Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Laksmi, Individu Orangutan Melahirkan Bayi yang Kedua

Syahriani Siregar • Selasa, 14 Februari 2023 | 14:55 WIB
Satu individu orangutan bernama Laksmi terpantau sedang menggendong bayinya di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Individu orangutan betina hasil rehabilitasi itu melahirkan anak keduanya. (Dokumen KLHK)
Satu individu orangutan bernama Laksmi terpantau sedang menggendong bayinya di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Individu orangutan betina hasil rehabilitasi itu melahirkan anak keduanya. (Dokumen KLHK)
SINTANG - Kabar gembira datang dari konservasi orangutan di Kalimantan Barat. Orangutan betina hasil rehabilitasi bernama Laksmi melahirkan satu individu bayi orangutan di dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).

Beberapa bulan terakhir, Laksmi terpantau dengan kondisi perut agak membesar dan diduga sedang hamil. Namun, belum sempat mendapat pemeriksaan medis, Laksmi sempat hilang dari pemantauan. Kemudian, pada 25 Januari 2023, Laksmi muncul dengan membawa anak dan terpantau oleh tim monitoring dalam keadaan sehat.

Informasi kelahiran bayi orangutan dari indukan Laksmi diperoleh dari Kepala Camp Monitoring Orangutan Teluk Ribas, Gregorius bersama tim monitoring. Hingga saat ini, kondisi bayi terus dipantau. Tim juga sedang berupaya mendekati sang induk untuk memastikan kesehatan sang induk pasca-melahirkan dan jenis kelamin bayinya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat RM. Wiwied Widodo mengatakan, kelahiran satu individu orangutan ini menambah daftar panjang kelahiran orangutan secara alami.

“Ini menandakan kawasan TNBBBBR dalam keadaan baik,” kata Widodo, belum lama ini. Bayi orangutan itu merupakan anak ke-2 dari Laksmi yang dilahirkan di alam. Sebelumnya, Laksmi juga menyumbangkan generasi baru orangutan betina pada awal Oktober 2021 yang diberi nama Lusiana.

Dikatakan Widodo, kehadiran generasi baru orangutan ini menumbuhkan semangat dalam upaya konservasi serta menambah keyakinan bahwa populasi orangutan, khususnya di TNBBR dan di seluruh habitat orangutan Provinsi Kalbar akan terus terjaga dan bertambah.

“Kelahiran mereka menjadi sangat penting dan bersejarah karena menjadi kebanggaan atas keberhasilan program rehabilitasi orangutan di Indonesia,” kata Widodo.

Perkembangan ini merupakan salah satu parameter bahwa program konservasi orangutan yang dilaksanakan Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terselenggara dengan baik. Program tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pelepasliaran orangutan ke habitat alami yang dilakukan BKSDA Kalbar bersama Balai TNBBBR, dan didukung Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang.

Sementara itu, Kepala Balai TNBBBR, Andi Muhammad Kadhafi menyampaikan bahwa kawasan TNBBBR merupakan habitat yang cocok bagi orangutan.

“Hal ini dapat kita lihat dari individu-individu orangutan yang telah melewati proses rehabilitasi dan pelepasliaran, dapat menjadi individu yang kembali mempunyai kehidupan liar serta beradaptasi untuk bertahan hidup dan berkembang biak secara alami,” katanya.

Keberhasilan program penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran dan monitoring orangutan ini tidak hanya membuat Laksmi hidup bebas kembali dan berkembang biak di habitat alaminya. Hal itu juga menjadi wujud kesuksesan Kementerian LHK bersama para pihak dalam menjaga kelestarian spesies orangutan di Indonesia pada umumnya.

Populasi Orangutan

Dikutip dari situs ksdae.menlkh.go.id, berdasarkan hasil analisis Population and  Habitat Viability Analysis (PHVA) Orangutan 2016, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimantan, Sabah dan Sarawak) di habitat seluas 18.169.200 hektare.

Untuk orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), populasinya diperkirakan mencapai 57.350 individu di habitat seluas 16.013.600 hektare yang tersebar di 42 kantong populasi. Sebanyak 18 kantong populasi di antaranya diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun ke depan.

Kondisi ini memperbaharui fakta 10 tahun lalu yang menyebutkan bahwa populasi orangutan diprediksi 54.817 individu, di habitat seluas 8.195.000 hektare.  Jika membandingkan kepadatan populasi, terjadi kecenderungan penurunan dari 0.45-0.76 individu/Km2 menjadi 0.13-0.47 individu/Km2.

Data juga menunjukkan bahwa ada populasi orangutan borneo yang hidup di satu bentang alam yang menghubungkan habitatnya di wilayah Indonesia dan Malaysia, yaitu populasi dari sub-jenis Pongo pygmaeus pygmaeus di meta populasi Betung Kerihun dan Batang Ai-Lanjak Entimau, Taman Nasional Klingkang Range-Sintang Utara serta Taman Nasional Bungoh dan Hutan Lindung Penrisen.

Berdasarkan hasil analisis kelangsungan hidup populasi (Population Viability Analysis/PVA) orangutan Kalimantan, angka minimum populasi yang akan bertahan di dalam suatu habitat adalah 200 individu, untuk kemungkinan kepunahan kurang dari 1% dalam 100 tahun dan kurang dari 10% dalam 500 tahun, dan 500 individu orangutan untuk menjaga kualitas dan variasi genetika.

Jika ini digunakan sebagai rujukan, maka banyak meta populasi orangutan Kalimantan yang terfragmentasi memerlukan keterhubungan melalui koridor dengan metapopulasi lainnya.

Melihat kondisi populasi dua jenis orangutan tersebut menunjukkan bahwa ancaman kelestarian orangutan dan habitatnya meningkat akibat dari  konversi hutan menjadi fungsi lain, tingginya frekuensi aktivitas penyelamatan  (rescue) dan konfiskasi. (arf) Editor : Syahriani Siregar
#TNBBBR #laksmi #konservasi #bksda #pemantauan #orangutan