Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gurita Sampah Kantong Plastik yang tak Pernah Titik

Misbahul Munir S • Minggu, 3 Juli 2022 | 10:15 WIB
SAMPAH PLASTIK: Tumpukan sampah kantong plastik yang menggunung dan menjadi sampah mayoritas di Tempat Pembuangan Akhir Batu Layang, Kota Pontianak. DOKUMEN
SAMPAH PLASTIK: Tumpukan sampah kantong plastik yang menggunung dan menjadi sampah mayoritas di Tempat Pembuangan Akhir Batu Layang, Kota Pontianak. DOKUMEN
Hari Bebas Kantong Plastik Internasional (Internasional Plastic Bag Free Day) digagas Zero Waste Europe Bag Free World (ZWE) dengan tujuan untuk memberantas penggunaan barang-barang plastik sekali pakai. Hari tersebut diperingati setiap 3 Juli setiap tahunnya, di mana untuk kali pertama diperingati pada 2008. Bagaimana dengan penerapannya di Kota Pontianak? Pontianak Post menurunkan liputannya kali ini.

MIRZA A. MUIN, Pontianak

JUMLAH sampah plastik yang berada di Tempat Pembuangan Akhir Batulayang terus meningkat. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pun berupaya dalam pengurangan penggunaan bahan plastik melalui regulasi dan sosialiasi pada masyarakat.

Photo
Photo


Ancaman penumpukan sampah plastik di TPA Batulayang kian santer. Sampah-sampah berbahan plastik ini menjadikan persoalan baru saat ini. Sebab sampah berbahan dasar plastik akan lama musnah. Bahkan, puluhan hingga ratusan tahun ke depan keberadaan sampah jenis plastik paling lama terurai.

Dalam upaya mengurangi penggunaan plastic, Pemkot melalui DLH saat ini sudah melakukan berbagai upaya, baik regulasi dan aksi di tataran masyarakat.

Kepala DLH Kota Pontianak, Saptiko, membenarkan bahwa ke depan pengurangan penggunaan kantong plastik bakal terus digencarkan di tataran masyarakat. Di beberapa supermarket, diakui dia, malah telah mengatur untuk penggunaan kantong plastik berbayar.

Photo
Photo


"Aturan ini sebagai upaya kami agar masyarakat berpikir tidak lagi menggunakan plastik. Namun bisa dengan menggunakan wadah sendiri untuk membawa barang-barang yang telah dibeli," ujarnya kepada Pontianak Post, Jumat (2/7).

Kampanye pengurangan sampah plastik sampai sekarang masih terus mereka gaungkan. Sasaran mereka adalah kantor, sekolah, hingga hotel-hotel. Dalam penguatan sosialisasi itu, pihaknya juga membuat surat edaran pengurangan penggunaan plastik.

Keberadaan beberapa bank sampah yang ada, menurut Saptiko, juga ikut membantu dalam menyosialisasikan pengurangan sampah plastik pada masyarakat. Bahkan sebagian masyarakat, diakui dia, lebih memilih mendaur ulang sampah plastik menjadikan produk lain dan bahan bakar.

Di tataran kantor dan lembaga, saat ini, menurut dia, juga sudah mulai mengurangi penggunaan air kemasan plastik. Dari aturan yang dibuat, sejauh ini beberapa hotel, menurut dia, sudah menjalankan aturan tersebut. Kini dalam penyediaan air putih, perkantoran, menurut dia, tak lagi menggunakan botol kemasan. Botol kemasan tersebut, dikatakan dia, kini diganti dengan menggunakan gelas dan teko bagi tamu-tamu dalam hotel.

"Sosialisasi 3R (atau) Reduce, Teuse, dan Recycle juga kencang kami gaungkan," ujarnya.

Dengan yang sudah dilakukan ini, Pemkot menargetkan pengurangan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) harusnya bisa hingga 25 persen.

"Kita akan kurangi dengan cara mengelola sampah habis di lingkungan. Nanti sampah dipilah dan diproses dengan konsep 3R maupun bank sampah yang ada. Menjadi kompos kalau sampah organik dan gas metan," ujar Wali Kota (Wako) Pontianak Edi Rusdi Kamtono.

Edi menambahkan, limbah yang diproduksi masyarakat Kota Pontianak saat bisa mencapai 400 ton perhari. 40 persen dari total limbah, dipaparkan dia, terdiri dari 17 persen sampah plastik dan sisanya bervariasi, mulai dari sisa-sisa kaca, kayu, kertas dan lain-lain.

“Jika ini tidak dikelola secara baik, pertama, akan merusak dan mengganggu dari sisi kesehatan terutama dan juga kelihatannya tidak enak dipandang mata,” terangnya.

Dia mengajak masyarakat untuk bekerja sama dalam hal pengelolaan sampah. Menurutnya, kesadaran warga merupakan kunci mewujudkan kota bersih. Sebagai gambaran dia, hal sederhana yang bisa dilakukan dengan tidak membuang sampah sembarang.

Paling baru, Pemkot telah menjalin kerja sama dengan PT. Kusuma Jaya Agro untuk pengolahan sampah dan co-firing sebagai bahan bakar energi baru terbarukan. Dalam kerja sama ini Pemkot menyediakan lahan untuk pembangunan pabrik co-firing.

"Dengan adanya kerja sama ini sangat-sangat membantu kita dalam mengatasi persoalan sampah di Kota Pontianak," ujarnya, belum lama ini. Hanya saja, lanjutnya lagi, perlu diatur manajemen dalam pengelolaan sampah. Harapan dia agar bisa dipisahkan sampah mana yang diolah di bank sampah dan mana yang di TPA.

"Dari pihak kita menyediakan sarana angkutan untuk sampah-sampah yang akan dikelola pabrik co-firing dan lain sebagainya," ungkap Edi.

Kerja sama ini, menurut Wako, terjalin dilatarbelakangi oleh kesulitan dalam menangani permasalahan sampah yang terus membeludak di Kota Pontianak. Produksi sampah di kota ini, diakui dia, hampir mencapai 400 ton perhari. Jumlah itu, diperkiriakan dia, bisa melebihi apabila memasuki musim buah-buahan seperti durian, rambutan dan buah-buahan lainnya. Bank sampah yang ada, diakui dia, juga tidak bisa mengolah seluruh sampah yang dihasilkan.

"Selama ini sampah yang ada dibuang ke TPA, misalnya sampah yang berasal dari pasar-pasar tradisional. Oleh sebab itu kerjasama ini setidaknya akan membantu mengatasi persoalan sampah selama ini," ucapnya.

Persoalan sampah di Kota Pontianak, diakui Wako, sudah mulai mencemari lingkungan dan memberikan dampak terhadap efek rumah kaca. Hal ini, menurut dia, diperparah dengan banyaknya sampah plastik yang tidak bisa terurai hingga 100 tahun lamanya. Menurutnya, masyarakat perlu diberikan edukasi bagaimana menangani sampah terutama yang ada di rumah tangga, misalnya melalui sistem 3R.

"Masyarakat semakin pintar cara memilah dan menghadapi sampah sehingga harus diberikan pengetahuan," imbuhnya.

Direktur PT. Kusuma Jaya Agro, Raden Hidayatullah Kusuma Dilaga berharap kerja sama ini mampu menyelesaikan persoalan sampah di Kota Pontianak. Pihaknya juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat yang mana salah satunya BUMN PLN grup memberikan solusi masalah sampah menjadi co-firing atau produk energi baru terbarukan.

"Selain sampahnya bisa hilang, juga bisa menjadi sebuah produk bahan bakar pengganti batu bara sehingga bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik yang ada di Kalbar," paparnya.

Pihaknya berencana membangun pabrik co-firing yang berlokasi di TPA Batu Layang. Hasil dari pengelolaan sampah ini akan ditujukan untuk mendukung pembangkit listrik yang ada di Singkawang, karena di sana terdapat dua pembangkit listrik besar. Dijelaskannya, sampah-sampah yang ada diolah terlebih dahulu di pabrik co-firing. Lewat MoU ini, diharapkan dia pembangunan pabrik itu akan dibekali teknologi dari Indonesia Power. Sebagai langkah awal, bersama Pemkot, pihaknya akan melakukan studi tiru di Kota Cilegon untuk melihat mesin sekaligus portofolio bagaimana yang akan dibangun di Pontianak.

"Di sana masih dalam kapasitas kecil 5 ton perhari. Sedangkan di Pontianak kita akan buat minimal 100 ton per hari," tukasnya.

Mochamad Soleh, head of Research Innovation and Knowledge Management PT. Indonesia Power, menambahkan, jika dibandingkan energi yang dihasilkan, 1 ton sampah yang diolah menjadi bahan bakar, akan menghasilkan 300 kilogram bahan bakar dengan nilai kalori sekira 3.400 kilokalori perkilogram.

"Jadi dari satu ton sampah terjadi penyusutan karena termasuk sampah basah, menjadi bahan bakar yang sudah kering seberat 300 kilogram. 300 kilogram ini nilai kalorinya 3.400 kilokalori perkilogram, itu jumlah minimalnya," katanya.

Pihaknya sudah pernah melakukan ujicoba beberapa komposisi dan hasilnya bisa mencapai 4 ribu kilokalori perkilogram. Nilai kalori itu, menurut dia, hampir setara dengan batu bara. Dalam pengolahan sampah, teknologi yang mereka gunakan sudah ramah lingkungan karena sampah yang diolah tanpa B3 dan bisa terbakar. Hasil survei yang mereka lakukan, 80 persen diantaranya mengandung organik, yakni sampah-sampah sisa makanan. Sedangkan 20 persennya, diakui dia, adalah plastik.

"Plastik seperti kantong kresek, kemasan plastic, dan sejenisnya," tuturnya.

Kemudian, dijelaskan dia, dari 80 persen organik itu, sudah pasti dihitung sebagai karbon netral. Sedangkan yang 20 persen, menurut dia, memang masih dianggap sebagai bahan bakar turunan dari fosil. Yang menjadi komponen berbahaya seperti dikhawatirkan dia adalah dioksin furan. Untuk mengatasi hal ini, pembakaran mereka lakukan di PLTU dengan ruang bakar mencapai di atas seribu derajat. Jadi nanti pembentukan dioksifurannya diharapkan dia, sudah terurai di atas 700 derajat.

"Kalau dari sisi emisi, itu cukup aman untuk lingkungan, artinya masih di bawah baku mutu lingkungan emisi hasil pembakaran sampah ini," tutupnya.(*) Editor : Misbahul Munir S
#sampah plastik #Terus Meningkat #DLH #dinas lingkungan hidup