Mirza Ahmad Muin, Pontianak
RUMAH Adat Bugis Saoraja Aliri Mpero, Minggu (19/2) pagi sudah dipenuhi puluhan anak-anak yang mengenakan pakaian adat Bugis. Baju bodo (perempuan) dan baju jas tutu (laki-laki) dikenakan.
Pakaian adat Bugis yang dikenakan oleh para peserta anak-anak itu berwarna-warni. Mereka mengenakannya lengkap. Tak lupa wajah para peserta disolek. Menjadikan para laki-laki semakin tampan dan tentunya para peserta perempuan tak kalah cantik.
Umi Kalsum, salah satu peserta fashion show anak budaya Bugis sudah sejak pukul enam pagi mempersiapkan diri. Mengenakan baju bodo berwarna hijau, ia sangat senang.
Menurutnya, lomba fashion show mengenakan baju adat budaya Bugis menjadi pengalaman pertamanya. Dalam mempersiapkan lomba, ia sudah mempelajari sejak jauh hari.
Utamanya soal melatih kepercayaan diri saat tampil di depan umum. Apalagi di lokasi acara, begitu banyak pesertanya. Selain itu, ramai pula yang menonton lomba fashion show ini.
"Senang sekali bisa mengenakan baju bodo, baju adat Bugis," ujarnya.
Ketua Forum Komunikasi Orang Bugis Kalimantan Barat Ardiansyah menuturkan bagaimana animo peserta anak-anak untuk ikut serta dalam lomba fashion show pakaian budaya bugis sangat tinggi. Dari data panitia, ada 60 peserta terbagi 30 laki-laki dan 30 anak perempuan. Lomba ini diikuti anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Pontianak Barat.
Pantauan dia, para peserta juga tampil maksimal. Baginya, para peserta laki-laki terlihat sangat tampan. Begitu pula peserta perempuan, semuanya cantik.
Melihat animo pelajar SD yang tinggi untuk ikut serta dalam lomba fashion show, dia yakin, tentu berdampak positif terhadap perkembangan budaya Bugis khususnya di Kota Pontianak. Sebab dari anak-anak ini ke depan, menurut dia, akan menjadi penerus penjaga budaya dan adat istiadat Bugis agar tidak hilang ditelan zaman.
Diungkapkan Ardiansyah ada banyak rangkaian acara dikegiatan Festival Wisata Budaya Bugis. Selain fashion show anak, ada juga pertunjukan seni silat Bugis. Kemudian ada milad FKOB Pontianak Barat. Di malam harinya, mereka menyugugkan tundang mandre sepuluh.
"Kalau di melayu, makan saprahan bersama," ujarnya.
Ia berharap kegiatan yang diadakan FKOB Kalbar setiap tahunnya, bisa melahirkan potensi-potensi baru dalam memajukan budaya bugis. Seperti di Teluk Pakedai kemarin, terdapat permainan tanjidor dengan menampilkan musik dan bahasa Bugis. "Begitu juga di Pontianak harapan saya sama. Ada sesuatu yang baru yang diangkat dari budaya Bugis," harap anggota DPRD Provinsi Kalbar itu.
Sebelumnya perhelatan serupa juga berlangsung di Desa Sungai Deras, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/2) malam. Lapangan Sepakbola Pasir Putih Desa Sungai Deras begitu ramai dipenuhi masyarakat setempat. Berkumpulnya mereka di sana guna menghadiri kegiatan Festival Wisata Budaya Bugis. Kebetulan di tahun ini, Desa Sungai Deras menjadi titik pertama dari sepuluh titik dari kegiatan tahunan yang digelar Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disporapar) Kalbar bekerja sama dengan Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB) Kalbar.
Banyak kegiatan budaya yang dirangkai dalam kegiatan tersebut. Tarian Bugis, seni budaya, permainan hadrah, tarian padendang, dan penampilan tarian Dayak ditampilkan. Di tengah gerusan budaya yang kian lama kian terkikis, dalam pelaksanaan Festival Wisata Budaya Bugis ini menjadi pencerah untuk mengenalkan kembali adat dan budaya Bugis, khususnya pada para generasi muda. Hasil yang ingin dicapai, tentunya budaya-budaya ini bisa dipertahankan oleh para generasi selanjutnya.
Wakil Ketua Bidang Sayap DPP Forum Komunikasi Orang Bugis Kalbar, Surhaini, menuturkan, ada banyak rangkaian kegiatan Festival Wisata Budaya Bugis tahun ini.
“Ada pencak silat Bugis, makanan Bugis, kemudian seni budaya yang bersifat keagamaan, seperti hadrah, dan tar kita angkat. Ada yang unik di tahun ini, kita juga tampilkan permainan tanjidor,” ujar Surhaini.
Dalam upaya mempertahankan kebudayaan dan tradisi, agar tetap terjaga, kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara buat mereka mempertahankannya. Ia pun berharap, apa yang dilihat para generasi muda, dari semua rangkaian kegiatan bisa dilanjutkan. Sehingga, harapan dia, apa yang sudah dijaga oleh nenek moyang terdahulu, dapat terus terjaga.
Sebagai pengurus FKOB Kalbar, ia beserta rekan-rekannya di kepengurusan memang konsisten dalam melestarikan budaya Bugis. Pada kegiatan ini, ia juga mengapresiasi masyarakat di Desa Sungai Deras yang antusias mengikuti semua rangkaian hingga di penghujung acara.
“Harapan saya para generasi muda bisa ikut serta dalam menjaga adat istiadat budaya ini,” ujarnya. (*) Editor : Syahriani Siregar