Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Vihara Tertua di Pontianak Menyambut Imlek, Berharap Berkah di Setiap Doa

Syahriani Siregar • Kamis, 19 Januari 2023 | 14:56 WIB
PASANG LAMPION: Pengurus memasang lampion disudut vihara agar lebih semarak. (HARYADI/PONTIANAK POST)
PASANG LAMPION: Pengurus memasang lampion disudut vihara agar lebih semarak. (HARYADI/PONTIANAK POST)
Vihara Bodhisatva Karaniya Metta  terus bersolek menjelang Imlek. Rumah ibadah yang punya tiga altar dewa dewi ini selalu ramai didatangi umat. Tak hanya warga lokal, ada pula dari mancanegara yang datang untuk memanjatkan doa.

Haryadi, Pontianak

Nuansa religius dan riwayat sejarah begitu kental terasa di vihara yang konon berdiri sejak 1829. Sembilan pilar pintu masuk cukup indah melekat dengan makna ornamen para dewa, berdiri dengan gagah perkasa seperti menyiratkan menyambut kedatangan para tamu

Saat memasuki vihara yang kental dengan taburan cat warna merah menyala, Pontianak Post menjumpai A Sui tepat di tengah teras altar pada, Rabu(18/1). Lelaki  tua dengan rambut tersisir klimis itu sedang sibuk dengan kanvas kayunya. Ia sedang membubuhkan tinta hitam ke kertas merah yang bertuliskan dengan aksara mandarin.

"Tulisan ini nama-nama sejumlah donatur yang menyumbangkan lilin untuk vihara. Nanti kertas tersebut akan ditempel di tiap lilin, agar pemiliknya mengetahui bila akan dinyalakan," ungkap pria yang menjadi juru kunci vihara sejak belasan tahun itu.

A Sui melanjutkan aktivitasnya, perlahan tangan tuanya yang sedikit gemetar mencelupkan kuas ke dalam botol tinta hitam. Ia lalu menuliskannya ke atas kertas berukuran sekitar 30x10 sentimeter. Kali ini tulisannya berupa doa-doa yang akan dipanjatkan.

"Sudah tak banyak yang mau menekuni menulis mandarin di vihara, mungkin bisa dihitung dengan jari yang tersisa," timpalnya.

Selain A Sui ada pula A Kiang yang tak luput dengan kesibukan. Ia terlihat membersihkan perlengkapan untuk sembahyang. A Kiang adalah salah satu pengurus di vihara yang beralamatkan di Jalan Sultan Muhammad itu.

Sambil menghisap rokok, ia menceritakan  persiapan menyambut Imlek yang sudah dilakukan sejak tiga minggu lalu. Mulai dari proses mengecat dan membersihkan ruangan serta pemasangan lampion. Persiapan yang dilakukan jauh hari bertujuan agar bisa memberikan suasana khidmat kepada umat dalam beribadah.

"Selain pengurus yang bertugas rutin membersihkan vihara, ada pula tenaga sukarela yang membantu berbagai macam pekerjaan di sini dengan ikhlas, totalnya ada sekitar 10 orang," timpalnya.

A Kiang menuturkan bahwa rumah ibadah ini selalu ramai dikunjungi oleh umat untuk beribadah. Jumlahnya bisa mencapai ribuan saat Imlek datang. Tak hanya warga lokal, masyarakat dari luar negeri seperti dari Malaysia, Singapura, dan Taiwan turut beribadah di sana. Warga Tionghoa mulai memadati vihara saat malam Imlek hingga hari keesokannya.

“Saat Imlek pengurus dan tenaga sukarelawan harus ekstra tenaga untuk melayani umat yang silih berganti beribadah, kadang harus lembur hingga tak tidur," ujarnya.

Vihara Bodhisatva Karaniya Metta sendiri menjadi vihara tertua yang bisa ditemukan di Kota Pontianak. Statusnya tercatat dalam cagar budaya yang sudah mengalami berulang kali pemugaran. Dulu vihara bernaung di bawah Yayasan Bhakti Suci, tetapi sekarang sudah mandiri. Hal ini diungkapkan oleh  Apeng yang ditunjuk  sebagai juru pelihara vihara oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya sejak tahun 1985.

Lelaki berumur 58 tahun itu menjelaskan, vihara yang tepat menghadap Sungai Kapuas ini cukup unik, karena memiliki tiga kelenteng untuk sembahyang. Altar utama yang berada di tengah yaitu Dewi Samudra (Macau). lalu diapit  oleh klenteng Putra Dewa Na Ca dan  kelenteng Kam Thian Tai Ti (Tua Pek Kong).

“Dulunya Klenteng Putra Dewa Na Ca berada di kawasan Pelabuhan Seng Hie sedangkan Kam Tian Tai Tie (Tua Pek Kong) ada di parit Pekong atau Parit besar. Kini keduanya menyatu di vihara yang dikenal dengan Klenteng Tiga Dewa Dewi. Hal inilah yang membuat rumah ibadah ini selalu ramai disinggahi umat.” Jelasnya.

Selain membantu membersihkan vihara dan menjadi pemandu bagi wisatawan, Apeng juga bertugas melaporkan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya apabila ada kerusakan yang terjadi di vihara. Memang sejauh ini tidak pernah mengalami kerusakan berat. Adapun kerusakan ringan biasanya langsung diurus dari pihak pengurus yang melakukan perbaikan rutin.

“Harapannya vihara ini tetap terus terjaga dan menjadi tempat yang nyaman bagi umat beribadah saat Imlek datang nanti,” ungkapnya. (*) Editor : Syahriani Siregar
#vihara tertua #imlek #berkah #Doa