Banjir di wilayah ini merendam dua kompleks perumahan. Yakni, Komplek Malaya River View dan Komplek Permata Malaya di Desa Mega Timur, Kubu Raya. Setidaknya lebih dari 100 rumah terendam. Selain itu, lebih dari 80 kepala keluarga (KK) terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Peni (37), warga Komplek Mayala River View mengatakan, banjir telah merendam rumahnya sejak tiga hari lalu. Awalnya, air hanya merendam jalan di sekitar komplek, namun lama-kelamaan, air masuk ke rumah dengan ketinggian sekitar 30 hingga 50 Centimeter.
“Awalnya jalan yang terendam. Karena hujan terus turun, air pun masuk ke rumah. Padahal, lantai sudah saya tinggikan 20 cm. tapi air tetap masuk,” kata Peni ditemui Pontianak Post di kediamannya.
Ia mengaku sudah enam tahun mendiami komplek tersebut. Bersama istri dan empat orang anaknya yang masih kecil. Sejak tiga tahun terakhir, komplek tempat tinggalnya kerap menjadi langganan banjir. Terutama di saat musim penghujan.
“Dulu awal-awal tinggal di sini bagus. Tidak ada banjir. Tapi tiga tahun belakangan, kerap jadi langgangan banjir. Terutama kalau hujan turun seharian,” bebernya.
Akibat terendam banjir, ia harus membuat panggung dari papan kayu untuk sekedar beristirahat di kala malam bersama dua orang anaknya. Sedangkan istri dan dua orang anaknya yang lain, kata Peni, mengungsi ke rumah saudaranya.
“Untuk tidur, makan, atau sekedar istirahat, saya bikin panggung dari papan kayu. Istri dan dua orang anak saya yang lain mengungsi ke rumah saudara,” katanya. Saat ini, Peni mengaku mulai terserang penyakit. Terutama flu dan sakit perut.
Hal yang sama juga dialami Sofian, warga Komplek Permata Malaya. Menurut Sofian, banjir yang terjadi saat ini merupakan banjir yang ke empat kalinya dalam setahun terakhir. “Banjir seperti ini sudah keempat kalinya di tahun ini bang,” kata Sofian.
Menurut dia, hampir semua desa yang berada di sekitar Sungai Malaya terendam banjir. Menurutnya, banjir yang terjadi tidak serta merta karena tingginya curah hujan, tetapi karena sungai sudah tidak mampu menampung air, sehingga meluap.
“Sungai ini sebenarnya besar. Tapi di hilirnya sempit. Jadi kalau hujan atau banjir di hulu, kami yang di sini terkena dampaknya. Apalagi di hulu ada perkebunan sawit,” bebernya.
Dikatakan Sofian, beberapa waktu lalu ada proyek normalisasi sungai dari Kabupaten Kubu Raya. Hanya saja, kata Sofian, tim yang mengerjakan secara manual. Tidak menggunakan alat berat. “Jadi yang seperti ini. Banjir. Karena aliran sungainya sempit dan banyak ditumbuhi semak belukar,” jelasnya.
Terpisah, Lurah Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Tirta mengatakan, banjir yang merendam sebagian wilayah Kecamatan Pontianak Utara, disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama sepekan terakhir.
“Ini sebenarnya bukan banjir tetapi luapan air sungai. Artinya ketika curah hujan tinggi, air dari hulu cukup besar dan air di Sungai Kapuas dan Sungai Landak pasang, maka air yang mengalir ke sungai tersebut cukup lambat, sehingga meluber ke pemukiman warga,” katanya.
“Bisa dikatakan ini musiman, setiap tahun pasti terjadi. dan beberapa masyarakat sudah memaklumi dan paham kondisi air pasang di wilayahnya,” sambungnya.
Dikatakan Tirta, akibat luapan air sungai tersebut tidak sedikit warga yang terkena dampaknya. Hanya saja, menurut Tirta, warga enggan untuk mengungsi. “Mereka tidak ada yang mau mengungsi. Padahal kami sudah siapkan aula kantor kelurahan untuk pengungsian,” kata dia.
Untuk penanggulangan banjir tersebut, kata Tirta, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan BPBD dan Pemerintah Kota Pontianak.
Jelai Hulu Paling Parah
Sementara itu, banjir kembali menerjang sejumlah kecamatan di Ketapang. Banjir terparah terjadi di Kecamatan Jelai Hulu. Belasan desa di Jelai Hulu terendam banjir hingga 2 meter lebih. Sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Banjir tersebut disebabkan hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Ketapang beberapa hari terakhir. Akibatnya air sungai meluap merendam perkampungan yang berada di bantaran sungai. Sungai Pawan dan Sungai Jelai merupakan dua sungai yang sering meluap.
Camat Jelai Hulu, Markus, mengatakan banjir kembali merendam sebagian besar wilayah yang berada di bantaran Sungai Jelai. “Banjir terjadi sejak Jumat (7/10) kemarin. Ada beberapa desa yang terendam banjir,” katanya, Minggu (9/10).
Beberapa desa yang terendam banjir di antaranya Desa Pasir Mayang, Desa Rangga Intan, Desa Sidahari, Desa Deranuk, Desa Periangan, Desa Asam Jelai, Desa Biku Sarana, Desa Kesuma Jaya, Desa Riam Danau Kanan, Desa Tebing Berseri, dan Desa Pangkalan Suka. “Kami terus meningkatkan koordinasi memantau perkembangan kondisi di lapangan,” jelasnya.
Dia menjelaskan, kedalaman air bervariasi. Namun beberapa daerah sudah cukup parah. Seperti di Desa Periangan, Asam Jelai dan Kesuma Jaya. Banjir bahkan setinggi dada orang dewasa. Di beberapa lokasi ada yang lebih dalam. “Sebagian warga ada yang mengungsi, namun ada juga yang tetap bertahan di rumah mereka dengan membuat panggung,” ujarnya.
Menurutnya, banjir akan turun dari wilayah hulu menuju hilir. Jika banjir di hulu mulai surut, maka air turun merendam wilayah di bawahnya seperti Desa Periangan, Desa Asam Jelai dan Desa Biku Sarana.
Pihaknya terus berkoordinasi dan memantau kondisi banjir di sejumlah lokasi desa-desa yang terendam banjir di Kecamatan Jelai Hulu. “Saya juga mengimbau kepada warga agar terus waspada terkait bencana banjir ini. Kita tentu berharap banjir ini segera surut,” imbau Markus.
Selain Kecamatan Jelai Hulu, banjir juga merendam sejumlah desa di Kecamatan Manis Mata. Manis Mata yang juga dilintai Sungai Jelai selalu menjadi langganan banjir saat intensitas hujan cukup tinggi di daerah hulu.
Banjir juga menerjang sejumlah daerah yang dilintasi Sungai Pawan, seperti Kecamatan Muara Pawan dan Sandai. Sungai Pawan juga kerap meluap jika curah hujan tinggi di daerah hulu. Namun, belum diketahui berapa banyak desa yang berada di bantaran Sungai Pawan yang terendam banjir.
Bukan Murni Bencana Alam
Banjir juga melanda Desa Tebang Kacang, Kecamatan Sungai Raya sejak beberapa hari lalu dengan ketinggian 90 centimeter. Warga Desa Tebang Kacang, Mustain mengatakan, banjir yang terjadi akibat tingginya curah hujan tersebut bahkan merendam sebanyak 20 rumah warga desa setempat.
Tidak sekedar merendam puluhan rumah warga, adanya banjir kata dia, juga mengganggu aktivitas masyarakat yang Sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. “Banyak juga tanaman di kebun, ladang masyarakat yang ikut terendam banjir dan membuat warga setempat tidak bisa beraktiviitas seperti biasanya,” jelasnya kepada Pontianak Post, Minggu (9/10) di Sungai Raya.
Mustain yang merupakan aktivis lingkungan di Tebang Kacang ini melihat selain karena curah hujan yang cukup tinggi, banjir yang terjadi di desanya akibat adanya unsur kesengajaan pihak perusahaan sawit yang beroperasi tak jauh dari desa setempat dalam membuang air limbah lahan.
"Semua aliran pembuangan air yang ada di lahan kebun tidak dihidupkan, dan tidak ada aliran khusus pembuangan air yang langsung menuju ke arah sungai. Semua aliran pembuangan mengarah ke parit perkampungan. Makanya saya menilai kasus banjir yang terjadi dikampung kami, tepatnya di parit Turba RT/RW 003/006 Desa tebang Kacang dan kampung parit Punggur RT/RW 010/006, murni bukan bencana alam semata, tapi ada faktor kecerobohan pihak perusahaan dalam tata kelola lahan sawitnya. Kami berharap kasus ini bisa segera di atasi dan tidak boleh lagi terjadi di tahun-tahun yang akan datang,” paparnya.
Menurutnya, banjir yang terjadi di desanya tersebut tidak hanya terjadi pada tahun ini, di tahun sebelumnya juga pernah terjadi. Mustain pun berharap agar pemerintah daerah setempat melalui dinas terkait harus turun lapangan, dan memantau langsung terkait persoalan yang terjadi tersebut. (arf/afi/ash) Editor : Syahriani Siregar