PONTIANAK - Perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina pada 22 Januari 2023 mendatang merupakan Tahun Baru Imlek ke-2574 Kongzili atau Tahun Kelinci Air. Kelinci sendiri melambangkan umur panjang, kedamaian dan kemakmuran. Tahun Kelinci Air diprediksi bakalan menjadi tuah dan tahun penuh harap.
Provinsi Kalimantan Barat sendiri erat kaitannya dengan perayaan keagamaan yang berbalut ragam tradisi dan budaya, sebentar lagi bakalan dirayakan warga Tionghoa ini.
Sebut saja Akhian, salah satu sesepuh warga Kubu Raya yang akan merayakan Imlek 2023 bersama keluarganya mengatakan bahwa sebenarnya istilah Imlek hanya digunakan di Indonesia saja. Sementara di Cina sendiri penyebutannya adalah Guo Nian atau Xin Jia yang berarti lewat bulan atau “bulan baru”.
Kata Imlek, kata dia, berasal dari kata Im dan Lek. Diambil dari bahasa suku Hokkien. Sementara, Laman Kemdikbud melansirnya bahwa makna Im adalah bulan. Sementara Lek artinya kalender atau penanggalan.
Istilah bahasa Inggris sendiri Imlek adalah Chinese New Year atau Lunar New Year. Itu ditandai sistem penanggalan Tiongkok menggunakan bulan sebagai penandanya. Perayaan ini sendiri sudah berlangsung sejak lebih dari 4000 tahun lalu.
Nah, bagi yang merayakannya Akhian yang berumur lebih dari 64 tahun ini ingat betul bagaimana ragam tradisi dilakukan keluarganya menyambut Imlek ini. Tradisi ini sudah dilakukan keluarganya secara turun temurun dan tetap dilestarikan hingga saat ini.
Misalnya saja, menyalakan kembang api. Bagi keluarga Akhian menyalakan kembang api pada saat Imlek adalah tradisi yang berasal dari sebuah legenda lama di Tiongkok. Ribuan tahun lalu, diceritakan moyangnyah bahwa ada monster bernama Nian (tahun) yang hendak menyerang penduduk desa pada pergantian tahun. Untuk mengusir monster itu, penduduk menyalakan kembang api dan membuat cahaya terang agar sang monster tidak jadi menyerang desa.
Tradisi lain yang dilakukan keluarganya adalah membersihkan rumah. Bagi keluarganya yang tinggal di Sungai Raya ini membersihkan seluruh rumah adalah tradisi Imlek. Bagi keluarganya, nasib buruk selama satu tahun belakangan akan turut tersapu bersih.
"Makanya
tahun baru Imlek dimulai dengan sesuatu yang bersih dan baik. Tahun baru Imlek adalah harapan dan tuah baru bagi keluarga kami," ucapnya.
Di sisi lain, mudik yang jadi tradisi hampir setiap agama juga menjadi tradisi waktu Imlek. Anak, mantu dan cucu-cucunya yang berada di luar Kalbar bakalan berdatangan ke rumahnya. Kebetulan Akhian memiliki 7 orang anak. 4 merantau di Jakarta, Batam dan Surabaya. Sedangkan 3 anak lainnya berada di Kalbar. Bahkan adik, adiknya yang masih hidup juga sering berkunjung ke rumahnya.
"Keluarga saya, juga melakukan tradisi mudik ke kampung halaman buat mengunjungi keluarga besar. Ini adalah momen paling ditunggu mempererat tali persaudaraan sekaligus membangun jaringan bisnis keluarga," ujarnya.
Biasanya kepulangan keluarga pada waktu Imlek yang sudah merantau selama bertahun-tahun akan pulang ke tempat leluhurnya. Selain merayakan Imlek juga Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke 15 usai Imlek.
"Tidak lupa memberikan angpao dan membagikan amplop rejeki dari yang sudah menikah ke anak-anak atau keluarga yang belum menikah adalah tradisi kami juga," pungkasnya.(den) Editor : Yulfi Asmadi