Semasa hidupnya, Martias dikenal sebagai sosok pengusaha yang baik dan ramah terhadap siapa saja. Almarhum juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Karena kebaikannya itulah, sosoknya begitu dikenang oleh siapapun yang mengenal.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar, Yuliardi Qamal, mengenal Almarhum Martias sebagai pelopor rumah makan padang di Kota Pontianak.
“Beliau salah satu pelopor di rumah makan Padang. Rumah Makan Padang yang cukup dikenal di Kota Pontianak ini,” katanya.
Semasa hidupnya, almarhum di mata Yuliardi merupakan sosok yang baik, serta aktif dalam memajukan kepariwisataan Kota Pontianak. Itu terlihat dari keaktifannya sebagai kepengurusan PHRI Kalbar.
“Beliau aktif di organisasi pariwisata, pernah menjabat menjadi Wakil Ketua PHRI di zaman kepemimpinan Bapak Eddy Rasyid,” katanya.
Saat tidak lagi aktif sebagai pengurus, tambah Yuliardi, almarhum didapuk sebagai penasehat PHRI Kalbar hingga saat ini. Itu menunjukkan bahwa almarhum merupakan sosok yang mau berkontribusi dalam kemajuan Kota Pontianak.
Kesan sebagai sosok yang ramah dan supel begitu diingat oleh Suhaili. Bagi General Manager Hotel 95 itu, almarhum Martias adalah seseorang dengan karakter bersahabat dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
“Beliau memiliki jiwa empati yang tinggi. Selalu terlihat bahagia,” ucapnya.
Suhaili dan almarhum saat ini menjabat sebagai Ketua dan Wakil Ketua Yayasan Nurul Hamid Fajri. Keduanya bersama-sama berusaha memajukan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan itu. Di yayasan inilah, kedekatan keduanya kian terasa.
Suhaili menceritakan, yayasan tersebut beberapa tahun yang lalu sempat mengalami kesulitan ekonomi. Almarhum saat itu yang membantu dan terus menguatkannya untuk tidak menyerah.
”Beliaulah yang memberikan saya semangat dan motivasi,” pungkasnya.
Pontianak Post pernah menemui almarhum Martias pada 2017 yang lalu. Tepatnya di awal bulan Ramadan. Kala itu, kami mewawancarai beliau sebagai pemilik Rumah Makan Beringin, rumah makan Padang yang cukup terkenal di Kota Pontianak.
Kepada beliau, kami menanyakan alasannya menutup rumah makan di tengah permintaan yang dipastikan meningkat pada bulan Ramadan. Kepada kami, dia pun menjawab bahwa hal itu merupakan sebuah tradisi yang telah diterapkan sejak dulu.
“Sejak estafet usaha diberikan dari orang tua Pak Haji (Martias, red), memang dipesankan bahwa usaha kita ini sudah diberikan waktu sebelas bulan. Maka satu bulan ini waktunya untuk beribadah,” ungkapnya 27 Mei 2017. (sti) Editor : Syahriani Siregar