akan memiliki gagasan dan pemahaman yang jelas tentang apa yang terjadi di berbagai daerah hingga dunia,” jelasnya.

Nilai membaca surat kabar jauh melampaui apa yang didapatkan dalam berita, hiburan, gaya hidup, dan lain sebagainya. Jika secara teratur membaca koran yang ditulis dengan baik dan seimbang, itu juga dapat membantu merangsang fungsi otak untuk meningkatkan kinerja, serta memacu untuk berpikir kritis.

Menurut Erdi, surat kabar juga membantu pembaca menjaga perspektif yang seimbang tentang cerita dan masalah. Meskipun banyak pembaca memiliki bias, surat kabar yang bertanggung jawab akan menyesuaikan liputan dengan cara yang menyajikan berita dari semua sudut sehingga setiap pembaca dapat menarik kesimpulannya sendiri.

Seiring bertambahnya usia, salah satu keuntungan terbesar membaca koran adalah efek positif membaca terhadap kesehatan mental. Dalam arti tertentu, pikiran seperti kebanyakan bagian tubuh lainnya.

“Orang yang tidak banyak bergerak lebih rentan untuk mengembangkan keterbatasan fisik, orang yang tidak menggunakan pikiran mereka cenderung menjadi terhambat dalam kemampuan kognitif mereka,” tambahnya.

Di sisi lain, koran memiliki kekurang dan kelebihan apabila dibandingkan dengan media daring yang mengutamakan kecepatan. Di antara keuanggulan media cetak adalah dari segi kueliats konten. Konten media cetak dianggap lebih berkualitas jika dibandingkan dengan media daring. Jika media daring, kerap mementingkan judul bombastis, media cetak tidak demikian. Judul sederhana sesuai isi berita.

Aktivis Literasi, Deman Huri Gustira menilai, media cetak lebih kredibel dibanding media lain. Menurut Deman, di era banjir informasi saat ini, berita bisa dengan mudah diproduksi oleh siapapun. “Akibatnya, berita hoaks bisa dengan mudah muncul dan menyebar,” katanya.

Kualitas berita yang ditampilkan media daring pun kerap dipertanyakan karena sering memunculkan berita clickbait. Hal tersebut tidak terjadi pada media cetak.

“Berita media cetak biasanya lebih terpercaya karena ada proses verifikasi berlapus. Berita yang mengandung hoaks kecil kemungkinan terbit di media cetak,” jelasnya.

Iklan di media cetak tidak terlalu mengganggu. Iklan yang kerap memenuhi halaman media daring, mulai dari gambar hingga video yang diputar secara otomatis. Iklan-iklan tersebut tak jarang menutup konten berita. Ada juga iklan animasi yang berisi gambar vulgar sehingga membuat pembaca tidak nyaman.

Lebih parah lagi, jika tampilan berupa iklan pop-up yang muncul di jendela baru secara otomatis. Berbeda dengan media daring, iklan di media cetak tidak terlalu mengganggu. Bahkan di media cetak, terdapat iklan baris yang sangat informatif dan dicari-cari oleh pembaca.

Selain itu, koran tidak menampilkan paginasi yang berlebihan. Sebagian media daring menyampaikan berita harus membagi sebuah konten menjadi beberapa halaman. Hal itu bisa terlihat pada bagian bawah berita ada nomor 1 2 3 yang harus diklik agar bisa membaca kelanjutan tulisan. Padahal boleh jadi isi beritanya tidak terlalu panjang. Sementara media cetak, isi berita kadang kala dicetak secara penuh. Kalau pun ada yang dibagi, itu biasanya terjadi pada halaman pertama dengan sambungan di halaman lain dan hanya bersambung satu kali saja. (ars/sti) Editor : Syahriani Siregar
#koran pontianak post #digital #hut pontianak post ##temanpertamadanterutama #pontianak post