Perkembangan pers di Kalimantan Barat era 1970an mengalami perkembangan yang cukup pesat. Namun, hampir semua perusahaan pers hanya menerbitkan koran sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Hal itu karena kemampuan mesin cetak yang masih sangat terbatas.
Saat Kalimantan Barat dipimpin Gubernur Kadarusno, para wartawan diberikan fasilitas Pers Room hingga mesin tik agar memudahkan mereka mengetik berita kapan saja diperlukan. Itu dilakukan karena begitu besar perhatian Gubernur Kalbar tersebut pada dunia pers.
Tabrani Hadi saat masih muda merupakan pegawai di Kantor Gubernur. Ia dikenal Gubernur Kadarusno sebagai salah satu pegawai profesional yang bisa diandalkan untuk bekerja. Suatu hari, Gubernur Kadarusno pernah berbicara pada Tabrani. “Tabrani, saya ingin masyarakat Kalbar sarapan pagi setiap hari tidak hanya dengan makanan, tetapi juga ditemani koran. Saya ingin ada koran yang bisa terbit setiap hari, dan menemani masyarakat sarapan pagi,” katanya.
Pertemuan di ruang kerja gubernur tersebut bagi Tabrani merupakan sebuah instruksi yang harus dilaksanakan. Walau tidak tertulis, instruksi tersebut menyiratkan bahwa ia harus menerbitkan koran harian. Tabrani pun berjuang untuk mewujudkan mimpi sang atasan.
Usai pertemuan dengan Kadarusno, Tabrani menemui Agusno Sumantri, Pemimpin Redaksi Koran Tropika. Mendengar ide Tabrani, Agusno langsung bersedia bergabung untuk membuat koran harian. Tabrani kemudian menghubungi Bey Akoub, Pemimpin Redaksi Koran Suara Karya. Agusno Sumantri juga mengajak semua wartawannya, seperti Tony Pasaribu dan A Rahman untuk bergabung. Sementara Bey Akoub membawa Samiri HN. Sejumlah wartawan seperti Barmawi Latief, Muhammad Nur dan Imran Pasani juga ikut bergabung.
Para wartawan tersebut kemudian menemui Tabrani di Kantor Gubernur. Di pertemuan itu, dibahaslah rencana penerbitan koran baru. Mulai dari dimana kantornya, serta berbagai perangkat yang diperlukan. Untuk tempat kerja sementara, Tabrani meminjam gudang Kantor Gubernur Kalbar. Kebutuhan seperti kursi dan meja juga dipinjam dari Kantor Gubernur.
Berbagai aturan untuk menerbitkan koran dipelajarinya. Dalam aturan yang berlaku di era itu, jika ingin menerbitkan koran harus punya surat izin usaha penerbitan (SIUP) dari Departemen Penerangan. Selain itu, penerbitan koran juga hanya bisa dilakukan oleh pihak swasta. Oleh karena itu, Tabrani yang merupakan pegawai negeri harus memiliki izin gubernur dan Menteri Penerangan.
Tabrani kemudian mengumpulkan kembali tim redaksi untuk membahas nama koran baru yang akan terbit. Ada belasan nama yang diusulkan tim redaksi. Nama-nama itu lalu dibawa ke gubernur untuk dipilih dan diputuskan oleh gubernur. Akhirnya nama Akcaya menjadi pilihan Gubernur Kadarusno untuk koran baru yang akan terbit.
Akcaya adalah motto pada lambang daerah Kalimantan Barat yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tahun 1965. Akcaya berasal dari bahasa sanskerta yang artinya ‘Tak Kunjung Binasa’.
Singkat cerita, semua persiapan untuk menerbitkan koran baru bernama Akcaya pun selesai. Tim redaksi juga sudah siap dengan berita-beritanya. Namun, surat izin usaha penerbitan Koran Akcaya dari Departemen Penerangan RI belum juga keluar. Karena sudah tidak sabar, tepat pada 2 Februari 1973, Harian Akcaya terbit perdana dengan dua halaman kertas stensil.
Pertama terbit, koran Harian Akcaya masih menggunakan izin terbit Koran Tropika milik Agusno Sumantri. Peminjaman surat izin terbit koran Tropika hanya berlangsung beberapa hari. Soalnya, setelah itu surat izin terbit Akcaya dikeluarkan oleh Departemen Penerangan.
Pada 7 Mei 1974, Tabrani menghadap Notaris Damiri untuk membuat akte pendirian yayasan yang diberi nama Yayasan Akcaya Press. Yayasan ini dibentuk untuk menaungi penerbitan Harian Akcaya. Susunan pengurus yayasan terdiri dari Drs H Rasyidi Hamid sebagai ketua, Agusno Sumantri sebagai sekretaris, Bey Akoub sebagai bendahara, Bupen Kibri, Tabrani Hadi dan CH Harsono sebagai anggota.
Koran Akcaya terus berkembang seiring waktu. Kegigihan Tabrani bersama para pemimpin Harian Akcaya lainnya telah mampu membawa Koran Akcaya semakin dicintai masyarakat Kalbar.
Perkembangan zaman di tahun 1985an semakin pesat. Teknologi informasi dan komunikasi mulai berkembang. Di tahun 1989, penggunaan teknologi komputer tumbuh demikian cepat. Untuk menyesuaikan dengan situasi, skill karyawan pun perlu ditingkatkan. Hal tersebut membutuhkan modal yang besar.
Oleh karena itulah, Tabrani mulai menjajaki kerja sama dengan media massa yang ada di Jakarta. Ia bersama pimpinan Koran Akcaya lainnya, seperti Bey Akoub mulai mencari koran di Jakarta yang bisa diajak kerja sama. Di saat yang bersamaan, beberapa koran nasional seperti Koran Merdeka, Kompas, dan Sinar Harapan juga sedang mencari mitra di daerah untuk bekerja sama.
Penjajakan kerja sama dilakukan ke beberapa media besar yang berpusat di Jakarta. Namun, ternyata penjajakan dengan koran dari Surabaya yang justru berhasil positif. Koran nasional tersebut adalah Jawa Pos. Pada 1989, Koran Jawa Pos sudah ekspansi ke Jogjakarta, Manado, Makassar dan Kaltim.
Tabrani sebelumnya telah mendengar tentang perkembangan Koran Jawa Pos. Koran yang dipimpin Dahlan Iskan ini pun ingin menjajaki kerja sama dengan koran di Kalbar. Tabrani menerima tawaran Dahlan Iskan. Kerja sama antara Harian Akcaya dengan Jawa Pos resmi dimulai pada 24 Januari 1990.
Kerja sama itu meliputi bidang manajemen, perlengkapan komunikasi dan komputer, peningkatan SDM baik wartawan maupun nonwartawan serta kemudahan mendapatkan berita nasional dan internasional dari Jawa Pos.
Menindaklanjuti kesepakatan kerja sama dengan Akcaya, Dahlan Iskan membuat dua perusahaan. Satu perusahaan penerbit dan satu lagi perusahaan percetakan. PT Akcaya Utama Press sebagai perusahaan penerbitan menaungi penerbitan Koran Akcaya. Sedangkan perusahaan percetakan diberi nama PT Akcaya Utama Pariwara.
Kemajuan Koran Akcaya terus meningkat. Tahun 1992, Koran Harian Akcaya kemudian menempati gedung baru di Jalan Gajah Mada No 2-4. Oplah koran terus bertambah seiring dengan kepercayaan masyarakat Kalbar yang semakin tumbuh.
Pada 2 Februari 1993, tepat saat berusia 20 tahun, Koran Akcaya mulai melebarkan sayapnya ke luar Kota Pontianak. Koran Akcaya mulai mengembangkan biro di daerah-daerah kabupaten. Biro pertama yang dibentuk adalah Singkawang. Waktu itu, Vincencius Zuliven ditunjuk sebagai kepala biro.
Di tahun 1998, koran Akcaya diusulkan untuk berganti nama. Alasannya karena nama Akcaya identik dengan tulisan di lambang Pemerintah Provinsi Kalbar. Di daerah lain, nama koran menggunakan nama kota di mana koran tersebut terbit ditambah “post” di belakang nama kota. Contohnya Jakarta Post, Surabaya Post, dan Washington Post.
Disepakatilah nama Koran Akcaya diganti menjadi Pontianak Post. Tapi supaya masyarakat tetap mengetahui bahwa Koran Pontianak Post adalah sama dengan Koran Akcaya, maka kata Akcaya tidak langsung dibuang. Dibuatlah nama Koran Akcaya Pontianak Post, yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Koran AP Post.
Penggunaan nama Koran Akcaya Pontianak Post berlangsung hingga tahun 2002. Tepat 2 Februari 2002, kata Akcaya dibuang sehingga Koran Akcaya Pontianak Post menjadi Pontianak Post.
Perkembangan media pada tahun 1990an juga sangat pesat. Tahun 1998, PT Akcaya Utama Press yang menaungi Harian Akcaya Pontianak Post melebarkan sayapnya dengan menerbitkan koran baru. Nama koran tersebut adalah Equator.
Tahun 2000, Koran Akcaya Pontianak Post menambah jumlah halamannya. Dari 16 halaman menjadi 24 halaman yang disertai dengan penyesuaian harga. Di akhir tahun 2000, Manajemen PT Akcaya Utama Press memutuskan menerbitkan koran khusus wilayah timur Kalbar, meliputi Kabupaten Landak, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu. Koran Kapuas Post diterbitkan karena Kalbar memiliki daerah yang sangat luas.
Setelah sukses menerbitkan Koran Harian Equator dan Koran Harian Kapuas Post, manajemen PT Akcaya Utama Press kembali menerbitkan koran baru. Koran yang diterbitkan adalah koran berbahasa Mandarin. Koran ini diterbitkan karena melihat Komunitas Etnis Tionghoa di Kalbar yang cukup banyak. Koran Bahasa Mandarin diberi nama Kun Dian Ri Bao.
Di tahun 2004, koran kriminal sedang tren secara nasional. Biasa orang menyebutnya koran merah. Maka muncullah ide membuat Koran Metro untuk menangkap pangsa pasar yang menyukai berita-berita kriminal. Hanya saja, Koran Metro usianya tidak lama. Hanya sampai empat tahun, kemudian dihentikan penerbitannya. Selanjutnya, PT Akcaya Utama Press pada tahun 2008 juga mendirikan Pontianak TV. (*) Editor : Syahriani Siregar