“Tahun ini sebenarnya permintaan agak sedikit turun dari tahun sebelumnya. Tapi jika dibandingkan hari-hari biasanya, permintaan naik sekitar 40 persen,” kata Hajono, Rabu (4/1).
Hajono sendiri sudah menggeluti bisnis pembuatan dupa sejak tahun 2018. Awalnya ia melihat peluang bisnis dari produksi dupa yang menjanjikan di Kalimantan Barat.
Ia berinisiatif untuk belajar pembuatan dupa di Pulau Jawa. Setelah mendapatkan bekal ilmu, ia pun kembali ke Kalimantan Barat dan mendirikan rumah produksi yang ia namai Dupa Pulau Borneo di rumahnya di Jalan Adi Sucipto, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
“Peluangnya cukup besar. Saya pun belajar ke Jawa. Kemudian pulang dan memproduksi sendiri pembuatan dupa pada tahun 2018,” terang Hajono.
Menurut dia, di tahun pertama produksi dupa, permintaan masih sangat sedikit. Namun, ia tidak patah semangat dan terus meningkatkan kuantitas dan kualitas produksinya.
Di sebuah lahan kosong di Komplek Pemakaman Yayasan Yukemgo, Hajono menjemur dupa yang ia produksi. Saat ini, ia dibantu beberapa karyawannya mampu memproduksi 1,5 ton dupa per bulan. Dupa-dupa tersebut ia pasarkan di agen-agen besar dan beberapa klenteng-klenteng di Kalimantan Barat. Bahkan, ia tidak jarang mendapat orderan dari kota atau pulau lain.
Untuk menghasilkan dupa yang baik, ia harus menjaga kualitas produksinya. Terumata pada bahan baku dan proses penjemuran. Menurut dia, pada proses penjemuran ia menggandalkan terik matahari. Jika cuaca mendukung, dupa yang dijemur bisa langsung kering. Namun, jika cuaca tidak stabil, maka proses penjemuran akan memakan waktu dua sampai tiga hari.
Tak hanya itu, ia pun harus menyediakan terpal jika suatu waktu turun hujan. Sementara untuk bahan baku, untuk lidi awalnya ia mendatangkan dari daerah lain. Namun, saat ini ia bisa memproduksi sendiri. Demikian juga bahan baku seperti serbuk kayu yang didatangkan dari Semarang, Jawa Tengah.
Sedangkan untuk lem, ia harus datangkan Vietnam. “Sebenarnya lem sudah ada yang buatan lokal, tapi perbandingannya kurang. Untuk saat ini saya masih menggunakan lem dari Vietnam,” bebernya.
Untuk harga satuan dupa, ia jual Rp350 per batang. Sedangkan untuk ukuran kecil ia jual perkilogram Rp 22 ribu. Menurut Hajono, dupa tersebut memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tionghoa.
Dirinya mengatakan jika dupa tersebut memiliki makna untuk persembahan kepada keyakinan masyarakat Tionghoa. “Makna dari dupa sebagai media yang di mana media ini untuk persembahan kepercayaan keyakinan masing-masing aja sih,” tuturnya. (arf) Editor : Syahriani Siregar