Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Suasana Masjid An Nur di Lantai 2 Pasar Tengah

Misbahul Munir S • Minggu, 16 April 2023 | 12:15 WIB
NARSUM: Wako Edi Rusdi Kamtono ketika menjadi pembicara dalam Webinar yang digelar AJI Pontianak dan Lembaga Gemawan, Jumat (10/7) lalu. PAGE FACEBOOK DISKOMINFO KOTA PONTIANAK
NARSUM: Wako Edi Rusdi Kamtono ketika menjadi pembicara dalam Webinar yang digelar AJI Pontianak dan Lembaga Gemawan, Jumat (10/7) lalu. PAGE FACEBOOK DISKOMINFO KOTA PONTIANAK
Karena di Tengah Pasar, Selalu Ramai saat Zuhur dan Ashar

Masjid An Nur berada di blog Cimandiri Lantai 2, Jalan Asahan, Kelurahan Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota. Selalu ramai di kala salat zuhur dan ashar karena berada persis di tengah-tengah Pasar Tengah. Pusat perbelanjaan masyarakat di Kota Pontianak.

RAMSES TOBING, Pontianak

ADA dua warna yang dominan pada masjid ini. Kuning dan hijau. Tempat wudunya di bagian bawah.

Masjid terletak pas di depan mulut tangga. Lalu desain dan interior masjid terlihat kekinian. Tulisan kaligrafi mewarnai setiap sudut ruangan. Sejatinya ini adalah kios. Kemudian disulap menjadi tempat ibadah. Dua kios, kemudian dijadikan satu. Sekat pemisahnya dibuka.

Masjid An Nur baru berdiri tiga tahun terakhir. Ini merupakan Ramadan ketiganya. Masjid ini berdiri saat pandemi Covid-19 melanda. Tepatnya di tahun 2020. Saat itu aktivitas ekonomi masyarakat nyaris saja lumpuh. Begitu juga di kawasan pasar tengah. Pandemi membuat masyarakat yang datang ke pasar untuk berbelanja ke pasar berkurang.

Pedagang yang di pasar pun bingung. Apalagi di kawasan tempat masjid itu berdiri adalah pedagang khusus barang-barang impor dari luar negeri. “Karena Covid-19 jadi tak bisa kerja. Jadi lebih banyak berdiam dan beribadah di mushola yang di pasar,” kata pengurus Masjid An Nur, Wayah Fahlavie (43).

Sebelum menjadi masjid, tempat salat ada di lantai dasar pasar. Kecil dengan ukuran 2x3 meter. Semakin lama semakin ramai lantaran pedagang lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah di saat pandemi Covid-19. Timbul keinginan dari jemaah untuk tempat yang lebih luas.

Pedagang pun meminta izin ke Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Pontianak untuk menggunakan lantai dua pasar. Tempatnya lebih luas dan akan dijadikan mushola.

“Jadi ada dua ruangan dan kami buka sekatnya sehingga lebih luas,” kata pria yang akrab disapa Bimbim ini.

Bimbim menyebutkan di hari pertama, jemaah berjumlah 15 orang. Melebihi dari kapasitas ruangan yang hanya bisa memuat 10 orang. Semakin hari semakin ramai. Melihat kondisi itu para pengurus pun berinisiatif, agar ruangan yang bisa digunakan untuk salat semakin luas. Lantaran sebulan kemudian jumlah jemaah mencapai 40 orang. Para jemaah pun akhir menumpang di depan kios untuk salat.

“Jadi ada kios, ketika waktu salat kami izin untuk menggeser barang dagangannya sebentar, selesai salat dikembalikan lagi ke posisi semula,” terang Bimbim.

Berselang 2 bulan kemudian para pengurus berkeinginan agar bisa digelar salat Jumat untuk pedagang maupun orang-orang yang ada di pasar. Gayung bersambut, keinginan itu disambut pemilik kios yang merelakan tempatnya untuk dijadikan masjid.

“Alhamdulillah dinas mengizinkan. Kami bersyukur karena diizinkan dari kios menjadi tempat ibadah,” kata Bimbim.

Setelah berubah menjadi masjid, peresmian dilakukan tepat tanggal 1 Januari tiga tahun lalu. Hadir saat peresmian itu Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan, Anggota DPRD Kalimantan Barat Arif Joni, Kepala Diskumdag Kota Pontianak saat itu, Haryadi, dan beberapa tokoh masyarakat serta tokoh agama lainnya.

Nama An Nur kemudian disematkan berawal dari nama majelis salat para pedagang. Majelis selawat ini sudah berjalan selama sepuluh tahun. “Jadi dipilih nama An Nur, sesuai dengan nama Majelis Selawat,” ujar Bimbim.

Bimbim mengatakan jemaah masjid ramai dikala salat zuhur dan ashar. Karena pasar akan ramai dikunjungi warga di siang hari. Saking ramai, saat salat Jumat, jemaah bisa sampai ke blok seberang masjid.

“Kalau isya, maghrib, dan subuh memang tak seramai saat zuhur dan ashar, tetapi aktivitas di masjid tetap berjalan. Bahkan ada PAUD untuk anak-anak pedagang di pasar. Saat Ramadan, tarawih juga digelar. Kami bahkan menggelar buka puasa bersama pedagang, yatim piatu dan dhuafa,” terang Bimbim.

Bimbim berharap masjid ini semakin ramai jemaahnya. Sebab keberadaan masjid ini memudahkan pengunjung maupun pedagang di pasar untuk menunaikan salat lima waktu. “Semoga segala aktivitas masyarakat di sini semakin diberkahi,” imbuh Bimbim.

Harapannya lainnya pada legalitas. Para pengurus berharap mendapatkan surat dari Pemerintah Kota Pontianak melalui dinas terkait bahwa masjid sudah sah secara yuridis.

“Secara yuridis belum dapat surat karena belum ada alih fungsi dari kios ke masjid,” pungkas Bimbim. (*) Editor : Misbahul Munir S
#pasar tengah #pusat perbelanjaan #kota pontianak #Masjid An Nur