Banyak cara untuk berbagi kepada sesama. Salah satunya lewat gerakan memberi makan secara gratis. Beberapa gerakan berbagi makanan ini dilakukan pada Hari Jumat.
Oleh : Siti Sulbiyah
Usai menunaikan salat Jumat, jemaah Masjid As-Sayyidah tak langsung beranjak pergi. Mereka disuguhkan makan siang oleh pihak masjid. Jemaah bebas mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan sesuai dengan porsinya.
“Hari ini kami menyediakan lauk berupa telur ,tempe, sayur asem nasi. Lalu ada nasi kucing dan kue,” ungkap Teguh Meriadi, pengurus masjid tersebut, Jumat (18/11).
Makan siang bersama usai salat Jumat ini merupakan agenda rutin masjid yang berlokasi di Komplek Cempaka Mas, Sungai Raya, Kubu Raya itu. Gerakan ini disebut sebagai Warunk Jum’at.
Teguh yang akrab disapa Bang Goh ini mengatakan program Warunk Jum'at sudah hampir berjalan tiga tahun, tepatnya dimulai pada 14 Februari 2020. Program ini memberikan makan siang gratis kepada jemaah Masjid As-Sayyidah dan warga sekitar setiap hari Jumat.
“Jika ada lebih kita bagikan ke warga yang membutuhkan,” ujarnya.
Makanan disiapkan secara prasmanan. Jemaah bisa mengambil makanan sesuai dengan porsinya. Teguh mengatakan, setidaknya ada 150 orang yang ikut makan siang bersama.
Makanan tersebut dimasak oleh ibu-ibu di komplek itu. Untuk bahan makannya, didapat dari sumbangan warga sekitar maupun pihak-pihak lain turut berkontribusi. Ada yang memberikan bantuan beras, minyak goreng, dan bahan pokok lainnya. Ada pula yang memberikan dalam bentuk uang.
“Alhamdulillah dari program ini berjalan belum pernah menggunakan kas masjid,” ucapnya,
Program ini berjalan berkat kerja sama pengurus masjid dan warga sekitar. Ibu-ibu komplek memasak sementara pengurus dan remaja masjid kebagian mendistribusikan makanan dari tempat masak sampai ke masjid.
Teguh menyebut, tujuan yang ingin dicapai dari program ini adalah syiar untuk mengajak Umat Islam kembali ke masjid. Menurutnya, masjid itu bukan hanya menjadi tempat beribadah, namun bisa menjadi penyambung silaturahmi, menjadi tempat istirahat, dan banyak kebaikan lainnya.
Gerakan serupa juga dilakukan oleh Komunitas Berbagi Nasi Jumat atau lebih dikenal dengan nama Sijum. Komunitas ini, kini telah menjadi sebuah yayasan yang bernama Yayasan Nasi Jumat Indonesia.
“Sijum ini merupakan yayasan yang digagas oleh Ustaz Andre Raditya, yang juga founder Sijum. Beliau memulai gerakan berbagi nasi setiap hari Jumat di Klaten tahun 2016,” ungkap Yuda Dwi Hardianto, Koordinator Sijum Pontianak.
Dari Klaten, gerakan Sijum berkembang di berbagai kota di Indonesia. Di Kota Pontianak, gerakan ini mulai sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya pada 25 Maret 2019. Gerakan ini masih aktif hingga saat ini bahkan semakin berkembang.
Yuda mengatakan, program utama Sijum adalah berbagi nasi di hari Jumat yang bertujuan untuk memakmurkan masjid. Pihaknya menyediakan makan gratis untuk jamaah yang menyelesaikan salat Jumat di Masjid As-Salam, Jalan Budi Karya, Pontianak. Tak hanya untuk jemaah, makanan juga diperuntukkan bagi warga sekitar dan orang yang sedang melewati masjid.
“Kita menyajikan makanan dalam bentuk prasmanan dan beberapa ada yang dibungkus. Setiap Jumat kita bisa distribusikan 600-700 porsi,” sebutnya.
Sijum digerakkan oleh para relawan yang disebut sebagai santri pelayan masyarakat. Dikatakan santri karena para relawan juga diikutkan ke program mengaji dan berbagai kajian yang telah diprogramkan oleh yayasan. Tujuan dari gerakan ini adalah agar masyarakat bisa kembali ke masjid.
“Kita ingin memakmurkan masjid, menjadikannya sebagai pusat kebaikan. Masjid jadi solusi, orang lapar tinggal ke masjid,” ucapnya.
Tak hanya hari Jumat, Sijum Pontianak juga membuka warung makan gratis setiap hari Rabu di masjid tersebut. Siapa saja yang datang boleh makan secara gratis di sana.
Gerakan lainnya yang ada di Kota Pontianak adalah Semangat Sedekah Jum’at. Dzakiyyah Mawaddah, salah satu penggerak program ini mengatakan gerakan ini dimulai sejak tahun 2017 yang didirikan oleh temannya yang bernama Novitasari
Program ini semula berjalan secara insidental. Bahkan sempat vakum beberapa bulan. Hingga pada Januari 2020 kembali dijalankan secara konsisten. Ia pun yang awalnya menjadi donatur kini ikut menjadi penggerak dan mengajak rekan-rekannya untuk turut menjadi donatur.
“Yang awalnya sebulan sekali, sekarang jadi dua minggu sekali, hingga jadi donatur tetap seminggu sekali dalam kegiatan ini,” ucap perempuan yang kerap disapa Sasa ini.
Dulu gerakan ini belum ada nama. Namun, Sasa berinisiatif untuk mematenkan nama kegiatan ini menjadi Semangat Sedekah Jum’at. Lantas ia juga membuatkan akun instagram untuk laporan kegiatan kepada orang-orang yang telah mendukung terlaksananya gerakan ini secara transparan.
Setiap Jumat, setidaknya ada 30-50 kotak makanan yang dibagikan. Bahkan pernah sampai 100 kotak. Penyalurannya ke beberapa kelompok mulai dari pekerja kebersihan yang biasa bekerja di tempat sampah, penjual koran, tukang becak, pekerja badut, lansia di jalanan yang minta-minta, dan lain sebagainya.
“Visi kami adalah istiqomah berbagi kebaikan setiap jumat hingga akhir hayat. Misinya mengadakan ajakan yuk sedekah Jumat dan menyalurkan sedekah dari para donatur langsung ke lapangan,” jelasnya.
Berbagi Kepada Anak Yatim
Yayasan Nasi Jumat Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Sijum memiliki beragam program selain berbagi nasi di hari Jumat. Sijum Pontianak misalnya, memiliki program bulanan yang diberi nama Weekend 3M. Program ini merupakan program melayani, memuliakan, dan membahagiakan anak-anak yatim dan penghafal Alquran. Kunjungan ke pondok panti asuhan dan pondok penghafal Quran itu dilakukan untuk memberikan edukasi berbagai hal serta memberikan mereka hiburan.
“Kita menghibur mereka dengan membawa games, bawa bingkisan agar mereka bahagia dan ceria. Kita juga bawakan makan enak untuk mereka,” tutur Yuda Dwi Hardianto, Koordinator Sijum Pontianak.
Selain itu, anak yatim dan penghafal Alquran ini juga diajak ke jalan-jalan ke mall, kolam renang, restoran, bahkan menonton film di bioskop untuk memberikan hiburan kepada mereka.
Ada banyak cerita menarik dari para donatur yang turut menyumbang menggerakkan Sijum. Tak sedikit donatur yang merasakan kebaikan dengan bersedekah memberi orang makan. “Ada yang cerita belum dapat anak. Saat ikut menyumbang, kemudian dikaruniai anak,” ucapnya.
Di sisi lain, pihaknya juga agak kesal dengan pengunjung yang datang untuk makan siang tetapi tidak menghabiskan makanannya. Dia pun meminta agar mengambil porsi secukupnya. Sebab, makanan akan mubazir jika tersisa.(sti)
Berbagi Makanan Hingga Sembako
Gerakan Semangat Sedekah Jum’at membuka donasi melalui instagram dan whatsapp. Donasi yang masuk dikumpulkan melalui salah satu rekening dan totalnya setiap pekan akan dibelikan makanan hingga sembako. Saat Ramadan, pihaknya juga membuat program berbagi takjil.
“Pembelian nasi kotak atau sembako dilakukan di banyak warung makanan bukan hanya satu saja, tujuannya untuk berbagi rezeki pula kepada pada penjual makanan,” ucap Dzakiyyah Mawaddah, salah satu penggerak gerakan ini.
Penyaluran donasi atau amanah yang masuk tersebut mulai dilakukan setiap Jumat siang ataupun sore hari sampai nasi kotak, sembako atau takjil yang dibagikan habis. Pembagian tersebut tetap dibagikan meski cuaca saat itu hujan.
Ada banyak pengalaman menarik dan cukup berkenang yang menyentuh hatinya saat melakukan aksinya. Sasa menceritakan, saat masa pemberlakuan pembatasan aktivitas Covid-19 yang lalu, pernah ada orang yang menunggu kehadirannya untuk mendapat nasi kotak.
“Ternyata orang yang kita bagikan itu di posisi yang benar-benar sedang membutuhkan sampai mereka menangis, berkaca-kaca, mengucap terima kasih berulang, dan banyak mendoakan,” ucapnya.
Dirinya merasa bersyukur bisa membantu orang lain dengan memberikan makan nasi kotak yang bagi sebagian orang itu sangatlah berharga. “Yang jelas merasa senang bisa berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan dan mereka juga bahagia, menganggap kami juga saudaranya bahkan kehadiran kami dinantikan setiap Hari Jumat,” pungkasnya. (sti)
Editor : Siti