Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pengemudi Ojol Ingin Tarif Ikut Disesuaikan dengan Kenaikan Harga BBM

Syahriani Siregar • Rabu, 31 Agustus 2022 | 17:52 WIB
KEMUDAHAN AKSES: Warga menggunakan ojek online saat berhenti di lampu merah Jalan Tanjungpura. Adanya layanan ojek online cukup mempermudah masyarakat dalam memilih akses transportasi. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
KEMUDAHAN AKSES: Warga menggunakan ojek online saat berhenti di lampu merah Jalan Tanjungpura. Adanya layanan ojek online cukup mempermudah masyarakat dalam memilih akses transportasi. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
PONTIANAK - Kementerian Perhubungan kembali menunda pemberlakuan tarif baru untuk ojek online (ojol) yang harusnya berlaku mulai 29 Agustus 2022. Sejumlah pelaku ojek online (ojol) di Pontianak berharap, ketika ada kenaikan bahan bakar minyak (BBM) maka tarif ojek online juga ikut disesuaikan.

"BBM naik tidak apa-apa sih, asal pendapatan juga disesuaikan," ujar Mustaqim yang menggeluti ojek online sejak 2017 ini.

Meskipun kata Mustakim, kenaikan tarif ojol naik akan berdampak dengan pengurangan pesanan ojek dari konsumen. Terutama di masa awal kenaikan.

"Ya tentu ada pengurangan orderan. Terutama saat awal kenaikan, bisa berkurang hingga 30 persen," jelas, Senin (29/8).

Bagi Mustaqim, jika BBM naik sementara pendapatan masyarakat berkurang dan kebutuhan semakin besar menjadi tidak seimbang. Diakui Mustaqim, kenaikan BBM akan berdampak pada pengurangan konsumen. Namun, belajar dari pengalaman sebelumnya kondisi ini akan terjadi di awal-aeal kenaikan.

Menurutnya itu hal yang wajar. Pengurangan itu terjadi di semua orderan baik penumpang maupun makanan. Biasanya kata dia, sebulan atau dua bulan sudah kembali normal.

"Ya itu masa penyesuaian di awal. Dulu juga begitu. Awalnya berkurang, tapi lama-lama bisa menyesuaikan," ungkapnya.

Pengurangan itu, lanjut dia, terjadi diluar jam-jam sibuk masyarakat.

"Kalau makanan itu, diluar jam-jam makan siang biasanya berkurang. Tapi kalau di jam makanan siang tetap ramai. Begitu juga penumpang. Mungkin mereka lebih mengerem gitulah," papar warga Jalan Parit Bugis ini.

Menurut Mustaqim, setelah aktivitas sekolah kembali normal, pesanan ojek juga meningkat dibanding saat pandemi. Pesanan lebih banyak pada pagi hari, di jam keberangkatan sekolah. Kebutuhan BBM yang harus dikeluarkan Mustaqim setiap hari sekitar Rp35 ribu dari pukul 06.30 hingga 22.00.

Pelaku ojek online lainnya, Romario Saragih juga mengharapkan hal yang sama. Ada kenaikan tarif saat BBM dinaikan.

"Tentu berpengaruh dengan pendapat kami ya. Karena kalau BBM naik otomatis pengeluaran kami untuk BBM juga bertambah," jelasnya warga Jalan Ahmad Yani I ini.

Menurut Rio, dalam sehari kebutuhan BBM yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 30 ribu dari pagi hingga pukul 17.00. Setiap harinya jika kondisi penumpang ramai bisa mencapai 20 orang.

"Biasanya ramai itu saat ngantar anak-anak sekolah, juga di jam pulang sekolah," paparnya.

Jika tarif ojol naik, kata Rio, akan berpengaruh pada pengurangan konsumen. Namun tidak berlangsung lama.

"Iya kalau tarif naik pasti ada pengurangan. Mungkin tidak lama. Di awal-awal saja," jelasnya.

Saat ini, lanjut dia tarif ojok untuk jarak terdekat sekitar Rp10 ribu. Sebelum ada kenaikan, tarif terdekat hanya Rp7.000.

"Kalau ada kenaikan, saya juga tidak tahu berapa besar kenaikannya nanti," pungkasnya. (mrd) Editor : Syahriani Siregar
#kenaikan harga #tarif ojol #bbm #tarif baru #orderan