Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menggelar kuliah umum Moderasi Beragama "Menguatkan Akar Kehidupan beragama dalam Konteks Bhineka Tunggal Ika" pada Kamis (27/10). Menghadirkan Islah Bahrawi, Tenaga Ahli Pencegahan Radikalisme, Ekstremisme, dan Teorisme Mabes Polri.
Marsita Riandini, Pontianak
Moderasi beragama saat ini marak digaungkan di tengah hiruk-pikuk permasalahan radikalisme di Indonesia.
Sebagai sebuah negara yang kaya dengan keberagaman, Indonesia sering diterpa isu paham radikal. Bahkan muncul berbagai gerakan yang mengatasnamakan kelompok tertentu yang memicu rusaknya ketentraman dan kedamaian bangsa.
Keberagaman agama dinilai menjadi yang terkuat dalam membentuk radikalisme di Indonesia. Munculnya kelompok-kelompok ekstrem yang kian hari semakin mengembang sayapnya difaktori berbagai hal seperti sensitifitas kehidupan beragama, masuknya aliran kelompok ekstrem dari luar negeri, bahkan permasalahan politik dan pemerintahan pun turut mewarnai.
Islah Bahrawi, Direktur Jaringan Moderat Indonesia mengatakan Tuhan sengaja membuat perbedaan agar manusia saling berinteraksi dan kenal mengenal. Apapun agamanya, sukunya, bangsanya, semua diciptakan oleh Tuhan yang sama.
"Kalau percaya tuhan itu satu, maka percaya bahwa kita semua diciptakan oleh Tuhan yang sama. Meskipun koordinatnya berbeda-beda," paparnya saat mengisi kuliah umum.
Tenaga Ahli Pencegahan Radikalisme, Ekstremisme, dan Teorisme Mabes Polri ini menegaskan bahwa, ketika Densus 88 menangkap Salim (Mantan Narapidana Terorisme), bukan karena Salm itu Islam melainkan perbuatannya yang meneror dan mengganggu kedamaian negara. Begitu juga pada orang atau kelompok-kelompok tertentu yang ingin mewujudkan keinginannya untuk menyamakan orang lain yang berbeda dari mereka.
"Dia (teroris) ditangkap karena itu, bukan karena Islam. Kalau Densus menangkap orang Islam, jumlahnya bukan ribuan," jelasnya yang menambahkan saat ini Densus 88 telah menangkap 2113 orang.
Islah juga mengajak untuk membangun kecintaan pada Nabi Muhammad Saw dengan kultur-kultur peradaban manusia. Menurutnya ini sangat jarang dilakukan.
Rektor IAIN Pontianak Dr. Syarif, menyebut Kuliah Umum sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di gelar sebagai sarana edukasi dan mendukung semangat toleransi beragama di lingkungan Kampus. Ia juga mengatakan bahwa Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini merupakan sosok tokoh nasional yang sangat luar biasa.
"Sejak 2018 IAIN Pontianak telah mengaungkan tentang penguatan wawasan kebangsaan dan moderasi beragama di lingkungan kampus sehingga dengan di gelarnya Kuliah Umum ini dapat melengkapkan ikhtiar dalam menangkal paham radikalisme," paparnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan Salim, mantan narapidana terorisme yang masih dalam pengawasan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Salim bercerita terkait proses dia awalnya ingin mempelajari agama, kemudian mencari ke sosial media, sampai akhirnya berkomunikasi dengan jaringan terorisme.** Editor : Syahriani Siregar