Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Lihat Antusiasme Siswa Tunanetra Nimba Ilmu, Kemampuan Mereka adalah Anugerah

Syahriani Siregar • Kamis, 4 Mei 2023 | 17:37 WIB
SEMANGAT BELAJAR: Proses belajar mengajar di Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Arrahmah di Jalan Timor, Kota Baru, Pontianak. Meski dalam keterbatasan, murid-murid di sekolah itu memiliki semangat belajar. (Meidy Khadafi/Pontianak Post)
SEMANGAT BELAJAR: Proses belajar mengajar di Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Arrahmah di Jalan Timor, Kota Baru, Pontianak. Meski dalam keterbatasan, murid-murid di sekolah itu memiliki semangat belajar. (Meidy Khadafi/Pontianak Post)
“Kawan, walau mataku tidak berfungsi, namun aku punya cita-cita. Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi diriku sendiri dan orang lain..,” begitulah penggalan puisi yang dibawakan Rizkina dan Rizkita, murid Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Arrahmah Pontianak.

Arief Nugroho, Pontianak

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momentum anak bangsa untuk memperoleh hak pendidikan dengan layak, tak terkecuali bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus yang bersekolah di Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Arrahmah Pontianak Filial Sekolah Luar Biasa Negeri Rasau Jaya yang terletak di Jalan Timor, Kota Baru, Pontianak Selatan.

Meski dengan cara tak biasa, tapi mereka tetap semangat menimba ilmu. Rizkina dan Rizkita misalnya. Saudara kembar asal Tebas, Kabupaten Sambas itu begitu antusias mengikuti proses belajar mengajar yang diselenggarakan di sekolah luar biasa tersebut.

Siang itu, para murid belajar menulis di atas selembar kertas dengan metode braile. Tak seperti alat tulis pada umumnya, rangkaian huruf bukan ditulis dengan pensil atau ballpoint, tapi ditusuk berbentuk titik-titik dengan sebuah alat yang disebut riglet dan stylus.

Setelah itu, para murid pun diminta untuk membacanya. Dengan meraba titik-titik menggunakan jari tangannya, mereka  mulai mengeja huruf demi huruf. Dalam “kegelapan”, mereka mampu membaca rangkaian kalimat tersebut.

Antusiasme para murid ini membuat guru yang mengajar pun merasa senang, haru, sekaligus bangga.  “Kemampuan mereka adalah sebuah anugerah,” kata Danillah Syafrol, salah satu guru di sekolah itu.

Siang itu, Danillah tampak serius mengajari para muridnya. Proses belajar mengajar yang dilaksanakan di sepetak ruang kelas itu berjalan tenang meski sesekali terdengar celetukan para murid. Dia bercerita, mengajar murid tunanetra susah-susah gampang. Kendati demikian, tak menyurutkan niatnya buat menularkan ilmu bagi anak-anak luar biasa tersebut. Katanya, mengajar mereka perlu hati yang tulus.

“Kuncinya, kita harus penuh kasih sayang. Penuh perhatian, jadi mereka merasa aman sehingga dia bisa mengembangkan kemampuan dirinya,” katanya.

Danillah salut dengan semangat belajar 27 murid di SLB sekaligus panti asuhan tersebut. Meski dikekang keterbatasan, tapi mereka mampu melampaui batas kemampuannya. Keinginan belajar yang kuat inilah yang memacu semangatnya untuk terus mengajar.

“Walau mereka tunanetra, tapi mereka punya keinginan, cita-cita yang sama dengan anak lainnya,” ujarnya.

Momentum Hardiknas ini pun dimaknainya dengan memacu semangat anak-anak tersebut untuk terus mengenyam pendidikan yang tak terbatas. “Jadi, kami memaknai Hardiknas ini dengan membangkitkan kembali semangat mereka,” ujarnya.

Menurut Danillah, pendidikan bagi anak luar biasa sekarang sudah jauh lebih baik ketimbang zaman dahulu. Saat ini, pemerintah telah memberikan perhatian serius terhadap sektor pendidikan, khususnya Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kurikulum memang sama dengan sekolah biasa. Hanya memang berbeda cara belajar. Bukannya dulu tak diperhatikan, hanya sekarang jauh lebih baik perhatiannya,” jelas dia.

Danillah dan sang suami, Ade Supradi sudah puluhan tahun menjadi pengawal pendidikan anak-anak luar biasa di Kalimantan Barat. Kiprahnya bermula saat tahun 1985. Saat ini dia sudah terhubung langsung dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya.

Sementara itu, Ketua  Yayasan Panti Asuhan Ar Rahmah, Tuah Rifki Perkasa dan Yuyun Tri Suryani menceritakan panti asuhannya tersebut merupakan warisan yang diturunkan oleh orang tuanya. Dia menjadi generasi kedua yang mengurus panti asuhan tersebut.

“Warisan orang tua dulu yang memang mewakafkan bangunan ini menjadi panti asuhan untuk anak-anak tunanetra. Bangun yayasan sekitar 2012,” katanya.

Di sini, anak-anak tak hanya diajarkan pendidikan formal, tapi juga diberikan pendidikan agama yang cukup baik. Beberapa di antara mereka bahkan mampu menorehkan prestasi di bidang keagamaan.

“Amanah yang berkelanjutan sehingga yang tak bisa mengenal Alquran, karena bermasalah di mata jadi bisa mengenal Alquran. Kami mengarahkan semua menjadi penghafal Alquran,” paparnya.

Tuah dan Yuyun berharap apa yang dibangun oleh keluarganya ini bisa membawa kebaikan bagi banyak orang. Sekaligus sebagai ladang amal dan ilmu yang bermanfaat bagi anak-anak penyandang disabilitas tersebut. (**) Editor : Syahriani Siregar
#nimba ilmu #anugerah #tunanetra